Jumat, 15 November 2019

ARTIKEL


HARAPAN GURU PADA MENDIKBUD BARU
Oleh : Dimasmul Prajekan*

Ketika nama Nadiem Makarim, disebut Presiden Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Muhajir Efendi,  alam bawah sadar masyarakat langsung tertuju pada sang pemilik Gojek. Salah seorang pengusaha bisnis online yang memiliki power talenta luar biasa, sukses dalam usia muda. Ada yang sumringah, ada yang kaget, dan ada yang bertanya - tanya. Bagaimana bisa, seorang menteri yang tidak memiliki rekam jejak dalam dunia pendidikan tiba – tiba menjadi pengendali Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Bagaimana menyambungkan antara bisnis dan pendidikan? Bagaimana menyantolkan antara Gojek dengan dunia karakter.
Sebagai seorang menteri, Bang Nadiem sedang berada pada benua konsep - konsep  besar. Bukan pada pada isu - isu murahan dan vulgar. Ia akan bermain pada wilayah ide - ide dahsyat, maintream yang akan menerbangkan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih progresif. Ia diharapkan menjadi matahari perubahan yang akan menerangi alam pendidikan Indonesia. Sosok Nadiem terlanjur menjadi tumpuan atas semua maintenance pendidikan yang tengah berlangsung.. Pendidikan di era digital dan revolusi industri 4.0 menjadi dasar berkarya untuk membangun sumber daya manusia yang memiliki daya saing global.
Tugas berat bagi Nadiem adalah menyambungkan dunia digital pada satu sisi dan dunia karakter pada sisi lain. Kita boleh angkat topi akan keperkasaan Bang Nadiem menguasai jagat bisnis online, tapi ia belum bisa menjawab tentang urgensi dunia karakter dan revolusi mental sebagaimana menjadi branding Presiden Jokowi. Sebab Penguatan Pendidikan Karakter ( PPK ) itu sudah diperpreskan bernomor 87/2017.  
Maknanya pemerintah tidak mau kehilangan nilai - nilai lokal dan sakral dalam keakraban pergaulan global. Indonesia tetaplah Indonesia dengan coraknya yang khas, yang memiliki nilai – nilai karakter unggul seperti relejiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Jangan sampai para guru memproduksi ribuan orang pandai, tapi kecerdasan spiritualnya belum dipindai. Perlu diingat, mentalitas korup pada sebagian pengusaha yang menilap kekayaan negara dalam jumlah trilyunan rupiah merupakan hasil nyata dunia pendidikan kita selama ini.
Membangun manusia seutuhnya adalah membangun manusia Indonesia yang memiliki kemampuan mensinergikan era digital dan pendidikan karakter secara bersamaan. Kepribadian unggul dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 mencerminkan generasi yang  matang dalam kecerdasan spiritual, mumpuni dalam penguasaan ilmu, dan teknologi.
Tentu Presiden Jokowi memiliki kepentingan strategis dengan ditunjuknya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Dengan latar belakang sebagai pengusaha muda sukses, memberi pesan moral, bagaimana pendidikan Indonesia dalam waktu dekat mendapatkan berkah kemajuan yang lebih melesat. Ada lompatan besar dari kondisi pendidikan yang tertatih - tatih saat ini. Fenomena dunia digital  dengan pelayanan super cepat, modern, dan sesuai tuntutan zaman, akan digiring memasuki dunia pendidikan. Sumber daya manusia didalamnya akan digedor untuk melakukan gerakan senada.
Merespon pernyataan Presiden Jokowi tentang perlunya perubahan besar dalam kurikulum  Indonesia, Nadiem harus mampu menerjemahkannya secara fasih dan cermat. Sebab diawal pelantikan sudah ditekankan, bahwa Kabinet Indonesia Maju, sudah tidak ada lagi visi menteri, tapi yang ada visi seorang Presiden. Suasana kebatinan Presiden mengendaki kurikulum baru lebih berorientasi link and match, siap kerja dan siap berkarya.
Kurikulum 2013 dinilai sudah out of date, ketinggalan zaman, tidak banyak berpihak kepada guru. Para guru merasa kelimpungan menyesuaikan dengan desain kurikulum yang ada. Rumitnya penilaian, perubahan pembelajaran berbasis mata pelajaran ke pembelajaran berbasis tema, menjadi persoalan seperti benang kusut tak berkesudahan. Wajar jika era Anies Baswedan, kurikulum 2013 sempat diendapkan karena banyak mendapat kritik yang luar biasa dari praktisi dan pemerhati pendidikan. Akhirnya Kurikulum 2013 berjalan terseok –seok , trial and error dan terkesan ekperimental.
Belum lagi masalah tata kelola guru terpetak –petak dalam beragam kebijakan yang seringkali menimbulkan kecemburuan. Saat ini, pendidikan dasar menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten, sementara pendidikan menengah menjadi kewenangan pemerintah propinsi, sementara sekolah – sekolah dibawah Kementrian Agama dikelola secara sentralistik. Dengan bentuk pemberian perlakukan yang berbeda telah menimbulkan kasak –kusuk yang tak sedap. Dalam hal ini Nadiem diharapkan mampu membongkar sektarianisme pendidikan yang ada. Pendidikan sebaiknya dikendalikan oleh remote control dalam satu tangan.
 Keinginan Presiden Jokowi, tentang reformasi kurikulum, membenarkan pameo, ganti menteri ganti kurikulum, ganti kiblat pemikiran. Kita tidak tahu, kemana kiblat pemikiraan Nadiem. Eropa sentris, atau Amerika sentris, atau Indonesia sentris? Sebab Bang Nadiem dalam seratus hari pertama digunakannya untuk mendengar dari berbagai ide dan keinginan.
Bagi guru reformasi kurikulum nantinya agar lebih banyak mendengar jeritannya. Administrasi, dan segala perangkat pembelajaran yang perlu dipersiapkan lebih disederhanakan. Inilah sebenarnya mimpi Presiden Jokowi yang belum diimplementasikan.
Dihadapan ribuan guru, pada puncak peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke 73 PGRI di stadion Pakansari Bogor, Presiden berpesan agar guru tidak direpotkan dengan segudang administrasi yang menggelisahkan. Ketika administrasi guru menjadi beban, dengan sendirinya, tak kesempatan untuk menuangkan gagasan. Secara perlahan kita seperti membunuh para guru untuk berkreasi dan berinovasi.
Saya optimis dalam melahirkan berbagai regulasi dan perombakan kurikulum, Bang Nadiem akan berpikir arif, tidak serta merta melakukan kebijakan 'bumi hangus'. Ganti menteri bukan berarti  memporakporandakan yang sudah mapan. Apalagi jika menyangkut nasib dan kesejahteraan guru. Idealnya, yang sudah baik kita pertahankan, yang kurang kita tingkatkan, dan yang tak layak kita tinggalkan.  Bagaimanapun juga, perubahan adalah keniscayaan.

Penulis adalah Sekretaris PGRI Kab.Bondowoso. Pengurus Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis ( APKS ) Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...