Sabtu, 03 Maret 2018

SANG GURU

GURU DI TAHUN POLITIK
Oleh: Dimasmul Prajekan*

Tahun 2018 adalah tahun politik.Pergumulan kembali sengit, penuh intrik,dan  konspiratif.Sebanyak 171 daerah akan menyelenggarakan hajat lima tahunan pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah( Pilkada Serentak).Mulai Pilwakot, Pilbup hingga Pilgub.Gemanya mulai meresonansi hingga diujung negeri.Tensi politik mulai menghangat, jerat - jerat  dan jebakan mulai menyengat. Aroma saling sindir kembali dilakukan.Janji manis semakin manis. Obral program jadi iklan sehari - hari. Mulai dari provokator dan komprador turut  menunggangi.

Bagi Guru? Inilah momentum strategis untuk memainkan peran mulianya.Politik bukan ' anak haram' yang dijauhi dan dicueki. Politik pada dasarnya barang mulia, sebagaimana mulianya manusia yang menjadi Kholifah fil Ardhi ( wakil Allah di bumi). Tinggal di tangan manusialah barang mulia itu dipergunakan. Begitu mulia dan bermartabat sebab politik merupakan rahim yang akan melahirkan pemimpin yang bermartabat.
Guru memiliki kewajiban dan hak untuk turut mensukseskan pilkada serentak.  Bagi yang suka berpolitik, inilah saatnya untuk meningkatkan libido  politiknya.Sebab guru punya kepentingan, untuk memilih pemimpin yang kualitatif, dedikatif,inovatif.  Tak berhenti hingga disitu, tapi ada syarat lain yang perlu digenapi, yaitu dekat dengan guru dan memperjuangkan serta memuliakannya.Heemmm!
Hal ini sangat urgen bagi para calon pemilih agar syarat ini masuk ke dalam alam bawah sadar, bahwa Sang Kandidat adalah proguru. Memiliki keberpihakan pada guru.

Betapa agenda yang menjadi perjuangan guru belum mencapai titik finis.
Adakah yang berani menerima tantangan guru ?  Beranikah Bacalon membayar TPG tepat waktu dan tepat jumlah?  Maukah menyederhanakan admnistrasi para guru yang selama ini terlalu dijejali soal rumitnya administrasi? Adakah bacalon yang peduli dengan kekurangan jumlah guru?
Itulah point - point yang bisa diakomodir oleh para Bacalon.

Pilihan para guru adalah pilihan strategis, yang harus berangkat dari kebeningan mata hati, bukan sekadar hasil persepsi, halusinasi,dan nafsu duniawi.
Diskusi - diskusi panjang di internal organisasi haruslah mengacu kepada kepentingan komunal bukan lagi sempit bersifat temporal dan individual.
Keputusan dan deal kebijakan saatnya mengedepankan kepentingan kolektif kolaboratif.Demi kenyamanan bersama.Demi sebuah derajat lebih pendidikan.

Saatnya Sang Guru menjadi pemain lini tengah yang mampu mempersembahkan  ide ide segarnya yang bisa diakomodir  para bacalon.Kini tak lagi sebagai penggembira yang gemar berteriak di atas tribun semata.
Berhentilah berpikir guru sebagai pelengkap penderita, menjadi sapi perah yang hanya diperas suaranya di pentas pilkada. Pilkada hilang, guru tak lagi dipandang.

Kita mulai sadar, realita menunjukkan ' guru' mulai dilirik banyak orang.Bak sosok selebritis, ia bukan hanya cantik dan manis tapi cerdas dan smart. Guru mulai dibutuhkan suaranya dan dihargai pemikirannya.

Dalam konteks Pilkada guru  punya kepentingan,mengemban misi suci( mission sacrey) penyampai ilmu dan penyampai kebenaran. Implementasi dari semua ini perlu suasana dan alam pemerintahan yang mendukung. Disinilah urgensi mencari pemimpin yang mampu menterjemahkan mimpi - mimpi guru.

Sebagai sebuah ikhtiar, PB PGRI tak akan pernah merekomendasikan ' nama' untuk dipilih dan didukung.Semua tentu terpulang kepada para kader yang memahami langsung medan pertempuran di daerah masing - masing. Disinilah perlu kehati - hatian terhadap tawaran dan bujuk rayu para kandidat. Jika tawaran program lebih bersifat normatif, umum dan hampir sama semua bacalon, maka tengoklah rekam jejak dan kedekatannya pada dunia guru, dunia pendidikan.
Tentu sangat aneh jika selama ini tak pernah ngobrol tentang pendidikan, tiba - tiba menjadi 'pahlawan tiba - tiba' sebagai sosok yang paling jago tentang pendidikan.

Dalam realitas keseharian, corak permainan seorang guru takkan sevulgar kaum ' ammah' yang boleh pasang badan dan pasang tarif menjadi tim sukses atau pengurus parpol. Bentuk peran seperti ini tak berlaku bagi seorang guru. Kehadiran guru dalam Pilkada adalah ' the invisible hands', tangan - tangan tak terlihat tapi kaya isyarat. Tangan - tangan yang tak tampak tapi diyakini memiliki pengaruh yang signifikan. Tangan - tangan tak terlihat tapi mampu menembus jantung hati konstituen. Ibarat butiran garam yang larut dalam air, tak tampak oleh pandangan, tapi  tak mungkin diragukan keberadaannya.

Sang Guru tak lagi tampil vulgar, pakai kaos bacalon, ikut  pasang banner, jadi orator dalam panggung kampanye . Akh semua itu bukan wilayah Sang Guru. Cukuplah baginya dengan kedipan mata, orang lain mampu menangkap makna yang diekspresikannya. Dengan 'gestur' indahnya, mampu mentransformasikan keinginan yang bergolak didadanya.Diamnya menjadi remote control kemana arah dan sasaran yang dikehendakinya.
Sang Guru pun akan paham dalam keadaan terburukpun ia tak boleh mati konyol karena jebakan - jebakan nakal yang dibuat lawan.
Nah, berhati - hatilah.

* Sekretaris PGRI Bondowoso

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...