Kamis, 01 Maret 2018

HUT PGRI DAN KITA (sebuah refleksi)



HUT PGRI DAN KITA 
(sebuah refleksi)
Oleh:Dimasmul Prajekan*

Hari Ulang Tahun adalah milik siapa saja.Ia akan datang setiap tahun kepada pemiliknya secara rutin. Perkara mau dirayakan dengan gebyar, monumental, kolosal atau hanya sekadar potong nasi tumpeng, itu lain soal. Bagi kita pertambahan waktu dan beranjaknya usia, sejatinya harus berjalan paralel dengan kearifan, dan kekayaan wawasan. Semakin bertambah dewasa seseorang, tentu diharapkan lahir pemikiran yang bertambah dewasa pula. HUT PGRI, ibarat pitstop pada perlombaan formula 1 atau motorGP. Ada saatnya kita melarikan kendaraan kita dengan gaspool,menjalankan mesin kendaraan di tikungan tajam,menyalip para kompetitor dari sisi dalam dan mencoba uji nyali dalam lap lap panjang yang nyerempet - nyerempet bahaya. Setelah itu kita sadar, ternyata ada kendala pada kendaraan kita. Kita perlu ambil sikap cepat, misalnya harus ganti ban karena sudah aus setelah menjalankan tugas tugas panjang dalam kompetisi di sirkuit. Kita perlu merenung sejenak, bermuhasabah, menakar kekurangan dan kelebihan kita sebagai 'Sang Petarung'. Dalam perjalanan setahun ini, mungkin perlu strategi baru yang lebih hangat dan kontekstual. Sebab para fans berat, para loyalis, saatnya disuguhi tontonan yang menarik, sekaligus tuntunan yang dinamis, sehingga menjadi magnet bagi mereka, dan ada sepotong tampilan yang mereka bangkan. Ketika kita tampil habis - habisan di sirkuit basah ataupun kering, kemudian dengan ketangguhan 'mesin organisasi' kita bisa memasuki finis dan masuk juara, maka kibaran bendera yang merayakan kemenangan kita, adalah wajar adanya. Kemenangan melalui kompetisi yang cantik dan memikat. Bukan kemenangan yang direkayasa. Pada saat ini kita sudah harus berpikir realistis. Kita ternyata tak lagi hidup sendirian. Kompetitor sudah mulai menyeruak masuk kebarisan, menantang kita. Menyikapi dinamika kompetisi ini, kita harus merapikan lagi program dan kerumahtanggaan kita. Menyegarkan kembali organ - organ penting dan organ organ pendukung. Sebab hidupnya organisasi ditandai oleh hidupnya organ - organ itu sendiri.Dengan HUT PGRI Ke 71, kita mencoba menghidupkan dan memberdayakan organ organ yang ada agar bisa menggeliat. Kalau tidak pepatah WUJUDUHU KA ADAMIHI, adanya sama dengan tidak adanya menjadi pembenar kenyataan ini. Mari kita menyemangati diri dan mencoba berkontribusi lewat PGRI. PGRI baru harus berani melakukan otokritik.Sikap narsis, mabuk dengan kegantengan yang ada, akan mematikan kreatifitas dan buntunya ruang untuk berinovasi. HIDUP GURU! HIDUP PGRI! SOLIDARITAS. YES! (*Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso) [21/12/2016 11:21] Dimasmul Prajekan:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...