Prokon Pembelajaran Tatap Muka
Oleh : Dimasmul Prajekan*
Ada perasaan senang bercampur waswas pada sebagian masyarakat dan orang tua, tatkala pemerintah mengumumkan tentang diperkenankannya pembukaaan sekolah dengan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021 nanti. Bergembira karena terlalu lama bagi orang tua menjadi pendamping setia anak – anak mereka sendiri, dengan teknik pembelajaran seadanya, mereka menjadi guru untuk anak – anak tercintanya. Pada sisi lain, ia merasakan kegamangan dan rasa waswas yang tak kerkesudahan, jika pembelajaran tatap muka benar – benar diselenggarakan. Sebab tumbangnya para korban yang terpapar setiap saat selalu mengalami tren kenaikan.
Memang
tidak mudah bagi para pengambil kebijakan dan pemerintah daerah untuk
memberikan izin membuka sekolah dalam keadaan penularan covid-19 yang kadang
datang tak diundang. Apalagi dengan fenomena baru, orang tanpa gejalapun bisa
terpapar virus yang mematikan itu. Maka sebagai bentuk kehati – hatian
pemerintah, tidak serta merta memberikan izin membuka sekolah dengan
pembelajaran tatap muka. Sekolah – sekolah di bawah naungan pemerintah provinsipun
seperti SMA/SMK, beberapa kali melakukan uji coba untuk kegiatan tatap muka,
tapi pada akhirnya memilih untuk melakukan pembelajaran jarak jauh.
Jika
pemerintah memberi sinyal untuk membuka sekolah dengan pembelajaran tatap muka,
tentu dengan berbagai pertimbangan, beberapa syarat protokol kesehatan harus diterapkan,
seperti menjaga jarak 1,5 M, mencuci tangan dengan sabun dan alir mengalir, dan
wajib memakai masker. Demikian pula dengan segala kesiapannya. Siap izin dari
Pemda, Kepala Sekolah, dan orang tua mewakili Komite Sekolah. Kalau salah
satunya tidak berkenan, jangan harap akan terselenggara pembelajaran tatap
muka. Pembelajaran akan kembali kepada moda dalam jaringan, pembelajaran jarak
jauh.
Permasalahan
mendasar adalah hingga saat ini keadaan masih fluktuatif dalam persoalan penularan
covid -19. Pekan kemarin, sehari mencapai 8.369 kasus positif covid 19. Hal ini
membuktikan keadaan belum bisa diprediksi kapan covid - 19 akan berakhir. Buru
- buru mau berakhir, justru sebaliknya,
peta dan data memperlihatkan kian melonjaknya penularan dari hari - hari
sebelumnya. Beberapa daerah yang semula hijau, mendadak berubah kuning bahkan
merah.
Saat
ini jumlah yang terpapar covid sudah merambah ke semua lini kehidupan. Klaster
- klaster baru muncul secara tiba –tiba. Setiap orang yang cenderung tidak
mematuhi protokol kesehatan, telah memberi peluang tertularnya covid - 19, dan
membuka klaster baru. Bahkan orang - orang yang terdepan dalam penanganan covid
-19 seperti dokter dan perawat, harus menjadi korban yang ke sekian kalinya
dalam peta penularan covid -19, karena interaksi dengan korban terpapar yang
tak terhindarkan lagi.
Sementara
itu dunia pendidikan, Mendikbud Nadiem Makarim sudah menyalakan lampu hijau,
pembelajaran tatap muka akan dimulai Januari 2021. Statemen ini diberikan
setelah keluarnya SKB 4 Menteri tentang
Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 di Masa Pandemi
Covid -19, dan adanya kesamaan persepsi tentang covid-19 itu sendiri. Adapaun
yang melatarbelakangi dikeluarkannya SKB 4 Menteri itu, setelah mencermati
kondisi yang memungkinkan untuk menerapkan kegiatan pembelajaran tatap muka. Tidak
sebatas itu, berbagai kesiapan harus menjadi prasyarat dimulainya pembelajaran
tatap muka, siap Pemdanya, siap infrastrukturnya, siap gurunya, siap Komite Sekolahnya,
dan siap peserta didiknya.
Para
pihak yang mendukung dibukanya kembali pembelajaran tatap muka, didasarkan pada
fakta dan realita, anak - anak ketika ada di rumah, ternyata waktu - waktu
belajarnya lebih banyak dimanfaatkan untuk bermain dengan teman sebayanya. Ada
kecenderungan anak - anak terjebak dalam kerumunan - kerumunan kecil di luar
rumah tanpa mematuhi protokol kesehatan. Pada sisi lain, orang tua sebagai
pendamping belajar anak sudah merasakan boring
total, tidak bisa memaksimalkan kesempatan belajar anak karena keterbatasan penguasaan
ilmu mendidik. Bahkan perasaan jenuh terus bergelayut di dalam benak orang tua
untuk menjadi pendamping yang baik sekaligus sebagai guru yang dicintai. Para
ibu sudah dapat menyimpulkan sendiri, ternyata begitu sulit menjadi guru yang
ideal.
Pada
saat bersamaan, munculnya analisis pembelajaran jarak jauh yang dianggap kurang
efektif, menjadi pendorong dilaksanakannya gagasan pembelajaran tatap muka. Saya
sempat melakukan pengamatan kecil - kecilan selama pandemi berlangsung. Mencari
tahu tentang pembelajaran yang digunakan di beberapa sekolah dan beberapa orang
guru. Kegiatan begitu variatif. Sekolah yang berada di wilayah perkotaan lebih
memilih menggunakan pembelajaran moda daring. Sementara sekolah yang berada di
pelosok desa cenderung menggunakan moda luring ( luar jaringan ), dengan
membentuk kelompok - kelompok kecil 3-5 anak.
Pilihan
penggunaan moda daring, bagi sekolah perkotaan karena didukung oleh cultur
komunikasi baru yang memaksa orang - orang kota merespon era android yang
begitu masif, dan terelakkan
lagi. Strata kehidupan masyarakat kota secara ekonomi mulai beranjak mapan dan
memungkinkan untuk memegang android.
Mau tidak mau menjadikan gawai
sebagai sebuah kebutuhan sekaligus bagian dari life style seseorang. Bahkan bagi yang berpunya, setiap anggota
keluarga sudah memiliki sendiri – sendiri.
Lain
halnya dengan guru di pelosok desa. Mereka sebagian besar, pasrah memilih
pembelajaran dengan moda luring ( guru kunjung ). Mereka rela berjibaku dengan
setuasi yang memaksanya harus berkeliling mengunjungi beberapa kelompok di
tempat berbeda. Itupun harus melintasi hutan belantara, jalan setapak, untuk
sampai di tempat tujuan. Ketika berjumpa dengan anak – anak, rasa senang dan
bangga tercermin dari wajahnya yang sumringah. Sebab mengalirkan ilmu secara
langsung kepada anak – anak jauh lebih indah dibandingkan pembelajaran hanya
melalui android. Kehangatan komunikasi secara langsung mengubur lelahnya
perjalanan dari rumah ke sekolah.
Dalam
setuasi covid -19 yang terus merangkak naik, mungkinkah kita membuka
Pembelajaran Tatap Muka pada Januari 2021?
Jika yang dimaksud dengan pembelajaran tatap muka penuh sebagaimana pada
pembelajaran normal sebelum covid -19 berlangsung, yang jelas sangat tidak
mungkin. Saya tidak terlalu yakin kalau waktu kurang dari satu bulan ini covid -
19 ini akan segera pergi. Akan tetapi jika yang dimaksud pembelajaran tatap muka
dengan sifting yang jelas dan terukur,
dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, setiap sekolah punya termogun, setiap siswa menyiapkan hand sanitizer, mungkin masih ada celah
untuk dilakukan. Jika tidak, alangkah baiknya kita tidak terburu – buru melakukan
pembelajaran tatap muka di sekolah. Kita yakin, niat baik, harapan baik saja
tidak cukup. Perlu ikhtiar dengan cara –
cara yang baik. Maka memaksakan pembelajaran tatap muka dalam setuasi yang
kurang tepat, akan melahirkan dampak yang sangat berbahaya. Menghindari
mudhorot yang terjadi jauh lebih penting dibanding mendapatkan manfaat yang
hanya sekelumit.
Akan
tetapi jika yang dimaksud pembelajaran tatap muka dengan membentuk kelompok
–kelompok kecil dan sifting yang
terukur dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, tentu menjadi solusi
cerdik dalam menerapkan pembelajaran yang hilang selama ini. Hal ini akan
menjadi jawaban sementara dalam menghilangkan dahaga dalam mendidik anak. Jika
fluktuasinya terjadi setiap detik, terjadi penurunan penularan yang sangat
drastis, bisa jadi pembelajaran tatap muka penuh akan dilaksanakan.
Kita
meyakini pemerintah daerah termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,
Kementerian Agama, dan Cabang Dinas Provinsi, akan sangat hati - hati dalam
menerbitkan sebuah kebijakan terkait pembukaan pembelajaran tatap muka. Dalam
persoalan penerapan pembelajaran tatap muka, Mendikbud Nadiem Makarim
sebenarnya sudah jelas memberikan rambu - rambu kebijakan. Jika ada salah satu
orang tua masih keberatan dalam
penyelenggaraan pembelajaran tatap muka, maka pihak sekolah tidak boleh
memaksakan diri untuk melaksanakannya. Kita boleh bercermin kepada negera
Jerman yang mencoba membuka pembelajaran tatap muka. Setelah pembelajaran
berjalan satu minggu, banyak siswa yang terpapar covid – 19. Ini yang tidak
boleh terjadi.
*Penulis adalah Ketua PGRI Kabupaten
Bondowoso dan Anggota Dewan Redaksi Majalah Suara Guru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar