Selasa, 06 Agustus 2019

ADIWIYATA DAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER



Oleh : Dimasmul Prajekan*


       Sekolah Adiwiyata tak identik dengan sekolah mewah dan mahal. Justru sebaliknya, sekolah adiwiyata ingin menghancurkan pameo itu. Adiwiyata adalah sebuah keadaan yang ingin   mendemonstrasikan segenap kemampuan tanpa embel - embel mahal dan mewah. Kehadirannya lebih menekankan pada pembiasaan, pembudayaan, membangun prilaku hidup positif sebagai upaya menghadirkan budaya, peduli, dan cinta lingkungan.
Adiwiyata yang bermakna tempat belajar yang baik dan nyaman diartikulasikan dari beragam aspek positif. Dari kebiasaan hidup bersih tanpa sampah, bebas asap rokok, ketersediaan oksigen yang cukup, menghijaukan sekolah, sumur resapan, dan adanya biopori yang memadai. Pada saat itulah adiwiyata akan menstimulasi guru, menitipkan pesan moral cinta lingkungan dalam pembelajaran, menjadikan lingkungan sekolah sebagai pusat belajar dan laboratorium penelitian bagi guru dan siswa. Alam takambang jadi guru.
Sebagai sebuah pembiasaan yang jauh dari kesan verbalistik, seluruh warga sekolah akan terlibat langsung tentang implementasi pendidikan karakter sebenarnya. Sekolah sebagai pusat ilmu, pusat kebudayaan, yang diajarkan guru tak menjadi asing dalam otak anak. Pembelajaran lebih kontektual, sebab media pembelajaran di dapat tak jauh dari lingkungan sekolah. Dalam  hal ini, maka peran Kepala Sekolah dan  guru menjadi ujung tombak keberhasilan pelaksanaan adiwiyata. Kebijakan dan regulasi yang disepakati bersama akan diuji oleh komitment dan kesetiaan untuk melaksanakannya bersama – sama seluruh warga sekolah. Disinilah faktor keteladanan dari Kepala Sekolah dan Guru akan menjadi magnet dan penentu keberhasilan program adiwiyata.
Sekolah Adiwiyata menjadi miniatur keteladanan dalam prilaku hidup positif. Sekolah akan menjadi pelopor gerakan hidup bersih dan sehat. Kawasan Tanpa Rokok ( KTR), makanan terbebas dari 5 P ( Pengawet, Pengenyal, Pemanis buatan, Pewarna, Penyedap), dan kebiasaan buang sampah pada tempatnya, menjadi progam unggulan yang cukup urgen untuk dilaksanakan.
Pada sisi lain, Sekolah Adiwiyata mendidik warga sekolah untuk hidup hemat. Hemat air, listrik, dan hemat energi lainnya. Dengan persediaan oksigen yang cukup tanpa harus menggunakan AC, berarti sekolah telah banyak melakukan penghematan anggaran dalam penggunaan energi listrik. Dengan pencahayaan yang cukup, sekolah tak perlu boros menyalakan listrik sepanjang hari. Tanpa makanan yang mengandung 5 P, anak - anak akan sehat terbebas dari penyakit. Dengan menjual makanan yang sehat dan penganan tradisional, menunjukkan bahwa sekolah mengajarkan cinta budaya karya warisan nenek moyang kita.
Pada tataran yang lebih luas, Sekolah Adiwiyata diharapkan mampu menunjukkan kerjasama dan kemitraan dengan berbagai lembaga yang ada di sekitar sekolah. Wabil khusus, sekolah mampu mengeksplorasi kemampuan masyarakat dan orang tua siswa, untuk menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sekolah. Orang tua yang tergabung dalam sebuah komite sekolah memiliki potensi dashyat untuk turut mengembangkan sekolah. Orang tua yang memiliki kemampuan heterogen menjadi modal awal yang akan semakin menghidupkan' denyut nadi' sekolah sebagai lembaga yang dibanggakan. Orang tua akan ringan tangan penjadi penerjemah program dalam mengakselerasi cita – cita luhur  sekolah sebagai pusat belajar yang aman dan nyaman. Orang tua dan masyarakat akan sangat senang dapat mengekpresikan segenap kemampuannya untuk turut memajukan sekolah. Jika kepala sekolah mampu mengkapitalisasi peran orang tua dan masyarakat akan melahirkan efek pengganda bagi sekolah, mempercepat pertumbuhan tingkat kepercayaan masyarakat pada sekolah, sekaligus sekolah menjadi contoh perubahan yang nyata dalam keseharian.
Sekolah Adiwiyata telah menjadi sebuah brand image , citra merek yang tertanam di benak masyarakat dan para pengguna jasa pendidikan.  Brand image itu merupakan representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Citra terhadap sekolah berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Masyarakat dan orang tua yang memiliki citra yang positif terhadap sebuah sekolah, akan lebih memungkinkan untuk memberi kepercayaan pada sekolah dan memilihnya.
Dampak positif dari citra merek  pada akhirnya  orang tua lebih utuh memberikan kepercayaan pada sekolah, sebab dibenaknya telah tertanam, sekolah ditempat anak - anak dititipkan, yakin akan berlangsung dengan kondusif dan konstruktif. Mungkin tak dibayangkan, jika lima jam belajar di sekolah dengan kondisi belajar yang nyaman, pembelajaran akan terasa singkat dan cepat. Lain halnya jika suasana sekolah kurang kondusif, tidak ramah anak dan tidak ramah lingkungan, pembelajaran akan berlangsung membosankan. Anak –anak tak merasa betah lagi di sekolah.
Disinilah perlu partisipasi masyarakat dan orang tua. Peran kontributif masyarakat dan orang tua siswa bukan harus dimaknai dengan memberikan sumbangan berupa uang. Kontribusi masyarakat dan orang tua terhadap sekolah lebih dari itu. Dalam Permendikbud Nomor 75/2006 disebutkan bahwa masyarakat diperkenankan memberikan sumbangan kepada sekolah. Dalam hal ini, orang tua yang menjadi bagian dari masyarakat yang peduli dengan program sekolah melalui komite sekolah menjadi pintu masuk untuk turut memajukan sekolah. Spirit dari regulasi itu adalah lahirnya pemikiran – pemikiran yang mencerahkan dalam membangun karakter anak dan ide –ide segar untuk meningkatkan prestasi anak, memberikan solusi berarti di saat sekolah menghadapi kendala, lebih mahal dibanding hanya sebatas memberi sumbangan uang.
Peran masyarakat dan orang tua yang tergabung dalam kepengurusan komite sekolah dan paguyuban kelas memiliki makna yang strategis untuk turut mendorong keberadaan sekolah sesuai harapan dan keinginan masyarakat. Disinilah pentingnya sekolah untuk mengakomudasi, memberi ruang berkiprah bagi para tokoh yang peduli pendidikan bergabung dalam komite sekolah. Dengan tercukupinya dukungan dari masyarakat, berarti sekolah akan benar – benar mengakar kuat di hati masyarakat. Sekolah benar –benar mendapat dukungan positif dari seluruh elemen yang ada di sekitar sekolah.
Penguatan Pendidikan Karakter ( PPK ) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Muhajir Efendi, dalam praktiknya belum berjalan secara mulus. Selain belum adanya formula yang tepat tentang implementasi di lapangan, kita masih terperangkap pada diskusi panjang tentang lima atau enam hari sekolah. Lebih –lebih secara kultur keagamaan, kegiatan sore hari anak – anak kita dihabiskan dalam lingkungan Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan Al Quran. Dalam setuasi kekosongan mendesain Penguatan Pendidikan Karakter yang tekstual dan kontekstual, maka format sekolah adiwiyata bisa menjadi salah satu solusi yang bisa digunakan.
Dalam Sekolah Adiwiyata, kebiasaan - kebiasaan hidup positif yang terbangun sekian lama dengan sendirinya membentuk sebuah karakter dan kepribadian. Karakter relejius, tanggung jawab, cinta lingkungan, jujur, disiplin, cinta budaya, nasionalisme, yang mulai terbangun sejak kelas 1 di bangku Sekolah Dasar, akan terpatri  kuat dalam pribadi anak yang akan diteruskan di jenjang pendidikan lanjutan.  Oleh sebab itu, idealnya, sekolah adiwiyata harus berkesinambungan dari SD, SMP, SMA, PT, bahkan dimasyarakat jika perlu ada kampung atau desa adiwiyata. Bahkan bisa jadi ada kabupaten adiwiyata, propinsi adiwiyata dan negara adiwiyata. Sebuah mimpi indah untuk mewujudkannya. Tapi kata orang, bermimpilah, sebab mimpi adalah separuh dari kenyataan. Inilah sebenarnya pesan terindah dari pemerintah saat ini tentang revolusi mental. Kalau Sekolah Adiwiyata sudah berhasil membangun karakter kenapa tidak ?

*Kepala SDN Prajekan Lor 1 Bondowoso, Sekolah Adiwiyata Propinsi Jatim Tahun 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...