Kepemimpinan ( KS ) Inspiratif
Oleh : Dimasmul Prajekan*
Tiba
saatnya kita memasuki sepotong masa, setiap orang bisa bersuara dengan lepas.
Setiap guru bisa lega untuk bernafas. Setiap Kepala Sekolah ( KS ) dapat menarasikan
ide – idenya secara lugas. Setiap sekolah bisa memiliki corak dan tampilan yang berbeda secara tegas. Dan
kita tak perlu takut. Inilah zaman yang disebut bergesernya keseragaman menuju
keberagaman. Dari monokultural menuju ke multikultural.
Dalam
beberapa kesempatan saya sering mengatakan, setiap sekolah tidak boleh latah membebek
pada style sekolah lain. Kini
bermunculan sebutan sekolah unggul, sekolah para juara, sekolah percontohan, atau
apapun namanya. Setiap sekolah sejatinya memiliki khittah, jalan hidup sendiri,
memiliki budaya, dan karakteristiknya sendiri yang tak harus bermakmum pada ketenaran sekolah lainnya.
Jika
ada dua puluh sekolah di sebuah kabupaten kota, dengan karakteristik berbeda, dengan
program unggulan yang tak sama, sekolah – sekolah itu akan menjadi taman indah
yang kaya akan puspa ragam pemikiran dan kreatifitas. Dan, biarkan masyarakat
memilih. Tak perlu digiring untuk memasuki sekolah tertentu. Perbedaan itulah
yang akan menjadikan para orang tua semakin nyaman untuk menjatuhkan
pilihannya, tanpa dipaksa –paksa. Akan tetapi jika semua sekolah terperangkap
pada kondisi yang seragam, monoton, sejak saat itu, akan terlihat mandulnya
gairah berinovasi, mewabahnya stagnansi dalam berkreasi. Sebab semuanya sudah
tunduk patuh pada regulasi yang terstruktur rapi.
Padahal
setiap sekolah memiliki branding ( penejamaan ) yang berbeda. Branding itu digali
dan terlahir dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada. Dari
kekuatan dan peluang itulah diolah oleh pabrik pemikiran yang dipimpin oleh
seorang kepala sekolah. Daya gagas, dan daya terawang seorang kepala sekolah dalam
mencermati perkembangan dan perubahan yang sedang berlangsung, pada akhirnya akan
sampai pada secarik kesimpulan yang tepat dalam memilih branding sekolah.
Branding
sekolah pada akhirnya akan menjadi magnet positioning
dalam pergumulan ide, sebagai etalasi gagasan untuk memajukan sekolah, sekaligus
sebagai pengumpul trust ( kepercayaan
) masyarakat. Kepercayaan yang akan tumbuh dan berkembang seiring kesungguhan
kepala sekolah dan para guru mewujudkan mimpi besar sebagai sekolah yang
dipercaya.
Maka
branding yang digunakan dan implementasinya di lapangan akan berjalan paralel
dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Sebab branding dipilih sebagai
terjemahan aspirasi dari sebuah keinginan besar msayarakat. Kekuatan branding
itu akan diuji pada momen –momen berharga, seperti saat Penerimaan Peserta
Didik Baru ( PPDB ). Dari sanalah kepercayaan dapat diukur. Jika dalam PPDB,
sekolah mengalami tren kenaikan, berarti ada indikasi kuat sekolah telah mampu
merebut hati pengguna jasa pendidikan dan mulai tumbuhnya kepercayaan dari
masyarakat kepadanya.
Lihatlah
pula latar belakang calon peserta didik dan jarak tempuh dari rumah ke sekolah.
Banyak orang jauh - jauh memilihkan sekolah untuk putra puteri tercinta, karena
pertimbangan tertentu, seperti sekolah berprestasi, sekolah sehat, sekolah
adiwiyata, dan labeling sekolah lainnya. Jika labeling itu sudah masuk ke dalam
alam bawah sadarnya, tanpa diperintah, para orang tua akan dengan tulus menitipkan putra putrinya
di sekolah yang dipercayainya.
Secara
tidak langsung kita menyebut era sekarang merupakan era kompetisi yang
sebenarnya. Kalau mau jujur, Mas Nadiem Makarim sebagai Mendikbud sekaligus ia
sebagai seorang petarung yang sukses dalam dunia bisnis. Karena jiwa petarungnya
menjadikan ia seorang yang masyhur dan berhasil dalam dunianya. Inilah kado
terindah dunia para guru untuk menikmati sebuah perubahan dengan tipikal kompetisi
Tentu
iklim kompetisi ini tidak akan berjalan mulus begitu saja, sebab masih
berlangsungnya harta warisan yang
disebut sistem zonasi. Mas Nadiem akan berpikir panjang untuk menyudahi sistem
yang ditinggalkan Muhajir Efendi. Disinilah dilema bagi Sang Menteri. Apakah
akan membuka kran kebebasan seluas - luasanya untuk berkreasi, berinovasi,
berkompetisi ? Atau sebaliknya akan membatasi kreasi dan inovasi kepala sekolah
dengan regulasi? Inilah tantangan.
Seorang
pemimpin perubahan yang inspiratif akan berpikir tentang sekolah yang bisa eksis
untuk sekian generasi ke depan. Kegalauannya yang menghasilkan berbagai konsep
agar sekolah tetap kompetitif dapat diterima dan mewakili anak zamannya. Kalau
tidak, siap –siaplah sekolah akan tersungkur oleh iklim kompetisi yang kian
komplek.
Kita
bisa bercermin dari bisnis konvensional seperti pusat pembelanjaan Giant,
Lotus, Diva, Ramayana, yang lambat laun ditinggalkan pelanggan setianya. Hampir semua
pelanggannya yang selama ini setia, tiba –tiba eksodus ke Shopee, Bukalapak,
Tokopedia, dan Blibli. Bisnis gaya baru
yang memberikan peluang dan kemudahan bagi setiap orang untuk berinteraksi
secara daring.
Semua ini mengingatkan kita, tentang pesatnya banjir
bandang perubahan yang tak bisa di tawar – tawar lagi. Dalam waktu yang tidak
terlalu lama, perubahan itu telah banyak memangsa status quo, pola pikir out of date, dan mindset yang sedikit
kedaluarsa. Hal ini semakin menguatkan semangat kita untuk berubah. Gaya – gaya
pelayanan lama yang terkesan lamban, bertele –tele, sudah harus ditinggalkan,
diubah menjadi pelayanan super cepat, simpel, dan tidak pakai lama.
Dari
kejadian diatas, seorang kepala sekolah harus terinspirasi untuk melakukan
langkah –langkah antisipatif, memiliki trik –trik cerdas agar sekolah bisa
bertahan dalam perubahan yang tak terduga. Jika sekolah memberikan pelayanan
yang prima, mereduksi kesalahan dalam pengambilan keputussan, adanya
transparansi dengan semua pemangku kepentingan, memiliki program unggulan, senantiasa
melahirkan prestasi, kita yakin sekolah akan semakin dicintai dan diminati. Sebaliknya,
jika keberadaan sekolah senantiasa menghadirkan wajah kontraproduktif, menjadi
beban baru orang – orang disekelingnya, tentu tinggal menunggu waktu lonceng
kematian akan dibunyikan.
Sosok
inspiratif seorang kepala sekolah bukan berarti bermanja –manja dengan
fasilitas yang serba lengkap di sekolah. Atau memiliki daya dukung komite dan
paguyuban kelas yang luar biasa. Bisa jadi ia berlepotan dengan keterbatasan dan
serba kekurangan. Pengabdian yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan tentang
prestasi sekolah. Justru dari keadaan itulah ia ingin berusaha keluar dari
jeratan keadaan. Mengubah kegelapan menjadi cahaya. J.K Rowling sukses menjadi
pesohor, saat ia sendiri mengalami keretakan rumah tangga, dan berakhir dengan
perceraian. Bahkan ia harus banting tulang mengasuh anak perempuannya seorang
diri. Dan pada akhirnya ia sukses menulis novel Hari Potternya. Itulah jiwa
inspiratif.
Saatnya
para Kepala Sekolah dan guru harus berubah. Lihatlah di sekeliling kita,
sekolah –sekolah yang di kelolah masyarakat, menjadi tumpuan dan kebanggan banyak
orang tua. Padahal, sekolah tersebut memasang tarip bulanan yang cukup
fantastis. Tapi masyarakat merasakan kenyamanan. Kata kuncinya adalah sekolah
telah memberikan kepuasan dalam mengantarkan peserta didik yang diharapkan oleh
orang tua.
Kepemimpinan
inspiratif seorang Kepala Sekolah, akan menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejak langkahnya. Kepemimpinan
yang lebih mudah menggerakkan gerbong panjang yang ada dibelakangnya. Sebab
Kepala Sekolah bukan lagi berasyik masyuk dalam tataran ide yang verbalistis,
tapi ia menjadi teladan dalam membumikan kata - kata terbaiknya. Ia menjadi
tempat berteduh dalam mendiskusikan permasalahan yang butuh jawaban. Menjadi inspirator
bagi sahabat - sahabat pendidikan yang berminat terhadap perubahan.
·
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan
Sekretaris PGRI Bondowoso.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar