JAS BIRU
( Jangan Sekali - sekali Bingungkan Guru)
Oleh: Dimasmul Prajekan*
Guru
senantiasa jadi eksperimen? Bisa benar bisa tidak. Persoalan yang
terjadi saat ini bukan pemerintah miskin gagasan. Justru sebaiknya.
Terlalu tumpang tindihnya gagasan dalam rangka mengembangkan
profesionalitas para guru. Sejuta wacana yang dilemparkan seringkali
paradoksal dengan yang lainnya.
Tergopoh-gopohnya pemerintah
dalam pemberlakuan sebuah desain kurikulum, misalnya, telah berbuntut
panjang yang tak berkesudahan. Dari persoalan bongkar pasang mata
pelajaran, penilaian, hingga manajement buku yang amburadul. Guru
seringkali menjadi korban kebijakan setengah hati. Sekitar 4 tahun silam
persoalan terbesar K13 adalah pengadaan dan pendistribusian buku guru
dan siswa. Hingga saat inipun, permasalahan belum mengering. Lihat saja
fakta di lapangan, hingga semester berjalan, buku pegangan guru dan
siswa tak juga didapat. Bahkan wacana perubahan kurikulum, telah membuat
dagdigdug para guru.Lontaran Kurikulum Nasional yang bagaimana lagi?
Belum
lagi persoalan Kekurangan guru yang tak direspon secara sungguh -
sungguh.Tahun 2018 menurut data real akan terjadi eksodus para guru
menuju dunia 'purna bakti'. Sebab pada tahun ini, di jenjang pendidikan
dasar merupakan tahun - tahun pensiun dari program Guru Inpres pada
dasarnya Warsa 70 dan 80an, yang dicanangkan pemerintah orba saat itu.
Ironisnya,
kendati data sudah disuguhkan PGRI tentang kekurangan guru, realitanya,
pemegang kebijakan masih terlalu hati - hati menyikapi tuntutan PGRI.
Padahal, persoalan Kekurangan guru akan berdampak serius terhadap
kualitas pendidikan.
Bagaimana mungkin pendidikan ini disebut
berkualitas, jika kelas - kelas mulai sepi tanpa guru. GTT ? Mereka juga
tidak tinggal diam, berjibaku dengan peran ganda sebagai Operator
sekolah. Di sekolah pelosok tak ada tenaga administrasi, bahkan harus
merangkap sebagai petugas dan pelayan di Perpustakaan sekolah. Itupun
kadang harus bernasib tragis, karena tak memenuhi 24 jam perminggu harus
pasrah tidak dapat tunjangan.
Yang berstatus 'guru negeri' pun
kadang digoda dengan beragam isu dan regulasi yang tak pro guru. Mulai
dari diberlakukannya pasing grade 80, bagi calon penerima TPP, keahlian
ganda, hingga persoalan absensi 3 hari yang berujung pada penyunatan
TPP.
Pembelaan PGRI terhadap para kader dan anggota, bukan
berarti dimaknai sebagai anti kemajuan dan anti perubahan. Tidak. PGRI
sebagai kekuatan garda depan dalam pendidikan, memiliki tanggung jawab
yang tidak ringan untuk mengeksplorasi kemampuan para guru untuk berada
pada zona profesional yang sebenarnya. Tentu hal ini tidak instan.Tak
seperti mimpi Roro Jonggrang menuntut dibuatkan 1000 candi dalam
semalam.
Profesionalitas adalah proses. Betapa banyak kader telah
berlatih menulis, menuangkan gagasan seputar pengembangan profesinya. Di
daerah - daerah telah banyak bertebaran media yang mewadahi para guru
untuk berekspresi. Tentu hal ini berkaitan dengan waktu. Ada yang
belajar dan langsung bisa lari,ada yang berlatih dan masih tertatih -
tatih. Semua telah berupaya untuk menyesuaikan dengan himpitan zaman.
Yang perlu dimaklumi adalah saat masih muda dan belia tak sempat
mengalami pembiasaan melakukan penelitian, menulis di koran, lantas
dihadapkan pada regulasi yang memaksanya harus berbuat. Tentu perlu
waktu, perlu beradaptasi dengan suasana baru.Hal ini akan sangat berbeda
dengan guru milenial yang langsung berhadapan dengan pembiasaan dan
pembudayaan presentasi ilmiah. Disinilah perlu kesabaran para pengambil
kebijakan.
Kegundahan para guru ditambah dengan lahirnya PP
19/2017. Pasal - pasal yang debatable tentang pemenuhan jam mengajar
tetap menjadi duri dalam daging. Ayat yang berkenaan dengan rasio siswa
tetap mengusik ketenangan para guru, khususnya di pucuk gunung yang
rerata siswanya tiap kelas dibawa angka 10 anak. Hal ini bukan berarti
ketidakmampuan sekolah sebagai magnet untuk menarik siswa, akan tetapi
keberhasilan Program Keluarga Berencana dengan 2 Anak Cukup telah mampu
meminimalisasi jumlah kelahiran.
Adilkah jika keberhasilan KB, lantas ditimpakan sebagai kegagalan seorang guru?
Sebagai
kekuatan moral, PGRI akan tetap mampu meyakinkan para pengambil
keputusan agar lebih melihat suasana yang lebih merakyat.
Semoga di
arena Kongkernas Batam tanggal 1 - 4 Februari 2018 sedikit demi
sedikit, tak ada statement pemerintah yang membuat bingung para guru.
JAS BIRU !
*Sekretaris PGRI Kab.Bondowoso
Langganan:
Komentar (Atom)
Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...
-
MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Dimasmul Prajekan "Kami mau berubah, Pak Menteri", kata Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rasyidi,M.Pd, di ...
-
PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN oleh.Dimasmul Prajekan Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso Masih ingatkah kita, ketika kaum guru l...
-
KUALITAS KEMATIAN Oleh.Dimasmul Prajekan Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar