Sabtu, 14 Desember 2019

HOT


Kepemimpinan ( KS ) Inspiratif
Oleh : Dimasmul Prajekan*

Tiba saatnya kita memasuki sepotong masa, setiap orang bisa bersuara dengan lepas. Setiap guru bisa lega untuk bernafas. Setiap Kepala Sekolah ( KS ) dapat menarasikan ide – idenya secara lugas. Setiap sekolah bisa memiliki corak  dan tampilan yang berbeda secara tegas. Dan kita tak perlu takut. Inilah zaman yang disebut bergesernya keseragaman menuju keberagaman. Dari monokultural menuju ke multikultural.
Dalam beberapa kesempatan saya sering mengatakan, setiap sekolah tidak boleh latah membebek pada style sekolah lain. Kini bermunculan sebutan sekolah unggul, sekolah para juara, sekolah percontohan, atau apapun namanya. Setiap sekolah sejatinya memiliki khittah, jalan hidup sendiri, memiliki budaya, dan karakteristiknya sendiri yang tak harus  bermakmum pada ketenaran sekolah lainnya.
Jika ada dua puluh sekolah di sebuah kabupaten kota, dengan karakteristik berbeda, dengan program unggulan yang tak sama, sekolah – sekolah itu akan menjadi taman indah yang kaya akan puspa ragam pemikiran dan kreatifitas. Dan, biarkan masyarakat memilih. Tak perlu digiring untuk memasuki sekolah tertentu. Perbedaan itulah yang akan menjadikan para orang tua semakin nyaman untuk menjatuhkan pilihannya, tanpa dipaksa –paksa. Akan tetapi jika semua sekolah terperangkap pada kondisi yang seragam, monoton, sejak saat itu, akan terlihat mandulnya gairah berinovasi, mewabahnya stagnansi dalam berkreasi. Sebab semuanya sudah tunduk patuh pada regulasi yang terstruktur rapi.
‌Padahal setiap sekolah memiliki branding ( penejamaan ) yang berbeda. Branding itu digali dan terlahir dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada. Dari kekuatan dan peluang itulah diolah oleh pabrik pemikiran yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Daya gagas, dan daya terawang seorang kepala sekolah dalam mencermati perkembangan dan perubahan yang sedang berlangsung, pada akhirnya akan sampai pada secarik kesimpulan yang tepat dalam memilih branding sekolah.
Branding sekolah pada akhirnya akan menjadi magnet positioning dalam pergumulan ide, sebagai etalasi gagasan untuk memajukan sekolah, sekaligus sebagai pengumpul trust ( kepercayaan ) masyarakat. Kepercayaan yang akan tumbuh dan berkembang seiring kesungguhan kepala sekolah dan para guru mewujudkan mimpi besar sebagai sekolah yang dipercaya.
‌‌Maka branding yang digunakan dan implementasinya di lapangan akan berjalan paralel dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Sebab branding dipilih sebagai terjemahan aspirasi dari sebuah keinginan besar msayarakat. Kekuatan branding itu akan diuji pada momen –momen berharga, seperti saat Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ). Dari sanalah kepercayaan dapat diukur. Jika dalam PPDB, sekolah mengalami tren kenaikan, berarti ada indikasi kuat sekolah telah mampu merebut hati pengguna jasa pendidikan dan mulai tumbuhnya kepercayaan dari masyarakat kepadanya.
Lihatlah pula latar belakang calon peserta didik dan jarak tempuh dari rumah ke sekolah. Banyak orang jauh - jauh memilihkan sekolah untuk putra puteri tercinta, karena pertimbangan tertentu, seperti sekolah berprestasi, sekolah sehat, sekolah adiwiyata, dan labeling sekolah lainnya. Jika labeling itu sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya, tanpa diperintah, para orang tua  akan dengan tulus menitipkan putra putrinya di sekolah yang dipercayainya.
‌‌Secara tidak langsung kita menyebut era sekarang merupakan era kompetisi yang sebenarnya. Kalau mau jujur, Mas Nadiem Makarim sebagai Mendikbud sekaligus ia sebagai seorang petarung yang sukses dalam dunia bisnis. Karena jiwa petarungnya menjadikan ia seorang yang masyhur dan berhasil dalam dunianya. Inilah kado terindah dunia para guru untuk menikmati sebuah perubahan dengan tipikal kompetisi
‌‌Tentu iklim kompetisi ini tidak akan berjalan mulus begitu saja, sebab masih berlangsungnya harta warisan  yang disebut sistem zonasi. Mas Nadiem akan berpikir panjang untuk menyudahi sistem yang ditinggalkan Muhajir Efendi. Disinilah dilema bagi Sang Menteri. Apakah akan membuka kran kebebasan seluas - luasanya untuk berkreasi, berinovasi, berkompetisi ? Atau sebaliknya akan membatasi kreasi dan inovasi kepala sekolah dengan regulasi? Inilah tantangan.
Seorang pemimpin perubahan yang inspiratif akan berpikir tentang sekolah yang bisa eksis untuk sekian generasi ke depan. Kegalauannya yang menghasilkan berbagai konsep agar sekolah tetap kompetitif dapat diterima dan mewakili anak zamannya. Kalau tidak, siap –siaplah sekolah akan tersungkur oleh iklim kompetisi yang kian komplek.
Kita bisa bercermin dari bisnis konvensional seperti pusat pembelanjaan Giant, Lotus, Diva, Ramayana, yang lambat laun  ditinggalkan pelanggan setianya. Hampir semua pelanggannya yang selama ini setia, tiba –tiba eksodus ke Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan Blibli.  Bisnis gaya baru yang memberikan peluang dan kemudahan bagi setiap orang untuk berinteraksi secara daring.
 Semua ini mengingatkan kita, tentang pesatnya banjir bandang perubahan yang tak bisa di tawar – tawar lagi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, perubahan itu telah banyak memangsa status quo, pola pikir out of date, dan mindset yang sedikit kedaluarsa. Hal ini semakin menguatkan semangat kita untuk berubah. Gaya – gaya pelayanan lama yang terkesan lamban, bertele –tele, sudah harus ditinggalkan, diubah menjadi pelayanan super cepat, simpel, dan tidak pakai lama.
Dari kejadian diatas, seorang kepala sekolah harus terinspirasi untuk melakukan langkah –langkah antisipatif, memiliki trik –trik cerdas agar sekolah bisa bertahan dalam perubahan yang tak terduga. Jika sekolah memberikan pelayanan yang prima, mereduksi kesalahan dalam pengambilan keputussan, adanya transparansi dengan semua pemangku kepentingan, memiliki program unggulan, senantiasa melahirkan prestasi, kita yakin sekolah akan semakin dicintai dan diminati. Sebaliknya, jika keberadaan sekolah senantiasa menghadirkan wajah kontraproduktif, menjadi beban baru orang – orang disekelingnya, tentu tinggal menunggu waktu lonceng kematian akan dibunyikan.
Sosok inspiratif seorang kepala sekolah bukan berarti bermanja –manja dengan fasilitas yang serba lengkap di sekolah. Atau memiliki daya dukung komite dan paguyuban kelas yang luar biasa. Bisa jadi ia berlepotan dengan keterbatasan dan serba kekurangan. Pengabdian yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan tentang prestasi sekolah. Justru dari keadaan itulah ia ingin berusaha keluar dari jeratan keadaan. Mengubah kegelapan menjadi cahaya. J.K Rowling sukses menjadi pesohor, saat ia sendiri mengalami keretakan rumah tangga, dan berakhir dengan perceraian. Bahkan ia harus banting tulang mengasuh anak perempuannya seorang diri. Dan pada akhirnya ia sukses menulis novel Hari Potternya. Itulah jiwa inspiratif.
Saatnya para Kepala Sekolah dan guru harus berubah. Lihatlah di sekeliling kita, sekolah –sekolah yang di kelolah masyarakat, menjadi tumpuan dan kebanggan banyak orang tua. Padahal, sekolah tersebut memasang tarip bulanan yang cukup fantastis. Tapi masyarakat merasakan kenyamanan. Kata kuncinya adalah sekolah telah memberikan kepuasan dalam mengantarkan peserta didik yang diharapkan oleh orang tua.
Kepemimpinan inspiratif seorang Kepala Sekolah, akan menginspirasi banyak  orang untuk mengikuti jejak langkahnya. Kepemimpinan yang lebih mudah menggerakkan gerbong panjang yang ada dibelakangnya. Sebab Kepala Sekolah bukan lagi berasyik masyuk dalam tataran ide yang verbalistis, tapi ia menjadi teladan dalam membumikan kata - kata terbaiknya. Ia menjadi tempat berteduh dalam mendiskusikan permasalahan yang butuh jawaban. Menjadi inspirator bagi sahabat - sahabat pendidikan yang berminat terhadap perubahan.

·         Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Sekretaris PGRI Bondowoso.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...