Kamis, 01 Maret 2018

MEMBANGUN IMUNITAS PGRI



                                                                                   

                               

                                           MEMBANGUN IMUNITAS PGRI
Add caption
Oleh.Dimasmul Prajekan*

 Usia PGRI sudah 71 tahun. Ibarat manusia, kisaran ini bisa disebut lansia.Bahkan di usia setua ini kita harus bersyukur telah banyak mendapatkan bonus kehidupan. Bagi PGRI, usia organisasi setua itu ternyata bukan menurunnya memori dan melemahnya spirit bertahan hidup. Justru sebaliknya, PGRI makin eksis dan berkibar. Lihatlah lembaga pendidikan yang dikelola PGRI, sejak tingkat TK, hingga perguruan tinggi. Secara jujur sebenarnya PGRI bukan sebatas organisasi profesi, tapi sudah melampauinya, menjadi organisasi kemasyarakatan. Kita menyadari dengan keterbatasan keterbatasan yang kita miliki. Akan tetapi dengan sumber daya manusia anggota yang cukup menjadikan nilai plus bagi PGRI untuk berbuat lebih. Dengan besarnya anggota kita, PGRI tak boleh menjadi 'bubble party'. Besarnya ibarat balon yang menggelembung, tapi isinya kosong. Sehingga orang lain melihat kita menjadi orang pinggiran, kekuatan marjinal, bahkan dengan settingan. penuh intrik akan dimarjinalkan.PGRI dianggap tak layak hidup pada orbit pendidikan Indonesia. Kekuatan kekuatan tertentu, kementrian, telah menjadi Malin Kundang yang tak pernah menyadari keberhasilan perjuangan PGRI.Padahal dunia tahu, naiknya anggaran pendidikan dari 8 % menjadi 20 % adalah petualangan yang penuh resiko dilakukan PGRI.Orang lain menganggapnya semua itu menggelinding dari langit. Padahal perjuangan ke MK, tentu berkeringat. Dan disaat MKmemenangkan gugatan PGRI tentang anggaran pendidikan 20 %, siapakah yang menikmati. Bukan PGRI. Bahkan PGRI menjadi tertuduh, yang kerjanya hanya bikin demo. Akh. Tentu setuasi yang penuh konspirasi seperti itu tak akan berhenti sampai disini. Orang orang yang tak seirama dengan mars heroik PGRI akan menggunakan segala macam cara untuk memadamkan cahaya PGRI. Inilah tantangan. Tentu pertarungan tak lagi bersifat fisik, tapi bisa bersifat psikis. Karena tak kasat mata, maka diperlukan imunitas yang lebih. Kita tidak hanya berharap PGRI mampu bertahan dalam waktu 30 tahun ke depan, tapi kita bisa melompati abad berikutnya sesuai karakter zaman yang dikehendakinya. Kita tak boleh menjadi dinosaurus yang punah ditelan waktu karena tak mampu beradaptasi dengan zaman yang berbeda. Oleh sebab itu diperlukan kekuatan bertahan yang lebih. Semakin bagus organisasi memiliki daya tahan, semakin berpeluang untuk bertahan dalam waktu yang lebih lama. Kita berharap para kader dan pengurus yang menjadi tulang punggung organisasi bisa membuat grand dsign program yang paling dibutuhkan. Demikian pula keberadaan Perguruan Tinggi dibawah naungan PGRI harus menjadi lumbung pemikiran dan menjadi laboratorium penelitian agar anggota memiliki kemampuan yang berlebih. Kita punya UNIPA, UNIKAMA, dan beberapa perguruan tinggi lainnya yang menjadi asset potensial untuk melahirkan pemikiran yang bermanfaat. Pada saat yang bersamaan kita harus terus memacu anggota untuk terus meng upgrade diri sesuai dengan kebutuhan zaman. Sudah saatnya kita memanjakan anggota dengan menghadiahi beberapa alternatif kegiatan yang akan meningkatkan profesionalitasnya. Semoga dengan tetap membangun imunitas organisasi, kita terhindar dari virus virus yang akan mematikan PGRI.
Semoga !!! Bond,20 Des 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...