Oleh: Dimasmul Prajekan"
Revolusi industri 4.0 telah mulai memakan korbannya. Masuklah ke jalan tol. Betapa kasir - kasir cantik di pintu - pintu tol yang melayani pembayaran jasa jalan tol, kini mulai steril dari pandangan. Jalan tol sudah tak butuh pelayanan manusia. Tugas melayani ,telah digantikan oleh mesin. Para costumer tak perlu berurusan dengan sepotong kartu manual di pintu masuk lalu membayar di pintu berikutnya. Para costumer cukup menempelkan kartu e-tol, dan bereslah urusan transaksi keuangan dengan jasa marga.
Wanita cantik yang melayani pembayaran jasa jalan tol telah menjadi salah satu korban revolusi industri 4.0.Karyawati yang selama ini melayani pembayaran jasa jalan tol tiba - tiba harus angkat kaki.
Berapa jumlah pintu tol ? Sebanyak itu pula para karyawati dihempaskan nasibnya oleh kehadiran kartu tol elektronik.
Sepotong pemandangan yang ada di depan mata. Saya yakin pemandangan seperti ini akan terjadi di bilik dunia lain,di sektor - sektor lain.
Saya hanya ingin mengatakan betapa kehidupan ini terus bergerak menuju perubahannya. Perubahan yang telah membongkar kemapanan dalam sendi - sendi kehidupan. Zona - zona nyaman kini menjadi tidak nyaman lagi.Jabatan yang dulu menjadi incaran banyak orang sekarang bisa hilang dari peredaran. Banyak hal yang sudah tergantikan oleh kehadiran mesin dan teknologi.
Jika di luar sana perubahan sudah sedemikian dahsyat dan menyenggol beberapa aspek kehidupan, hal ini akan jua menyisir dunia pendidikan.Dunia pendidikan akan menjadi peta terdampak dari fenomena revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung.
Kehadiran perangkat teknologi canggih pada saatnya akan menjadi air bah tak bisa dibendung yang akan memasuki dunia pendidikan,membanjiri sekolah - sekolah di Indonesia, masuk ke ruang kelas - kelas kita tanpa izin dan permisi? Ayo bersiap - siaplah.
Kalau saat ini smartboard( papan tulis digital) masih terbatas di Gedung Guru PB PGRI Tanah Abang,pada saatnya nanti akan menjadi kebutuhan pendidikan di Indonesia. Kebutuhan mengajar bagi sekian ribu guru di Indonesia.
Hadirnya robot - robot pintar kian menyadarkan kita bahwa peran - peran manusia, peran guru sedikit mulai tereduksi. Sedikit teringan kan.Kehadiran virtual intelegence ( kecerdasan buatan) harus dipersepsi sebagai sarana untuk meringankan beban berat para guru.Bukan meniadakan peran guru.
Persoalan - persoalan mendasar seperti pembentukan karakter, kedisiplinan, membangun semangat nasionalisme, membentuk akhlak siswa hanya bisa dilakukan seorang guru. guru.Sebab kehebatan dan kemuliaan para guru tak kan pernah tergantikan oleh kehadiran sang robot pintar.Bedanya manusia punya sepotong 'hati' sementara sang robot pintar tak memilikinya.Hati para guru yang akan mengisi ruang kosong para siswa menjadi bangunan indah yang diharapkan. Ruang kosong itu bernama akhlak dan kepribadian.
Kehebatan seorang guru akan tetap menjadi daya dorong untuk melahirkan pribadi - pribadi unggul berkarakter, berkepribadian Indonesia.
Kendati seorang guru di era industri 4.0 tak kan pernah tergantikan, tapi kemampuan penguasaan terhadap perangkat teknologi tak bisa ditawar - tawar lagi. Para guru Indonesia, menjadikan perangkat teknologi sebagai sahabat setia yang akan menemani pembelajaran di kelas bahkan diluar jam - jam sekolah sekalipun.Maksudnya dimana saja guru berada, ia tak merasakan kebingungan untuk sekadar mempersiapkan tatap muka pembelajaran esok hari. Di era internet of things
dalam waktu yang amat singkat akan seorang guru akan mendapatkan jawaban yang super cepat dengan mengunjungi link - link pendidikan yang tersedia. Seorang guru bisa berselancar di dunia maya untuk mempersiapkan diri mencari materi yang disimpan di 'awan' agar pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Disinilah urgensi Pembelajaran TIK menemukan pembenarnya. Sudah saatnya Guru dan siswa memiliki kemampuan yang relatif setara dalam penguasaan TIK.
Selama ini kita sudah cukup familiar tentang pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan. Ke depan pembelajaran menyenangkan ini akan banyak disemarakkan dengan media pembelajaran yang lebih hidup dan menarik berbasis teknologi. Tidak bisa tidak.Para guru akan lebih banyak memanfaatkan sarana yang tak terlalu sederhana, seperti saat kita mendongeng dulu. Kehadiran media pembelajaran akan semakin menarik dengan kehadiran audio visual berbasis digital.
Kehadiran berbagai aplikasi pembelajaran yang ada harus terus disosialisasikan kepada semua guru.Sebab realita di lapangan, kemampuan menggunakan perangkat teknologi masih terbatas beberapa orang guru. Bahkan di banyak sekolah masih belum memiliki LCD dan tak mampu mengakses internet. Inilah kendala utama yang terjadi di dunia pendidikan kita.Pada satu sisi, daerah mengalami percepatan dan pemodernan, tapi pada saat yang bersamaan masih banyak daerah belum mampu mengakses informasi dan update pendidikan terkini. Inilah ironi.
Kedepan, dalam memasuki era industri 4.0, selain kasadaran para guru untuk meresponnya dengan terus meningkatkan kemampuan, pada saat yang bersamaan harus ada kemauan politik pemerintah untuk membuat regulasi yang mensupport era industri 4.0. Jangan pake lama. He.....Bagaimana mungkin guru - guru Indonesia akan mengajar sesuai dengan kemauan zaman industri 4.0 jika para guru belum pernah mengenal perangkatnya. Jauh panggang dari api.
Ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan negara tetangga kita, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang lebih awal merespon era digital menjadi cermin bening bahwa pemerintah harus secepatnya membuat kebijakan yang mengarah kepada percepatan dan peningkatan pendidikan di Indonesia.. Sungguh ironi di era internet of things saat ini pemerintah masih gagap melahirkan regulasi baru untuk mengejar ketertinggalan yang ada. Kemendikbud yang bersentuhan langsung dalam proyek - proyek pengadaan sarana prasarana pendidikan harus berani pasang badan untuk memperjuangkan modernisasi pendidikan di Indonesia. Diskusi tentang persoalan tertinggalnya pendidikan di Indonesia jangan menjadi pembenar bahwa kita memang suka dengan suasana yang serba tertinggal.
Maka di era revolusi industri 4.0, guru berpacu dengan waktu untuk terus berubah yang paralel dengan kebijakan para pemegang kekuasaan untuk memberi ruang dan kesempatan para guru untuk terus berkembang.Kalau tidak sama juga bohong.
Kaki Ijen, 7/06/2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar