HARAPAN GURU PADA MENDIKBUD BARU
Oleh : Dimasmul Prajekan*
Ketika
nama Nadiem Makarim, disebut Presiden Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan menggantikan Muhajir Efendi,
alam bawah sadar masyarakat langsung tertuju pada sang pemilik Gojek. Salah
seorang pengusaha bisnis online yang memiliki power talenta luar biasa, sukses
dalam usia muda. Ada yang sumringah, ada yang kaget, dan ada yang bertanya -
tanya. Bagaimana bisa, seorang menteri yang tidak memiliki rekam jejak dalam
dunia pendidikan tiba – tiba menjadi pengendali Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan. Bagaimana menyambungkan antara bisnis dan pendidikan? Bagaimana
menyantolkan antara Gojek dengan dunia karakter.
Sebagai
seorang menteri, Bang Nadiem sedang berada pada benua konsep - konsep besar. Bukan pada pada isu - isu murahan dan
vulgar. Ia akan bermain pada wilayah ide - ide dahsyat, maintream yang akan menerbangkan pendidikan Indonesia ke arah yang
lebih progresif. Ia diharapkan menjadi matahari perubahan yang akan menerangi
alam pendidikan Indonesia. Sosok Nadiem terlanjur menjadi tumpuan atas semua maintenance pendidikan yang tengah
berlangsung.. Pendidikan di era digital dan revolusi industri 4.0 menjadi dasar
berkarya untuk membangun sumber daya manusia yang memiliki daya saing global.
Tugas
berat bagi Nadiem adalah menyambungkan dunia digital pada satu sisi dan dunia
karakter pada sisi lain. Kita boleh angkat topi akan keperkasaan Bang Nadiem
menguasai jagat bisnis online, tapi ia belum bisa menjawab tentang urgensi dunia
karakter dan revolusi mental sebagaimana menjadi branding Presiden Jokowi. Sebab
Penguatan Pendidikan Karakter ( PPK ) itu sudah diperpreskan bernomor 87/2017.
Maknanya
pemerintah tidak mau kehilangan nilai - nilai lokal dan sakral dalam keakraban pergaulan
global. Indonesia tetaplah Indonesia dengan coraknya yang khas, yang memiliki
nilai – nilai karakter unggul seperti relejiusitas, nasionalisme, kemandirian,
gotong royong, dan integritas. Jangan sampai para guru memproduksi ribuan orang
pandai, tapi kecerdasan spiritualnya belum dipindai. Perlu diingat, mentalitas
korup pada sebagian pengusaha yang menilap kekayaan negara dalam jumlah
trilyunan rupiah merupakan hasil nyata dunia pendidikan kita selama ini.
Membangun
manusia seutuhnya adalah membangun manusia Indonesia yang memiliki kemampuan mensinergikan
era digital dan pendidikan karakter secara bersamaan. Kepribadian unggul dalam
menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 mencerminkan generasi yang matang dalam kecerdasan spiritual, mumpuni
dalam penguasaan ilmu, dan teknologi.
Tentu
Presiden Jokowi memiliki kepentingan strategis dengan ditunjuknya Nadiem
Makarim sebagai Mendikbud. Dengan latar belakang sebagai pengusaha muda sukses,
memberi pesan moral, bagaimana pendidikan Indonesia dalam waktu dekat
mendapatkan berkah kemajuan yang lebih melesat. Ada lompatan besar dari kondisi
pendidikan yang tertatih - tatih saat ini. Fenomena dunia digital dengan pelayanan super cepat, modern, dan
sesuai tuntutan zaman, akan digiring memasuki dunia pendidikan. Sumber daya
manusia didalamnya akan digedor untuk melakukan gerakan senada.
Merespon
pernyataan Presiden Jokowi tentang perlunya perubahan besar dalam
kurikulum Indonesia, Nadiem harus mampu
menerjemahkannya secara fasih dan cermat. Sebab diawal pelantikan sudah ditekankan,
bahwa Kabinet Indonesia Maju, sudah tidak ada lagi visi menteri, tapi yang ada
visi seorang Presiden. Suasana kebatinan Presiden mengendaki kurikulum baru
lebih berorientasi link and match,
siap kerja dan siap berkarya.
Kurikulum
2013 dinilai sudah out of date, ketinggalan zaman, tidak banyak berpihak kepada
guru. Para guru merasa kelimpungan menyesuaikan dengan desain kurikulum yang
ada. Rumitnya penilaian, perubahan pembelajaran berbasis mata pelajaran ke
pembelajaran berbasis tema, menjadi persoalan seperti benang kusut tak
berkesudahan. Wajar jika era Anies Baswedan, kurikulum 2013 sempat diendapkan
karena banyak mendapat kritik yang luar biasa dari praktisi dan pemerhati
pendidikan. Akhirnya Kurikulum 2013 berjalan terseok –seok , trial and error dan terkesan ekperimental.
Belum
lagi masalah tata kelola guru terpetak –petak dalam beragam kebijakan yang
seringkali menimbulkan kecemburuan. Saat ini, pendidikan dasar menjadi tanggung
jawab pemerintah kabupaten, sementara pendidikan menengah menjadi kewenangan
pemerintah propinsi, sementara sekolah – sekolah dibawah Kementrian Agama
dikelola secara sentralistik. Dengan bentuk pemberian perlakukan yang berbeda telah
menimbulkan kasak –kusuk yang tak sedap. Dalam hal ini Nadiem diharapkan mampu
membongkar sektarianisme pendidikan yang ada. Pendidikan sebaiknya dikendalikan
oleh remote control dalam satu tangan.
Keinginan Presiden Jokowi, tentang reformasi
kurikulum, membenarkan pameo, ganti menteri ganti kurikulum, ganti kiblat
pemikiran. Kita tidak tahu, kemana kiblat pemikiraan Nadiem. Eropa sentris,
atau Amerika sentris, atau Indonesia sentris? Sebab Bang Nadiem dalam seratus
hari pertama digunakannya untuk mendengar dari berbagai ide dan keinginan.
Bagi
guru reformasi kurikulum nantinya agar lebih banyak mendengar jeritannya.
Administrasi, dan segala perangkat pembelajaran yang perlu dipersiapkan lebih
disederhanakan. Inilah sebenarnya mimpi Presiden Jokowi yang belum
diimplementasikan.
Dihadapan
ribuan guru, pada puncak peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke 73 PGRI di
stadion Pakansari Bogor, Presiden berpesan agar guru tidak direpotkan dengan
segudang administrasi yang menggelisahkan. Ketika administrasi guru menjadi
beban, dengan sendirinya, tak kesempatan untuk menuangkan gagasan. Secara
perlahan kita seperti membunuh para guru untuk berkreasi dan berinovasi.
Saya
optimis dalam melahirkan berbagai regulasi dan perombakan kurikulum, Bang Nadiem
akan berpikir arif, tidak serta merta melakukan kebijakan 'bumi hangus'. Ganti
menteri bukan berarti memporakporandakan
yang sudah mapan. Apalagi jika menyangkut nasib dan kesejahteraan guru.
Idealnya, yang sudah baik kita pertahankan, yang kurang kita tingkatkan, dan
yang tak layak kita tinggalkan. Bagaimanapun juga, perubahan adalah
keniscayaan.
Penulis adalah
Sekretaris PGRI Kab.Bondowoso. Pengurus Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis ( APKS ) Jawa Timur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar