GURU,FILM,DAN
PENGUATAN KARAKTER
Oleh
: Dimasmul Prajekan*
Kegiatan nonton bareng film
berjudul Ayu Anak Titipan Surga di gedung bioskop cyneplex Bondowoso bersama
keluarga besar pendidikan beberapa waktu silam, bagai menjadi energi terbarukan
dalam menyuntikkan nilai -nilai luhur yang mulai hilang. Selama ini kita
seperti kehilangan formula ampuh dalam membentengi masuknya nilai - nilai luar
yang cenderung barbar dan liar. Kita hanya geleng –geleng kepala dengan pergeseran
budaya dan gaya hidup yang begitu cepat dan masif masuk ke tengah –tengah
kehidupan kita. Pemikiran baru mengalir ke ruang keluarga, bahkan ke kamar
tidur melalui android yang ada dalam genggaman. Peristiwa negatif dan nyinyir dalam
hitungan detik akan menjadi viral, terkirim ke sekian ribu gawai -gawai cantik
yang mendunia.
Bagi yang sudah
berkepala lima, menonton film melalui layar lebar, pasti mengingatkan kembali
pada masa - masa remajanya. Sekitar tiga dasawarsa silam, dunia perfilman
Indonesia menemukan zaman keemasannya. Produksi film bagai banjir bandang tak
terbendung. Setiap saat senantiasa hadir news
realese karya film terbaru. Kegiatan apresiasi seputar perfilman secara
rutin hadir setiap tahun. Festival Film Indonesia menjadi kebanggan dan
tontonan menarik. Dari yang bertema roman picisan, horor, pendidikan, hingga
kisah kepahlawanan menjadi hiburan yang tak bisa ditinggalkan. Setelah itu
lambat laun bumi perfilman Indonesia meranggas, kering dari karya yang
masterpiece. Dunia film kita perlahan menuju titik keruntuhannya.
Film sebagai media
bergengsi kalah telak bertarung dengan media baru yang bernama televisi. Tiba
–tiba layar kaca itu dalam hitungan waktu seperti zat adiktif, mampu menyulap
keadaan, menghipnotis masyarakat untuk betah berjam - jam didepannya. Media
televisi tak lagi boros berurusan dengan tiket masuk, dan pembatasan sekat
usia. Televisi terus bergerak liberal, punya kebebasan tanpa batas. Lain halnya
dengan film, perlu kocek agak tebal dan ketatnya sensor usia untuk 17 tahun ke
atas.
Tapi zaman kembali mengalami
perputarannya. Ia punya kecenderungannya sendiri. Tiba - tiba orang mulai jengah
menonton acara televisi. Menonton sebuah tayangan dalam ukuran inci, dianggap
belum memuaskannya. Banyak orang ingin merefresh dirinya dengan menikmati
tontonan layar lebar. Pemicunya bisa jadi karena mulai mewabahnya nobar sepak
bola dunia atau motor GP yg terus berkibar. Bahkan menonton quict count saat pilpres kemarin, layar
tancap mulai menggejala di mulut – mulut gang. Asyiknya nonton bareng lewat
layar lebar. Dalam sesaat masyarakat merasa boring total dengan si kotak ajaib
itu.
Tiba –tiba ada semangat
baru dalam memanfaatkan media film layar lebar. Selain memiliki sisi
entertaint, sebuah film bisa saja memiliki pesan moral, edukasi, alat kampanye
, bahkan sebagai alat penguatan karakter. Film sebagai media audiovisual bisa
menjelaskan pesan - pesan khusus kepada masyarakat. Di saat masyarakat dikepung
oleh prilaku machevalistik, hedonis, hilangnya nilai - nilai positif, gemar membebek
kepada budaya barat, film berfungsi sebagai mesin cuci pemikiran manusia dalam mengembalikan
pada keIndonesiaan kita. Mengapa demikian ? Sebab banyak mission sacrey tak terlihat ditempelkan melalui film. Mulai dari
kampanye yang terselubung, hingga propaganda vulgar yang terang terangan
mengajak kepada sebuah ideologi. Betapa film Rambo mampu menggeser fakta dengan
opini, tentang kemenangan Vietnam melawan Amerika dalam perang Vietnam. Setelah
menonton film Rambo, masyarakat akan berkesimpulan, Sang Rambo adalah dewa
penyelamat bagi kemenangan Amerika.
Disinilah strategisnya
memanfaatkan film sebagai sarana untuk menyuntikkan nilai -nilai luhur 'pure'
Indonesia. Hilangnya kearifan lokal dan munculnya kekerasan, teror, narkoba,
menjadikan kita semakin jauh dari jati diri keindonesiaan. Pendidikan karakter sebuah bangsa mengalami
degradasi. Adanya trend prilaku yang latah menduplikasi kebiasaan - kebiasan
yang berasal dari negeri seberang, menjadikan kita kehilangan kendali untuk
mengembalikan jati diri. Kemoderenan telah dipersepsi harus mengimport segala
sesuatu yang serba barat.
Guru pada satu sisi
dituntut untuk mengedepankan pendidikan karakter, mengelaborasi pendekatan
Sekolah Ramah Anak, sayangnya pada saat bersamaan suasana masih babak belurnya tentang
gagalnya Sekolah Anak Ramah. Fenomen
siswa bertindak sewenang –wenang kepada guru, mengindikasikan konsep pendidikan
Indonesia ada yang perlu direvisi.
Pendidikan Indonesia
saat ini tak lagi sekadar tatap muka
atau berisi sajian transformasi keilmuan dari guru ke siswa. Apalagi hanya
berisi pengetahuan an sich. Pendidikan masa kini dan masa depan akan terus mengalami disruption, dengan memasukkan elemen - elemen teknologi sebagai
suplemen pembelajaran. Film sebagai salah satunya, akan menjadi media
pembelajaran yang menarik untuk menyampaikan pesan - pesan karakter
keindonesiaan. Bangunan karakter seperti relegius, cinta tanah air, jujur
,tanggung jawab, rela berkorban, akan lebih mudah diterima oleh pikiran anak -
anak, tanpa ada indoktrinasi. Tontonan melalui film berkarakter, akan mudah
masuk ke otak anak tanpa dipaksa - paksa.
Menonton film berjudul
Ayu Anak Titipan Surga yang sarat dengan penguatan karakter sangat ampuh
mempengaruhi psikhologi penonton untuk larut dalam suasana yang dibangun dalam
cerita. Disanalah misi suci seorang penulis cerita memiliki ruang yang cukup
luas untuk membangun opini, mencantolkan keyakinan, dan menanamkan ideologi
bangsa.
Kehadiran karya dengan
muatan karakter, mengisi lahan kosong yang ditinggalkan oleh para sineas kita.
Trend bioskop masa kini yang masih
berputar - putar di area hiburan masih lebih membidik sisi tontonan semata.
Kehadiran film Indinesia pada saatnya harus diimbangi dengan menyelipkan tema
–tema pembangunan karakter ( akhlaqul karimah ). Inilah pekerjaan rumah bagi
penulis cerita agar bisa melahirkan karya -
karya yang lebih mengedukasi, film yang memiliki efek pengganda, sebagai
tontonan sekaligus tuntunan.
Harapan luhur
pemerintah untuk melihat percepatan dalam penguatan karakter yang lebih membumi
sebagai ikhtiar positif patut
diapresiasi. Kegelisahan para guru dan
orang tua lantaran maraknya budaya impor yg meretas budaya lokal bisa
secepatnya ditangkis dengan counter culture. Kalau tidak, kehidupan kita
akan diamuk oleh tsunami budaya dan prilaku yg serba membarat. Dalam hal ini tugas suci kita menggelitik
orang - orang film untuk terus memproduksi tema - tema yang mendidik. Dengan
harapan, nantinya film - film berkarakter itu
akan membanjiri ruang - ruang kelas kita. Film – film berkarakter akan
menyesaki otak –otak anak –anak kita. Pendidikan abad 21, setidaknya menjadikan kelas belajar yang ada sebagai gedung
bioskop pendidikan karakter. Kendati demikian, film adalah film sebagai
sepotong alat untuk memudahkan peran para guru. Bagaimanapun hebatnya sebuah
film, pada akhirnya peran guru tak mungkin tergantikan. Sebab Sang gurulah
pembangun karakter sejati dan pembangkit peradaban. Ketika Sang Guru diam,
karakter bangsa akan hilang, peradaban akan tenggelam.
* Praktisi Pendidikan dan Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar