BELAJAR MENCINTAI BAHASA MADURA
( Sebuah Refleksi Bulan Bahasa )
Oleh : Dimasmul Prajekan*
Saat
ini kita menyaksikan adanya trend penurunan dalam penggunaan bahasa Madura Suasana
sudah cukup masif dan mewabah dimana - mana. Di kantor dan instansi pemerintah,
bahkan di ruang publikpun, menunjukkan suasana itu. Area yang paling azasi seperti
keluarga sebagai cikal bakal berkembangnya bahasa ibu, kini mulai tergerus dan tak
terlalu setia dengan bahasa Madura. Bahasa ibu mulai tergantikan, dari bahasa lokal
menjadi bahasa nasional.
Lumbung
– lumbung penggunaan bahasa Madura yang selama ini eksis, juga mulai mencair.
Komunitas penutur bahasa Madura yang beberapa dekade bisa bertahan, kini juga
mengalami penurunan. Beberapa pondok pesantren salaf dengan tradisi komunikasi
menggunakan bahasa Madura, kini juga mengalami hal serupa. Literatur klasik dengan
goresan huruf pegon berbahasa Madura, lambat laun tergeser dengan naskah
literasi berbahasa Indonesia. Hal ini sebagai akibat membanjirnya karya – karya
terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Sementara karya – karya
literasi berbahasa Madura sangat jarang kita temukan di ruang perpustakaan.
Untungnya para Kyai saat memberikan ceramah keliling daerah masih lebih banyak
menggunakan bahasa Madura.
Pada
saat yang sama pondok pesantren terus membuka diri terhadap kemajemukan dan
multi kultur. Dampak dari keduanya, pondok pesantren harus menerima calon
santri yang berasal dari beragam etnik dan lintas bahasa. Tak ada lagi pondok pesantren
yang menutup diri dari kemajemukan. Tak ada lagi pondok pesantren yang hanya
menerima santri dari etnis tententu saja. Dari kenyataan ini, mau tidak mau pondok
pesantren harus mengubah pola pembelajaran, mengubah bahasa pengantar, bahkan
bahasa pergaulan. Kegiatan pembelajaran klasik yang menggunakan bahasa Madura
kini bergeser menggunakan bahasa Indonesia.
Dalam
dunia pendidikan umum, persoalan yang sering muncul adalah sulitnya mencari
guru bahasa Madura. Inilah negeri ironi. Terasing dalam keramaian. Kendati ada
yang bersedia mengajar bahasa Madura hal itu hanya sekadar menggugurkan
kewajiban, belum menjadi hobbi dan pilihan hati hurani. Muncul kegamangan dalam
melakukan proses pembelajaran dikarenakan kurangnya penguasaan terhadap materi
pembelajaran yang ada.
Kondisi
seperti itu dipicu oleh realitas lain, begitu susahnya mencari literatur
berbahasa Madura sesuai dengan konteks zaman. Kekinian dan kedisinian dalam
materi bahasa Madura menjadi persoalan yang tak mudah dipecahkan. Naskah dan
literatur klasik yang ada belum mampu mengakomudasi persoalan pembelajaran sesuai
ruang dan waktu. Masih ada jarak antara teks dan konteks. Apalagi kalau
dikaitkan dengan pembelajaran HOTS ( Higher Order Thinking Skill ) tentu
keadaan jauh panggang dari api.
Apalagi
menjadi guru bahasa Madura selama ini bukan out put dari Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan ( FKIP ) prodi bahasa Madura. Prodi bahasa Madura masih langka
kalau tak mau dibilang tidak ada. Para guru yang mengajar hanyalah berbekal pengalaman
yang diperoleh dari praktik nyata dalam kehidupan sehari – hari. Sebenarnya,
jika FKIP Unej Jember bersedia membuka program studi bahasa Madura, saya yakin
akan menjadi oase menyejukkan dari kegersangan setuasi yang sedang berlangsung.
Ia akan menjadi jembatan dari permasalahan yang menggunung dalam bahasa Madura.
Apalagi dengan dibukanya kampus Unej Bondowoso, menjadi sangat strategis,
karena mayoritas masyarakat republik kopi adalah penutur bahasa Madura.
Karena
Guru –guru yang mengajar bukan lulusan prodi bahasa Madura, tak dapat
disalahkan jika bobot dan kualitas pembelajaran hanya sebatas berjalan apa
adanya. Sebab bahasa Madura sebagai produk linguistik, begitu umit dan tidak
banyak orang mampu mengajarkannya. Lebih ngeri lagi sebuah sekolah tak ada guru
yang bersedia mengajar bahasa Madura. Saat itulah biasanya muncul para guru
sukarelawan yang berasal dari etnis lain untuk mengajar.
Perlu
diakui, adanya kebijakan dan pilihan politik pemerintah yang menjadikan bahasa
Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa pemersatu, bahasa perekat antar etnik,
cukup berhasil. Perkembangan positif dalam penguasaan bahasa Indonesia dalam
tiga dekade terakhir menunjukkan adanya peningkatan luar biasa. Bahasa
Indonesia berkembang begitu dahsyat sebagai bahasa yang adaptable terhadap perubahan zaman.
Sayangnya
keberhasilan itu belum diimbangi dengan konsep pelestaraian bahasa daerah (
Madura ) yang lebih membumi. Kita seperti kehilangan orientasi tentang pengembangan
bahasa daerah. Lahirnya Pergub 19/2014 tentang pengajaran Muatan Lokal bahasa Jawa
dan Bahasa Madura di Jawa Timur, masih belum memuaskan hasrat pencinta bahasa
daerah. Sebab regulasi ini masih berada di area teoritis dan akademis tidak merambah kehidupan yang lebih taktis dan
praktis.
Berbicara
tentang kecintaan kita terhadap bahasa Madura, beberapa tahun terakhir Kantor
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bondowoso, meluncurkan beragam kegiatan.
Setiap tahun, menyelenggarakan beragam lomba seperti lomba baca puisi bahasa
Madura dan lomba berpidato bahasa Madura. Sebuah kegiatan yang boleh dianggap sederhana,
tapi kenyataannya mendapatkan apreasiasi yang bagus dari masyarakat pencinta
bahasa Madura.
Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa tokoh penggiat
bahasa Madura, sempat mendiskusikan tentang perlunya tafsir Al Quran berbahasa
Madura dan Kamus bahasa Madura ( khas Bondowoso ). Sayangnya ide bagus itu
belum direalisasikan karena berkaitan dengan banyak hal. Pada saat yang sama,
kita banyak kehilangan para pakar bahasa Madura. Lebih –lebih setelah berpulangnya
Marsudin HS, seorang budayawan dan sastrawan Bondowoso yang banyak mewariskan
karya literasi berbahasa Madura. Kita bagai kehilangan tempat bertanya tentang
nasib dan masa depan bahasa Madura.
Dalam
serba keterbatasan seperti itulah, kita perlu merevitalisasi lembaga – lembaga
swadaya yang menaruh perhatian serius terhadap pelestarian bahasa Madura.
Keberadaaan lembaga swadaya seperti Yayasan Pakem Maddhu ( Pamekaran ), Tim
Nabara ( Pembinaan Bahasa Madura Sumenep ), dan Tim Pangrabat Basa Madhura ( Kabupaten
Bondowoso ), bisa memberikan peran lebih nyata dalam melestarikan bahasa
Madura. Tentunya dalam hal ini diperlukan support maksimal dan campur tangan stake holder untuk terus
menghidupkannya.
Dalam rangka menyemarakkan bulan bahasa, beberapa
alternatif kegiatan bisa dilakukan seperti gerakan sehari berbahasa Madura
untuk seluruh warga. Menggagas Kampung (
Bahasa ) Madura, yang disinerjikan dengan program desa wisata atau desa budaya.
Karya –karya literasi klasik seperti mucopat,
syiir, dan karya sastra lainnya bisa menjadi bagian tak terpisahkan.
Pada tataran ini diperlukan intervensi
kekuasaan untuk merealisasikannya.
Agenda
ini tak lain sebagai upaya memotivasi para penutur bahasa Madura agar memiliki semangat
berbahasa, dan merajut kembali kecintaan yang mulai hilang. Tak adil rasanya
jika bahasa Madura sebagai bagian dari karya adiluhung yang diwariskan kepada kita,
ternyata sang pewaris tak mampu merawat hingga bertahan beberapa generasi ke
depan. Analisis yang mengatakan beberapa bahasa daerah sudah sirna karena tak ada
yang berminat menggunakannya, bisa jadi bahasa Madura akan menyusul
kepunahannya jika kita tak pandai merawat dan melestarikaannya. Mari belajar
mencintai bahasa Madura.!
·
Penulis
adalah Penutur Bahasa Madura dan Sekretaris PGRI Bondowoso.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar