Oleh : Dimasmul Prajekan*
Sekolah Adiwiyata tak identik dengan sekolah mewah dan mahal. Justru sebaliknya, sekolah adiwiyata ingin menghancurkan pameo itu. Adiwiyata adalah sebuah keadaan yang ingin mendemonstrasikan segenap kemampuan tanpa embel - embel mahal dan mewah. Kehadirannya lebih menekankan pada pembiasaan, pembudayaan, membangun prilaku hidup positif sebagai upaya menghadirkan budaya, peduli, dan cinta lingkungan.
Adiwiyata yang bermakna tempat belajar yang baik dan nyaman diartikulasikan
dari beragam aspek positif. Dari kebiasaan hidup bersih tanpa sampah, bebas
asap rokok, ketersediaan oksigen yang cukup, menghijaukan sekolah, sumur resapan,
dan adanya biopori yang memadai. Pada saat itulah adiwiyata akan menstimulasi guru,
menitipkan pesan moral cinta lingkungan dalam pembelajaran, menjadikan
lingkungan sekolah sebagai pusat belajar dan laboratorium penelitian bagi guru
dan siswa. Alam takambang jadi guru.
Sebagai sebuah pembiasaan yang jauh dari kesan verbalistik,
seluruh warga sekolah akan terlibat langsung tentang implementasi pendidikan
karakter sebenarnya. Sekolah sebagai pusat ilmu, pusat kebudayaan, yang
diajarkan guru tak menjadi asing dalam otak anak. Pembelajaran lebih kontektual,
sebab media pembelajaran di dapat tak jauh dari lingkungan sekolah. Dalam hal ini, maka peran Kepala Sekolah dan guru menjadi ujung tombak keberhasilan
pelaksanaan adiwiyata. Kebijakan dan regulasi yang disepakati bersama akan
diuji oleh komitment dan kesetiaan untuk melaksanakannya bersama – sama seluruh
warga sekolah. Disinilah faktor keteladanan dari Kepala Sekolah dan Guru akan
menjadi magnet dan penentu keberhasilan program adiwiyata.
Sekolah Adiwiyata menjadi miniatur keteladanan dalam prilaku
hidup positif. Sekolah akan menjadi pelopor gerakan hidup bersih dan sehat. Kawasan
Tanpa Rokok ( KTR), makanan terbebas dari 5 P ( Pengawet, Pengenyal, Pemanis
buatan, Pewarna, Penyedap), dan kebiasaan buang sampah pada tempatnya, menjadi
progam unggulan yang cukup urgen untuk dilaksanakan.
Pada sisi lain, Sekolah Adiwiyata mendidik warga sekolah
untuk hidup hemat. Hemat air, listrik, dan hemat energi lainnya. Dengan
persediaan oksigen yang cukup tanpa harus menggunakan AC, berarti sekolah telah
banyak melakukan penghematan anggaran dalam penggunaan energi listrik. Dengan
pencahayaan yang cukup, sekolah tak perlu boros menyalakan listrik sepanjang
hari. Tanpa makanan yang mengandung 5 P, anak - anak akan sehat terbebas dari
penyakit. Dengan menjual makanan yang sehat dan penganan tradisional,
menunjukkan bahwa sekolah mengajarkan cinta budaya karya warisan nenek moyang
kita.
Pada tataran yang lebih luas, Sekolah Adiwiyata diharapkan
mampu menunjukkan kerjasama dan kemitraan dengan berbagai lembaga yang ada di
sekitar sekolah. Wabil khusus, sekolah mampu mengeksplorasi kemampuan masyarakat
dan orang tua siswa, untuk menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sekolah.
Orang tua yang tergabung dalam sebuah komite sekolah memiliki potensi dashyat
untuk turut mengembangkan sekolah. Orang tua yang memiliki kemampuan heterogen
menjadi modal awal yang akan semakin menghidupkan' denyut nadi' sekolah sebagai
lembaga yang dibanggakan. Orang tua akan ringan tangan penjadi penerjemah
program dalam mengakselerasi cita – cita luhur sekolah sebagai pusat belajar yang aman dan
nyaman. Orang tua dan masyarakat akan sangat senang dapat mengekpresikan
segenap kemampuannya untuk turut memajukan sekolah. Jika kepala sekolah mampu
mengkapitalisasi peran orang tua dan masyarakat akan melahirkan efek pengganda
bagi sekolah, mempercepat pertumbuhan tingkat kepercayaan masyarakat pada
sekolah, sekaligus sekolah menjadi contoh perubahan yang nyata dalam
keseharian.
Sekolah Adiwiyata telah
menjadi sebuah brand image , citra
merek yang tertanam di benak masyarakat dan para pengguna jasa pendidikan. Brand image itu merupakan representasi dari keseluruhan persepsi
terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap
merek itu. Citra terhadap sekolah berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan
dan preferensi terhadap suatu merek. Masyarakat dan orang
tua yang memiliki citra yang
positif terhadap sebuah sekolah, akan lebih memungkinkan untuk memberi
kepercayaan pada sekolah dan memilihnya.
Dampak positif dari citra merek pada akhirnya
orang tua lebih utuh memberikan kepercayaan pada sekolah, sebab
dibenaknya telah tertanam, sekolah ditempat anak - anak dititipkan, yakin akan
berlangsung dengan kondusif dan konstruktif. Mungkin tak dibayangkan, jika lima
jam belajar di sekolah dengan kondisi belajar yang nyaman, pembelajaran akan
terasa singkat dan cepat. Lain halnya jika suasana sekolah kurang kondusif,
tidak ramah anak dan tidak ramah lingkungan, pembelajaran akan berlangsung
membosankan. Anak –anak tak merasa betah lagi di sekolah.
Disinilah perlu partisipasi masyarakat dan orang tua. Peran
kontributif masyarakat dan orang tua siswa bukan harus dimaknai dengan
memberikan sumbangan berupa uang. Kontribusi masyarakat dan orang tua terhadap
sekolah lebih dari itu. Dalam Permendikbud Nomor 75/2006 disebutkan bahwa
masyarakat diperkenankan memberikan sumbangan kepada sekolah. Dalam hal ini,
orang tua yang menjadi bagian dari masyarakat yang peduli dengan program
sekolah melalui komite sekolah menjadi pintu masuk untuk turut memajukan
sekolah. Spirit dari regulasi itu adalah lahirnya pemikiran – pemikiran yang
mencerahkan dalam membangun karakter anak dan ide –ide segar untuk meningkatkan
prestasi anak, memberikan solusi berarti di saat sekolah menghadapi kendala, lebih
mahal dibanding hanya sebatas memberi sumbangan uang.
Peran masyarakat dan orang tua yang tergabung dalam kepengurusan
komite sekolah dan paguyuban kelas memiliki makna yang strategis untuk turut
mendorong keberadaan sekolah sesuai harapan dan keinginan masyarakat. Disinilah
pentingnya sekolah untuk mengakomudasi, memberi ruang berkiprah bagi para tokoh
yang peduli pendidikan bergabung dalam komite sekolah. Dengan tercukupinya
dukungan dari masyarakat, berarti sekolah akan benar – benar mengakar kuat di
hati masyarakat. Sekolah benar –benar mendapat dukungan positif dari seluruh
elemen yang ada di sekitar sekolah.
Penguatan Pendidikan Karakter ( PPK ) yang digagas Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Muhajir Efendi, dalam praktiknya belum
berjalan secara mulus. Selain belum adanya formula yang tepat tentang implementasi
di lapangan, kita masih terperangkap pada diskusi panjang tentang lima atau
enam hari sekolah. Lebih –lebih secara kultur keagamaan, kegiatan sore hari
anak – anak kita dihabiskan dalam lingkungan Madrasah Diniyah dan Taman
Pendidikan Al Quran. Dalam setuasi kekosongan mendesain Penguatan Pendidikan
Karakter yang tekstual dan kontekstual, maka format sekolah adiwiyata bisa
menjadi salah satu solusi yang bisa digunakan.
Dalam Sekolah Adiwiyata, kebiasaan - kebiasaan hidup positif
yang terbangun sekian lama dengan sendirinya membentuk sebuah karakter dan
kepribadian. Karakter relejius, tanggung jawab, cinta lingkungan, jujur,
disiplin, cinta budaya, nasionalisme, yang mulai terbangun sejak kelas 1 di
bangku Sekolah Dasar, akan terpatri kuat
dalam pribadi anak yang akan diteruskan di jenjang pendidikan lanjutan. Oleh
sebab itu, idealnya, sekolah adiwiyata harus berkesinambungan dari SD, SMP, SMA,
PT, bahkan dimasyarakat jika perlu ada kampung atau desa adiwiyata. Bahkan bisa
jadi ada kabupaten adiwiyata, propinsi adiwiyata dan negara adiwiyata. Sebuah mimpi
indah untuk mewujudkannya. Tapi kata orang, bermimpilah, sebab mimpi adalah
separuh dari kenyataan. Inilah sebenarnya pesan terindah dari pemerintah saat
ini tentang revolusi mental. Kalau Sekolah Adiwiyata sudah berhasil membangun
karakter kenapa tidak ?
*Kepala
SDN Prajekan Lor 1 Bondowoso, Sekolah Adiwiyata Propinsi Jatim Tahun 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar