Rabu, 28 Februari 2018

KUALITAS KEMATIAN



KUALITAS KEMATIAN
Oleh.Dimasmul Prajekan

Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan hidup panjang, sebagian besar memilih hidup lebih lama, untuk menikmati indahnya dunia. Berselancar dengan debur aktifitas duniawi.
Tapi anehnya, banyak orang yg mengisi denyut nadi kehidupannya dengan tak mencerminkan ada bekal kematian. Hidup dalam kemaksiyatan, bergumul dalam banyak perbuatan tercelah. Biduk cinta kepada Tuhannya terhempas dalam kekelaman nan panjang.
Lantas bagaimana. sejatinya sang raga. harus mempersiapkan kematian? Banyak orang mempersepsikan diri dengan persiapan persiapan seputar kematian. Kain kafan, bahkan kavling makam sudah disiapkan bertahun tahun sebelum kematian itu benar benar datang. Sebelum ajal menjemputpun, para anggota keluarga menginginkan dekat dengan sanak kerabat. Sang anak ingin merawat sakitnya, sebagai bentuk cinta bakti terakhir kepada yang dicintainya. Anggota keluarga ingin merawat jenazahnya tidak terlalu jauh darinya.
Tapi sang raga kadang lupa untuk menyiapkan jauh jauh hari dengan amal sholeh yg cukup.Bekal menuju keranda kematian dan transit di alam barzah seperti tak cukup dengan amal - amal yang bermanfaat. Spiritualitaspun masih menganga tak terisi. Duh, begitu naif tentu.
Lihatlah para pahlawan mukmin sejati, tak pernah memikirkan fase fase kematian, cuek dengan ending kehidupannnya seperti apa gerangan.Mereka lebih sibuk memproduksi amal amal sholeh. Berjuang menegakkan kebenaran, mempengaruhi 'hati' manusia untuk bergabung dalam barisan suci. Berkorban waktu tenaga dan ilmu untuk kemanfaat yang lebih luas.Dimana matinya?Mereka tak pernah berpikir itu. Bahkan sebagian sahabat bercita - cita gugur sebagai syuhada. Gugur saat bertarung dengan ketidakbaikan. Lihatlah para sahabat,seperti Abu Bakar,Umar,Usman,Ali.
Bahkan Usman meninggalnya sungguh sangat menyedihkan,dibunuh oleh orang tak bertanggung jawab.
Atau lihatlah sosok. Mushab bin Umair, pemuda perlente yang masuk Islam, meninggalkan segenap kekayaannya untuk belajar menemukan kebenaran.Dan ketika kematian menjemputnya, disaat jenasahnya dikafani, subgguh tragis dan diluar nalar,kain kafannya tidak cukup untuk menutupi tubuhnya. Saat akan dikuburkan, bagian tubuh yg tak tertutup kain, ditutupinya dengan pelepah pohon kurma.
Ah, burukkah kematian Mushab bin Umair? Jika dilihat sepintas, memang tak mengenakkan.Tapi Mushab bin Umair tertulis dalam sejarah dengan aroma kemukminan sejati, dengan kecukupan amal sholehnya.
Ya kita harus menguatkan kualitas proses kematian,ketimbang menunggu saat kematian dengan segala atribut kematiannya. Mengisi sisa - sisa hidup kita untuk kemanusiaan,menguatkan spiritualitas, kemudian kepadaNya kita kembali dengan ridho dan diridhoi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...