Kamis, 01 Maret 2018

URGENSI KADERISASI DALAM PGRI



URGENSI KADERISASI DALAM PGRI
oleh.Dimasmul Prajekan*


Organisasi itu rumah kedua bagi para kader.Selain di rumah sendiri seseorang bisa melemparkan curahan hati pada orang - orang terdekatnya. Demikian pula para aktifis di PGRI, para kader akan banyak berinteraksi, melakukan koordinasi, dan mengkomunikasikan detail program di organisasi. Organisasi adalah tempat berhimpun membangun kekuatan. Karena para aktifis sadar betul,mereka tak mungkin bermain sebagai single fighter, yang akan mampu memecahkan setiap jengkal persoalan. Gaya - gaya bermain yang lebih mengedepankan 'kesendirian' akan mudah mengalami rasa frustasi manakala jargon - jargon perjuangan tak mampu mengedor gerbang pertahanan dan tujuan akhir. Ketika kegagalan mulai menimpanya, ia mulai mundur teratur dari laga kesendirian. PGRI sebagai gerakan kolektif kolegial lebih memufakati kebersamaan. Sebab semakin banyak point - point yang diperjuangkan, semakin rinci sistem pembagian tugas dan wilayah kerja, semakin dibutuhkan banyak orang, untuk mengisinya. Single fighter sudah tidak mendapat tempat didalamnya. Itulah urgensi sebuah musyawarah, diskusi, rakornas ,konkernas untuk mempertajam sikap dan tujuan organisasi.Untuk mewujudkan dan mengcover kebutuhan organisasi diperlukan kader - kader. Semakin baik tingkat kaderisasi sebuah organisasi, semakin mapan dan matang eksistensi oeganisasi. Sitstem rekrutment kader dan training - training kepada para kader tak boleh dinomorduakan. Kaderisasai harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup sebelum melirik pada segebok program lain yang sudah disiapkan. Cobalah setback ingatan kita. Sebelum Indonesia merdeka,sudah berdiri perkumpulan - perkumpulan yang didirikan para pemuda dankaum cerdik pandai. Tahun 1908, dr.Soetomo mendirikan Budi Utomo. Disusul pada tahun 1912, KH.Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Pada tahun 1922 kembali berdiri perkumpulan Taman Siswa,yang didirikan Ki Hajar Dewantoro. Pada tahun 1926 berdiri lagi Nahdlatul Ulama oleh KH.Hasyim Asyari. Kemudian pada tahun 1945 berdiri PGRI, yang merupakan fusi dari beberapa organisasi guru yang ada. Sebenarnya masih banyak organisasi lain baik yang mengambil jalur politik paraktis atau diluarnya. Saya mengambil 5 contoh organisasi diatas karena organisasi itu telah mewakili anak zamannya. Dari kelima organisasi itu dapat diklasifikasikan menjadi menjadi 3 kategori. Ada yang terus eksis dan berkibar, ada yang masih survive, dan ada yang sudah mati. Muhammadiyah,NU, dan PGRI masih eksis dan bekibar. Sementara Taman Siswa masih survive. Sementara Budi Utomo sudah hilang dari peredaran. Saya tak bermaksud mengecilkan arti para tokoh pendiri organisasi. Dokter Sutomo tetbilang cerdik pandai, pahlawan nasional, dan pemikiran - pemikirannya mengalir begitu hebat menuju Indonesia merdeka. Demikian juga Taman Siswa tak mampu terbang cepat, kendati kita sudah menempatlan Ki Hajar Dewantoro swbagai Bapak Pendidikan kita. Sementara NU,Muhammadiyah, dan PGRI mampu meresonansi, memblow up gagasan - gagasannya, dan terus berkontribusi untuk pendidikan tanah air. Bahkan NU dan Muhammadiyah telah mampu mengantarkan kader - kader terbaiknya untuk menjadi Menteri. Mengapa Budi Utomo hilang dari peredaran? Jawabnya,karena Budi Utomo tak mampu melakukan kaderisasi yang baik. Sementara Muhammadiyah dan NU memiliki sistem pengkaderannya sendiri. Organisasi yang baik tentu memiliki sistem pengkaderan yang baik, terstruktur,dan berjenjang. Pengkaderan yang baik adalah patah tumbuh hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu. Kita berhadap PGRI masih mampu melakukan kaderisasi yang baik dan sehat, sehingga mampu berkontribusi bagi tegak dan kokohnya pendidikan di tanah air. Dengan kemampuan para kader yang mumpuni tak tertutup kemungkinan ada yang diamanahi menjadi menteri. Kalau selama ini kita masih belum mendapat kepercayaan menjadi eksekutif, kemungkinan kita belum dianggap memiliki kader yang pantas mendudukinya. Betul????? Wallahu a'lam

(*Sekretaris PGRI Bondowoso)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...