MEMBANGUN
SOLIDITAS GERAKAN
Oleh
: Dimasmul Prajekan*
Organisasi
itu ibarat sebuah sepeda motor yang terdiri dari beberapa komponen yang tak
bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Ada rangka, ada mesin, ada bahar
bakar, ada ban, dan angin. Semua itu tak mengkin saling meniadakan yang
lainnya, atau yang satu tak mungkin menggantikan yang lainnya. Maka ketika
kunci kontak menunjukkan posisi 'on', dan ketika tombol starter ditekan, mesin
akan langsung hidup. Ketika porsneleng sudah posisi gigi 1, ketika gas ditarik,
sepeda motor akan langsung melaju. Itulah sistem. Sistem merupakan satu mata
rantai yang saling membutuhkan. Itulah soliditas. Mesin yang normal, akan
berfungsi sebagai fungsinya masing masing. Coba bayangkan, ketika anda sedang
menekan tombol starter dan mesin tak hidup hidup. Berarti ada persoalan krusial
pada mesin. Demikian pula pada sebuah organisasi. Organisasi yang terdiri dari
organ organ yang baik. Jika sistem menghendaki organisasi dalam posisi 'on'
maka tak ada satupun organ yang terhenti gerakannya. Dalam istilah orang
pergerakan, seluruh komponen organisasi mulai pengurus sampai ke level anggota
harus memiliki militansi yang baik. Karena anggota yang militanlah yang akan
sanggup menghidupkan raga organisasi. Jika sistem menghendaki dan dibutuhkan,
tentu secara spontan, kita akan menyediakan ruang dalam waktu waktu kita untuk
menghibahkan waktu untuk kebutuhan organisasi. Itulah soliditas. PGRI itu harus
solid. Setiap anggotanya tak boleh terhepnotis hanya untuk kepentingan pribadi.
PGRI memang harus berdiri diatas kepentingan guru. Bukan tidak mungkin kita
memiliki Bupati, Gubernur, Presiden, dan beberapa jabatan strategis berasal
dari guru. Semua itu bukan pepesan kosong, jika semua solid. Oleh sebab itu Pak
Sulistyo(almarhum), mengatakan"guru harus memiliki kekuatan politik".
Dengan memiliki kekuatan politik, para guru memiliki nilai tawar yang tinggi.
Kalau tidak siap siaplah dimangsa oleh orang lain karena kepentingan politis
pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar