PANCASILA
Oleh: Dimasmul Prajekan*
Pancasila terlanjur menjadi
darah daging dan tulang punggung NKRI. Ia telah membumi jauh - jauh
hari sebelum Indonesia memproklamasikan diri. Ia telah lama mengalir
dalam tubuh bangsa. Ia bersemayam dalam raga budaya, larut dalam agama,
etika, dan kepribadian bangsa Indonesia.
Jika seperti itu tentu
tak perlu diperdebatkan lagi kapan Pancasila lahir?Kendati sudah diakui
kelahirannya ,1 Juni 1945 berdasar pemikiran Bung Karno, pemerintah
hanya ingin memberi tanda pengingat, bahwa kita punya sejarah panjang
pergumulan pemikiran yang berakhir manis disepakatinya Pancasila
sebagai Dasar negara. Tanggal 1 Juni 1945 sebagai spirit untuk
membangkitkan kesadaran lama berPancasila.
Jauh - jauh hari, bangsa yang mendiami
kepulauan
Nusantara ini telah lama menterjemahkan nilai - nilai Pancasila dalam
hidup sehari - hari.Menyembah Tuhan, gotong royong, cinta sesama,suka
bermusyawarah, menghargai budaya, anti penjajahan, telah mengalir deras
dalam dada bangsa, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Perkumpulan
Budi Utomo,Muhammadiyah, NU, Taman Siswa, sebagai sebuah entitas yang
lahir pra kemerdekaan, telah memiliki andil yang cukup besar menuju
Indonesia merdeka, dan berPancasila. Bahkan tokoh - tokoh kunci di
Panitia 9, seperti Ir.Soekarno, KH Kahar Muzakir, KH Wahid
Hasyim,A.A.Maramis, merupakan representasi keIndonesiaan dan
keberagaman, begitu hangat bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam
persaudaraan. Mereka telah mempertautkan obsesi bernegara, membuang ego
sempit kelompok, menuju Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika.Hilangnya tujuh
kata dalam Piagam Jakarta, menjadi KeTuhanan Yang Maha Esa, membuktikan
pengorbanan tak ternilai para founding father kita tak perlu
disangsikan lagi.
Orang - orang NU, Muhammadiyah, kaum Marhaenis,
Nasionalis, telah menunjukkan kontribusinya pada tegak dan kokohnya
negeri. Telah terbukti bahwa mereka tak pernah berkhianat terhadap NKRI
dan Pancasila. Dan kita yakin mereka tak akan saling mengklaim, yang
satu lebih Pancasilais ketimbang yang lain.Jika etnik, mazhab politik,
aliran keagamaan, bahasa, seni, budaya, agama,menjadi taman puspa ragam
dalam bentang negara Indonesia, maka Pancasila mempertemukannya. Tak
perlu ada kampanye keberagaman menuju keseragaman.Sebab mengingkari
kenyataan kebhinnekaan itu sendiri. Biarlah aneka bunga itu kuncup dan
mekar dalam taman NKRI, kita tak perlu membonsai gerakannya.
Kita
beruntung punya Pancasila. Deal - deal luhur para founding father kita
yang meninggalkan kepentingan kelompok, dan mengutamakan kepentingan '
unity' Indonesia. Resiko - resiko desintegrasi yang demikian terbuka dan
memberi peluang yang sangat besar dapat diminimalisasi di titik zero,
karena kehadiran Pancasila.Setiap diri dan kelompok telah berupaya
memposisikan diri sebagai perawat kemajemukan, bhinneka tunggal Ika,
dalam bingkai dasar Pancasila.
Orang NU yang tradisionalis, orang
Muhammadiyah yang modernis, dan orang Kristiani bisa bersaudara karena
punya perekat Pancasila. Orang nasionalis bisa berdiskusi panjang lebar
dengan kelompok relejius, karena ada dirajut falsafah Pancasila.
Ideologi
- ideologi impor, yang mengalir di tengah tengah bangsa, tak perlu
dirisaukan jika imunitas berPancasila tetap terjaga. Caranya tetap
menghidupkan nilai - nilai luhur yang bertebaran disekitar kita.
Dalam
realitas kekinian, wacana yang head to head dengan Pancasila, tentu
menjadikan negeri kita sedikit mengalami kerisauan.Diskursus anti
demokrasi, lahirnya kelompok a politik, merupakan goyangan yang perlu
diantisipasi.Jika tidak ia akan menjadi radikal bebas yang kian
mengeras.
Pola pikir yg lebih tektualis dan puritan berdasar kitab
suci, telah menjadi alasan untuk lebih salaf dan murni. Sebab demokrasi,
politik dianggap tak pernah dicontohkan oleh Sang Nabi.
Pada sisi lain,Buya Hamka dalam buku Islam dan Pancasila, telah mengupas tuntas tentang Pancasila dalam pandangan Islam.
Mengutip
beberapa nash Quran, kelima sila dalam Pancasila include dalam ajaran
Islam. Mulai dari Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan,
Keadilan sosial adalah tema - tema besar yang linear dengan ajaran
Islam.
Bung Karno sendiri sebagai sosok nasionalis, Sang
Penggagas istilah Pancasila, mengalir darah relegi ( Islam). Sebuah
dokumen tertulis Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno, Anggota Setia
Muhamadiyah.
Dokumen itu menunjukkan bahwa dalam diri Bung Karno mengalir darah nasionalis religius dan relijius nasionalis.
Kendati
memiliki perbedaan tajam antara Ir.Soekarno dengan Muhamad Natsir
tentang Agama dan Negara, tapi Bung Karno tak sampai kehilangan rasa
persaudaraannya dengan Natsir untuk tetap menjunjung tinggi dasar negara
Pancasila.Demikian pula Natsir, ia tetap menghargai perbedaan dalam
persaudaraan.
Era pemerintahan Gus Dur, salah satu sumbangsih
terbesar dari politik akomodatifnya adalah mengakui Kong Fu Tsu sebagai
agama disamping lima agama lainnya.Jiwa humanisnyalah yang mengatakan
bahwa mayoritas seharusnya melindungi minoritas.
Para tokoh dan
pemimpin bangsa telah banyak berkontribusi terhadap tegaknya dasar
Negara Pancasila. Mereka tak hanya sebatas memekikkan slogan dan
propaganda mempertahankan Pancasila dan NKRI, tapi telah masuk diranah
aksi dan implementasi Memperagakan sikap - sikap sebagai seorang
Pancasilais. Jiwa -jiwa Pancasila ada dalam pribadi - pribadi yang
konsisten melaksanakannya.Ia bisa berada dalam rongga organisasi, tubuh
jamaah, lingkaran sebuah komunitas, yang begitu teguh dan teduh
menghargai karya pemikiran dan perjuangan para pendahulu.
Kini
tinggal kita, generasi berikutnya yang menjadi 'jalan layang'
mengaktualisasikan nilai - nilai Pancasila dalam kehidupan berkeluarga
berbangsa dan bernegara. Konsep luhur Revolusi Mental yang digagas
Presiden Jokowi, tak lagi bertepuk sebelah tangan. Ia harus diteruskan
dalam bentuk aksi dan imlementasi, bukan diksi dan konotasi yang
memikat.
Mungkin disinilah peran UKP - PIP mulai digugat. He....
Salam Pancasila.
( Sekretariat PGRI Kabupaten Bondowoso)
Sabtu, 03 Maret 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...
-
MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Dimasmul Prajekan "Kami mau berubah, Pak Menteri", kata Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rasyidi,M.Pd, di ...
-
PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN oleh.Dimasmul Prajekan Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso Masih ingatkah kita, ketika kaum guru l...
-
KUALITAS KEMATIAN Oleh.Dimasmul Prajekan Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar