Rabu, 07 Maret 2018

MENYEMPURNAKAN PROSES GERAKAN
Oleh : Dimasmul Prajekan

PGRI sebagai sebuah proses gerakan terus melakukan langkah langkah konsolidatif lewat momentum organisatoris. Rakorpimnas PGRI II yang mengambil tempat di Yogyakarta memiliki makna tersendiri. Sebagai kota budaya dan pelajar di Yogyakarta PGRI bisa melahirkan nilai-nilai intelektualitas yang bersandar pada budaya yang ada.
Selain sebagai ajang refleksi , Rakorpimnas dilaksanakan sebagai wahana menyempurnakan  proses gerakan.PGRI tengah dan terus bergerak untuk keluar dari himpitan dan kepungan modernisasi.Oleh sebab itu restorasi berpikir yang terus mengedepan harus tak henti hentinya dilakukan PGRI. Kalau tidak ,PGRI akan menjadi legenda yang hanya dikenang tapi sudah tak pernah ada dalam dunia nyata.
Kegiatan yang bersentuhan dengan pemenuhan kebutuhan para guru nampaknya menfapatkan tempat yang cukup strategis. Oleh sebab itu, para guru tak boleh ketinggalan dalam merespon keperluan zaman. Tidak bisa tidak para guru harus membuka cakrawala baru bahwa kita tengah hidup ditengah era digital. Indonesian Smartcloud yang awalnya sebagai sebuah mimpi dicoba dibumikan dan layak menjadi suplemen para guru.Kemampuan dalam penguasaan IT, akan menjadi nutrisi bagi para guru dalam menghadapi kenyataan digital sehari hari.
Inilah yang disambut oleh PB PGRI bekerjasama dengan Indonesia Smartcloud beekometment mempermudah sistem informasi berbasis IT. Diharapakan PGRI dari pusat sampai ke daerah mempunyai data yang valid. Semua disediakan gratis oleh oleh  SACI. Bagaimana sekolah  dan PGRI  bisa maju yang sudah disiapkan satu juta user. Diharapkan nantinya data itu bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang valid pula.
Inilah yang perlu diapresiasi pada pelaksanaan Rakorpimnas kali ini. Menurut Dr.Sugiyanto salah seorang pengelola Smartcloud bermimpi menghidupkan koperasi sekolah seperti Alfamart yang ada. Semoga. Inilah yang menjadi nilai plus pertemuan para petinggi PGRI saat ini. Semoga
[24/7/2017 10.52] dimasmulprajekan: POLITIK PGRI DAN PGRI POLITIK
Oleh: Dimasmul Prajekan

Tuntas sudah perhelatan agung Rakorpimnas II PGRI di Yogyakarta. Para peserta telah kembali ke kampung masing - masing. Sampai dikampung para peserta tak kan disambut seperti orang pulang dari Mekah yang mendapat pelukan dan tangis keharuan.Tak ada konvoy dan bunyi rebana yang menyambut kedatangannya.
Tapi  para peserta Rakorpimnas akan disambut dengan serenteng pertanyaan tentang hasil - hasil perjuangan di medan tempur Rakorpimnas. Para guru begitu lebay berharap  Rapat koordinasi kali ini menjadi jawaban yang memuaskan atas permasalahan guru selama ini. Padahal Rakorpimnas bukanlah eksekutor pemegang palu, yang dapat memutuskan masalah secara instan.
Ya maklum saja para anggota di daerah yang seringkali menjadi 'victim' yang mengerikan atas berbagai kebijakan yang selalu meresahkan,ingin keluar dan bisa bernafas lega.
Terlalu utopia jika Rakorpimnas dianggap mampu menjawab segalanya. Paling banter Rakor hanya menjadi Ibu yang melahirkan sebuah rekomendasi untuk diteruskan kepada eksekutif.
Kehadiran Presiden RI, Ir.Joko Widodo di tengah Rakorpimnas paling tidak mampu menjadi pelipur lara dan obat penenang terhadap ribuan peserta yang memadati Aula Indraprasta Sahid Jaya. Paling tidak seragam PGRI yang dikenakan RI 1, menjadi penebar ketenangan para peserta.

Dengan diksi yang yang tertata rapi, Ketua Umum PB PGRI mencoba mengkomunikasikan harapan para anggota dengan santun dan komunikatif. Pak Jokowi pun, memilih narasi - narasi yang banyak mengandung nuansa motivasi. Sang Presiden ternyata bisa juga loh menjadi trainer dan motivator bagi peserta Rakorpimnas. Ada yang memaknai sambutan Presiden terlalu normatif, ada yang menilai terlalu datar, dan kurang gempar.
Belum lagi Dirjen GTK yang berhalangan hadir  dan diwakilkan kepada seorang Direkturnya, menjadikan acara terasa hambar. Sebab rasa haus para peserta untuk berdiskusi dengan Pak Kumis sudah tak tertahankan. Tapi ujung -ujungnya Sang Dirjen gagal hadir gagal paham permasalahan guru. Hingga disini para peserta harus mengurut dada atas setuasi yang mengecewakan ini.
Pada sisi lain, Sang Srikandi, Dr.Unifah Rasyidi yang digempur segudang pertanyaan peserta, harus sabar menjawabnya. Kendati sejatinya Bu Unifah hanyalah pemegang bola, yang akan ditendang ke gawang lawan. Apa yang sudah dilakukan struktur  dibawa payung PB PGRI sudah on the track. Dialog, loby, curahan hati, rekomendasi, mempertautkan harapan, membangun kesamaan persepsi dengan segenap petinggi negeri menjadi justifikasi bahwa PGRI terus bergerak. Peran dan gerakan seperti inilah yang patut dipertahankan. Inilah corak gerakan PGRI.Inilah politik PGRI.Gaya berkhidmat dan berkarya yang sudah banyak berkontribusi dalam tegak robohnya pendidikan negeri ini, tak perlu sungkan untuk memberikan pandangan -pandangannya dalam mempercepat kemajuan pendidikan di Indonesia.PGRI ibarat air yang harus masuk ke pori - pori pendidikan sehingga melahirkan suasana yang lebih segar. PGRI harus menjadi angin yang mampu mengisi ruang -ruang hampa dan pengap. PGRI harus menjadi solusi dari segerobak persoalan panjang yang tak hendak selesai.Disinilaj diperlukan kebeningan mata hati para punggawa negeri untuk menerima masukan yang berarti dari PGRI.

Pada saat yang bersamaan, ketika ruang mengabdi menjadi terlalu sempit, medan jihad pendidikan terlalu pengap, diperlukan medan berkontribusi yang lebih luas. Kader - kader unggul dan handal PGRI yang selama ini piawai melakukan terobosan perlu didorong untuk untuk berkhidmat pada tataran yang lebih luas. Tentu bukan phobia ,jika ada ruang kosong lalu PGRI mengisinya. Jika ada celah untuk menjadi Kabid, Kadin,Camat, Bupati, Gubernur kenapa tidak. Bahkan yang memiliki libido politik untuk masuk di Senayan kenapa tidak. Saya hanya teringat satu kata Sang Ketua Umum di Rakorpimnas kemarin, Rebut !
Bersiap - siaplah memasuki episode baru, era disruption, guru menunjukkan kemampuan memimpinnya yang serba bisa. Andakah itu.? Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...