HUT PGRI DAN KITA
(sebuah refleksi)
Oleh:Dimasmul Prajekan*
Hari
Ulang Tahun adalah milik siapa saja.Ia akan datang setiap tahun kepada
pemiliknya secara rutin. Perkara mau dirayakan dengan gebyar, monumental,
kolosal atau hanya sekadar potong nasi tumpeng, itu lain soal. Bagi kita
pertambahan waktu dan beranjaknya usia, sejatinya harus berjalan paralel dengan
kearifan, dan kekayaan wawasan. Semakin bertambah dewasa seseorang, tentu
diharapkan lahir pemikiran yang bertambah dewasa pula. HUT PGRI, ibarat pitstop
pada perlombaan formula 1 atau motorGP. Ada saatnya kita melarikan kendaraan
kita dengan gaspool,menjalankan mesin kendaraan di tikungan tajam,menyalip para
kompetitor dari sisi dalam dan mencoba uji nyali dalam lap lap panjang yang
nyerempet - nyerempet bahaya. Setelah itu kita sadar, ternyata ada kendala pada
kendaraan kita. Kita perlu ambil sikap cepat, misalnya harus ganti ban karena
sudah aus setelah menjalankan tugas tugas panjang dalam kompetisi di sirkuit.
Kita perlu merenung sejenak, bermuhasabah, menakar kekurangan dan kelebihan
kita sebagai 'Sang Petarung'. Dalam perjalanan setahun ini, mungkin perlu
strategi baru yang lebih hangat dan kontekstual. Sebab para fans berat, para
loyalis, saatnya disuguhi tontonan yang menarik, sekaligus tuntunan yang
dinamis, sehingga menjadi magnet bagi mereka, dan ada sepotong tampilan yang
mereka bangkan. Ketika kita tampil habis - habisan di sirkuit basah ataupun
kering, kemudian dengan ketangguhan 'mesin organisasi' kita bisa memasuki finis
dan masuk juara, maka kibaran bendera yang merayakan kemenangan kita, adalah
wajar adanya. Kemenangan melalui kompetisi yang cantik dan memikat. Bukan
kemenangan yang direkayasa. Pada saat ini kita sudah harus berpikir realistis.
Kita ternyata tak lagi hidup sendirian. Kompetitor sudah mulai menyeruak masuk
kebarisan, menantang kita. Menyikapi dinamika kompetisi ini, kita harus
merapikan lagi program dan kerumahtanggaan kita. Menyegarkan kembali organ -
organ penting dan organ organ pendukung. Sebab hidupnya organisasi ditandai
oleh hidupnya organ - organ itu sendiri.Dengan HUT PGRI Ke 71, kita mencoba
menghidupkan dan memberdayakan organ organ yang ada agar bisa menggeliat. Kalau
tidak pepatah WUJUDUHU KA ADAMIHI, adanya sama dengan tidak adanya menjadi
pembenar kenyataan ini. Mari kita menyemangati diri dan mencoba berkontribusi
lewat PGRI. PGRI baru harus berani melakukan otokritik.Sikap narsis, mabuk
dengan kegantengan yang ada, akan mematikan kreatifitas dan buntunya ruang
untuk berinovasi. HIDUP GURU! HIDUP PGRI! SOLIDARITAS. YES! (*Sekretaris
Kabupaten PGRI Bondowoso) [21/12/2016 11:21] Dimasmul Prajekan:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar