GURU DI TAHUN POLITIK
Oleh: Dimasmul Prajekan*
Tahun 2018
adalah tahun politik.Pergumulan kembali sengit, penuh intrik,dan
konspiratif.Sebanyak 171 daerah akan menyelenggarakan hajat lima tahunan
pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah( Pilkada Serentak).Mulai
Pilwakot, Pilbup hingga Pilgub.Gemanya mulai meresonansi hingga diujung
negeri.Tensi politik mulai menghangat, jerat - jerat dan jebakan mulai
menyengat. Aroma saling sindir kembali dilakukan.Janji manis semakin
manis. Obral program jadi iklan sehari - hari. Mulai dari provokator dan
komprador turut menunggangi.
Bagi Guru? Inilah momentum
strategis untuk memainkan peran mulianya.Politik bukan ' anak haram'
yang dijauhi dan dicueki. Politik pada dasarnya barang mulia,
sebagaimana mulianya manusia yang menjadi Kholifah fil Ardhi ( wakil
Allah di bumi). Tinggal di tangan manusialah barang mulia itu
dipergunakan. Begitu mulia dan bermartabat sebab politik merupakan rahim
yang akan melahirkan pemimpin yang bermartabat.
Guru memiliki
kewajiban dan hak untuk turut mensukseskan pilkada serentak. Bagi yang
suka berpolitik, inilah saatnya untuk meningkatkan libido
politiknya.Sebab guru punya kepentingan, untuk memilih pemimpin yang
kualitatif, dedikatif,inovatif. Tak berhenti hingga disitu, tapi ada
syarat lain yang perlu digenapi, yaitu dekat dengan guru dan
memperjuangkan serta memuliakannya.Heemmm!
Hal ini sangat urgen bagi
para calon pemilih agar syarat ini masuk ke dalam alam bawah sadar,
bahwa Sang Kandidat adalah proguru. Memiliki keberpihakan pada guru.
Betapa agenda yang menjadi perjuangan guru belum mencapai titik finis.
Adakah
yang berani menerima tantangan guru ? Beranikah Bacalon membayar TPG
tepat waktu dan tepat jumlah? Maukah menyederhanakan admnistrasi para
guru yang selama ini terlalu dijejali soal rumitnya administrasi? Adakah
bacalon yang peduli dengan kekurangan jumlah guru?
Itulah point - point yang bisa diakomodir oleh para Bacalon.
Pilihan
para guru adalah pilihan strategis, yang harus berangkat dari
kebeningan mata hati, bukan sekadar hasil persepsi, halusinasi,dan nafsu
duniawi.
Diskusi - diskusi panjang di internal organisasi haruslah
mengacu kepada kepentingan komunal bukan lagi sempit bersifat temporal
dan individual.
Keputusan dan deal kebijakan saatnya mengedepankan
kepentingan kolektif kolaboratif.Demi kenyamanan bersama.Demi sebuah
derajat lebih pendidikan.
Saatnya Sang Guru menjadi pemain lini
tengah yang mampu mempersembahkan ide ide segarnya yang bisa
diakomodir para bacalon.Kini tak lagi sebagai penggembira yang gemar
berteriak di atas tribun semata.
Berhentilah berpikir guru sebagai
pelengkap penderita, menjadi sapi perah yang hanya diperas suaranya di
pentas pilkada. Pilkada hilang, guru tak lagi dipandang.
Kita
mulai sadar, realita menunjukkan ' guru' mulai dilirik banyak orang.Bak
sosok selebritis, ia bukan hanya cantik dan manis tapi cerdas dan smart.
Guru mulai dibutuhkan suaranya dan dihargai pemikirannya.
Dalam
konteks Pilkada guru punya kepentingan,mengemban misi suci( mission
sacrey) penyampai ilmu dan penyampai kebenaran. Implementasi dari semua
ini perlu suasana dan alam pemerintahan yang mendukung. Disinilah
urgensi mencari pemimpin yang mampu menterjemahkan mimpi - mimpi guru.
Sebagai
sebuah ikhtiar, PB PGRI tak akan pernah merekomendasikan ' nama' untuk
dipilih dan didukung.Semua tentu terpulang kepada para kader yang
memahami langsung medan pertempuran di daerah masing - masing. Disinilah
perlu kehati - hatian terhadap tawaran dan bujuk rayu para kandidat.
Jika tawaran program lebih bersifat normatif, umum dan hampir sama semua
bacalon, maka tengoklah rekam jejak dan kedekatannya pada dunia guru,
dunia pendidikan.
Tentu sangat aneh jika selama ini tak pernah
ngobrol tentang pendidikan, tiba - tiba menjadi 'pahlawan tiba - tiba'
sebagai sosok yang paling jago tentang pendidikan.
Dalam realitas
keseharian, corak permainan seorang guru takkan sevulgar kaum ' ammah'
yang boleh pasang badan dan pasang tarif menjadi tim sukses atau
pengurus parpol. Bentuk peran seperti ini tak berlaku bagi seorang guru.
Kehadiran guru dalam Pilkada adalah ' the invisible hands', tangan -
tangan tak terlihat tapi kaya isyarat. Tangan - tangan yang tak tampak
tapi diyakini memiliki pengaruh yang signifikan. Tangan - tangan tak
terlihat tapi mampu menembus jantung hati konstituen. Ibarat butiran
garam yang larut dalam air, tak tampak oleh pandangan, tapi tak mungkin
diragukan keberadaannya.
Sang Guru tak lagi tampil vulgar, pakai
kaos bacalon, ikut pasang banner, jadi orator dalam panggung kampanye .
Akh semua itu bukan wilayah Sang Guru. Cukuplah baginya dengan kedipan
mata, orang lain mampu menangkap makna yang diekspresikannya. Dengan
'gestur' indahnya, mampu mentransformasikan keinginan yang bergolak
didadanya.Diamnya menjadi remote control kemana arah dan sasaran yang
dikehendakinya.
Sang Guru pun akan paham dalam keadaan terburukpun ia tak boleh mati konyol karena jebakan - jebakan nakal yang dibuat lawan.
Nah, berhati - hatilah.
* Sekretaris PGRI Bondowoso
Sabtu, 03 Maret 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...
-
MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Dimasmul Prajekan "Kami mau berubah, Pak Menteri", kata Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rasyidi,M.Pd, di ...
-
PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN oleh.Dimasmul Prajekan Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso Masih ingatkah kita, ketika kaum guru l...
-
KUALITAS KEMATIAN Oleh.Dimasmul Prajekan Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar