URGENSI KADERISASI DALAM PGRI
oleh.Dimasmul Prajekan*
Organisasi
itu rumah kedua bagi para kader.Selain di rumah sendiri seseorang bisa
melemparkan curahan hati pada orang - orang terdekatnya. Demikian pula para
aktifis di PGRI, para kader akan banyak berinteraksi, melakukan koordinasi, dan
mengkomunikasikan detail program di organisasi. Organisasi adalah tempat
berhimpun membangun kekuatan. Karena para aktifis sadar betul,mereka tak
mungkin bermain sebagai single fighter, yang akan mampu memecahkan setiap
jengkal persoalan. Gaya - gaya bermain yang lebih mengedepankan 'kesendirian'
akan mudah mengalami rasa frustasi manakala jargon - jargon perjuangan tak
mampu mengedor gerbang pertahanan dan tujuan akhir. Ketika kegagalan mulai
menimpanya, ia mulai mundur teratur dari laga kesendirian. PGRI sebagai gerakan
kolektif kolegial lebih memufakati kebersamaan. Sebab semakin banyak point -
point yang diperjuangkan, semakin rinci sistem pembagian tugas dan wilayah
kerja, semakin dibutuhkan banyak orang, untuk mengisinya. Single fighter sudah
tidak mendapat tempat didalamnya. Itulah urgensi sebuah musyawarah, diskusi,
rakornas ,konkernas untuk mempertajam sikap dan tujuan organisasi.Untuk
mewujudkan dan mengcover kebutuhan organisasi diperlukan kader - kader. Semakin
baik tingkat kaderisasi sebuah organisasi, semakin mapan dan matang eksistensi
oeganisasi. Sitstem rekrutment kader dan training - training kepada para kader
tak boleh dinomorduakan. Kaderisasai harus mendapatkan porsi perhatian yang
cukup sebelum melirik pada segebok program lain yang sudah disiapkan. Cobalah
setback ingatan kita. Sebelum Indonesia merdeka,sudah berdiri perkumpulan -
perkumpulan yang didirikan para pemuda dankaum cerdik pandai. Tahun 1908,
dr.Soetomo mendirikan Budi Utomo. Disusul pada tahun 1912, KH.Ahmad Dahlan
mendirikan Muhammadiyah. Pada tahun 1922 kembali berdiri perkumpulan Taman
Siswa,yang didirikan Ki Hajar Dewantoro. Pada tahun 1926 berdiri lagi Nahdlatul
Ulama oleh KH.Hasyim Asyari. Kemudian pada tahun 1945 berdiri PGRI, yang
merupakan fusi dari beberapa organisasi guru yang ada. Sebenarnya masih banyak
organisasi lain baik yang mengambil jalur politik paraktis atau diluarnya. Saya
mengambil 5 contoh organisasi diatas karena organisasi itu telah mewakili anak
zamannya. Dari kelima organisasi itu dapat diklasifikasikan menjadi menjadi 3
kategori. Ada yang terus eksis dan berkibar, ada yang masih survive, dan ada
yang sudah mati. Muhammadiyah,NU, dan PGRI masih eksis dan bekibar. Sementara
Taman Siswa masih survive. Sementara Budi Utomo sudah hilang dari peredaran.
Saya tak bermaksud mengecilkan arti para tokoh pendiri organisasi. Dokter
Sutomo tetbilang cerdik pandai, pahlawan nasional, dan pemikiran - pemikirannya
mengalir begitu hebat menuju Indonesia merdeka. Demikian juga Taman Siswa tak
mampu terbang cepat, kendati kita sudah menempatlan Ki Hajar Dewantoro swbagai
Bapak Pendidikan kita. Sementara NU,Muhammadiyah, dan PGRI mampu meresonansi,
memblow up gagasan - gagasannya, dan terus berkontribusi untuk pendidikan tanah
air. Bahkan NU dan Muhammadiyah telah mampu mengantarkan kader - kader
terbaiknya untuk menjadi Menteri. Mengapa Budi Utomo hilang dari peredaran?
Jawabnya,karena Budi Utomo tak mampu melakukan kaderisasi yang baik. Sementara
Muhammadiyah dan NU memiliki sistem pengkaderannya sendiri. Organisasi yang
baik tentu memiliki sistem pengkaderan yang baik, terstruktur,dan berjenjang.
Pengkaderan yang baik adalah patah tumbuh hilang berganti, hilang satu tumbuh
seribu. Kita berhadap PGRI masih mampu melakukan kaderisasi yang baik dan
sehat, sehingga mampu berkontribusi bagi tegak dan kokohnya pendidikan di tanah
air. Dengan kemampuan para kader yang mumpuni tak tertutup kemungkinan ada yang
diamanahi menjadi menteri. Kalau selama ini kita masih belum mendapat
kepercayaan menjadi eksekutif, kemungkinan kita belum dianggap memiliki kader
yang pantas mendudukinya. Betul????? Wallahu a'lam
(*Sekretaris
PGRI Bondowoso)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar