CHEMISTRY KEPEMIMPINAN
DALAM PGRI
Oleh : Dimasmul Prajekan*
Munculnya
gagasan sistem paket calon dalam pemilihan Pengurus Besar PGRI sebelum kongres
berlangsung, melahirkan pro dan kontra. Gagasan itu dianggap bukan tradisi yang
mengakar dalam PGRI. Dalam AD ARTpun tak
kita temui tentang sistem paket calon itu. Tak sedikit yang mendukung demikian
pula banyak yang menolak. Biasalah, di alam demokrasi, sesuatu yang baru memerlukan
waktu yang cukup untuk dicerna dan diterima. Kendati ditolakpun tak jadi masalah.
Namanya saja sebuah gagasan.
Sebagai
sebuah gagasan saya kira baik –baik saja. Sebagai sebuah pemikiran yang mengarah
kepada terbangunnya budaya positif, hal itu wajar – wajar saja. Hanya yang
menjadi masalah, lahirnya sebuah gagasan tidak melahirkan keributan – keributan
baru. Semangat berorganisasi yang sudah tumbuh, tak mungkin harus direcoki oleh
keinginan yang dianggap terlalu prematur. Memang harus ada masa untuk berpikir,
sehingga ketika sebuah gagasan diterima, benar – benar menjadi keputusan
organisasi.
Semangat
dari gagasan itu sebenarnya sangat sederhana. Ide ini mewakili sebuah kegalauan
dan kekhawatiran terhadap kinerja organisasi yang seringkali tidak maksimal
dikarenakan perbedaan cara pandang terhadap berbagai masalah. Jika setiap
person yang ada dalam kepengurusan seringkali terlibat dalam perbedaan yang menajam,
dapat dipastikan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, kepengurusan akan
oleng. Pada saatnya kepengurussan akan karam sebelum waktunya.
Dari
pengalaman seperti itulah, sangat mungkin jika seorang ketua umum, harus
didukung oleh pengurus lain yang berpikiran saling mendukung, saling
melengkapi. Dalam perjalanannya sangat mungkin seorang Ketua Umum kekurangan strategi
untuk mengetam hasil sebuah perjuangan. Disanalah perlunya masukan secara
komplementer dari para pengurus lain. Perdebatan hanya akan terjadi para
wilayah teknis semata. Bukan masalah – masalah mendasar.
Dalam
organisasi apapun tak akan terelakkan perbedaaan dalam pengurus melihat cara
pandang terhadap masalah. Namun jika perbedaan terkemas dalam rangka melahirkan
tujuan –tujuan besar, tentu perbedaan hanyalah heterogenitas pemikiran, yang
endingnya adalah keberagaman menuju keseragaman. Setiap pengurus sejatimya
harus saling menguatkan, bukan melemahkan. Tak dapat dibayangkan jika sang
Ketua Umum bersikap A, tapi yang lain memilih opsi berbeda
Maka
syarat yang tak pernah tertuang dalam persyaratan pencalonan dalam sebuah
organisasi adalah chemistry ( kecocokan
). Dalam contoh sederhana adalah seorang suami istri yang sama – sama cerdas.
Akan tetapi dalam kesehariannya, antara suami istri itu tak pernah menjumpai
titik temu terhadap persoalan yang muncul. Selalu saja berbeda pendapat dalam
menyikapi masalah. Akhirnya keduanya merasakan kebosanan yang memuncak. Itulah
pentingnya chemistry.
Chemistry
tak pernah muncul dalam AD ART. Sebab hal itu tak dapat diukur sebagai sebuah
persyaratan yang kasat mata. Ia ada tapi tak terlihat. Ia tak dapat diraba tapi
bisa dirasa. Kecocokan tak mungkin diperagakan, tapi kenyamanan akan dapat
dirasakan. Ia sangat dibutuhkan bukan sekadar diinginkan. Oleh sebab itu sangat
masuk akal jika seorang calon Presiden akan memilih calon wakil presiden yang
memiliki chemistry dalam kepemimpinan. Demikian pula di saat memilih para
menteri untuk duduk di kabinet kerja. Sang Presiden harus memilih sosok yang
bisa diajak bekerja sama dan memiliki kecocokan.
Dalam
kepemimpianan kolektif kolegial PGRI, ide – ide yang mengalir bersih dan ditangkap
oleh hati yang bersih akan menjadi program yang bersih. Kepemimpinan kolektif
kolegial mengajarkan tentang efektifitas kepemimpinan bersama. Kepemimpinan
yang melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam mengeluarkan keputusan
atau kebijakan melalui mekanisme yang ditempuh melalui musyarawah mufakat atau
pemungutan suara dengan mengedepankan semangat kebersamaan.
Ketika
sistem paket ditolak, dinamika prakongres berkembang luar biasa. Munculnya
sejumlah nama dalam bursa kandidat, menunjukkan demokrasi di PGRI menuju
pendewasaannya. Di saat dukungan mengalir kepada seorang Ketua Umum, sang Calonpun bergegas menginventarisasi para
kader yang layak mendampinginya dalam pemilihan. Hal inipun terjadi pada calon
lainnya. Ketika sekelompok orang memberikan
mandat pencalonan, iapun buru –buru untuk menggeret kader –kader lainnya.
Kendati pemilihan pengurus berbasis personal, dalam realitanya sang Ketua Umum
telah membisikkan kepada para pendukung tentang para pendamping di
kepengurusan.
Saya
pikir inilah tradisi baru di PGRI, dan wajar –wajar saja. Tak perlu dianggap
merusak kemapanan. Dinamika model pemilihan seperti itu merupakan jalan tengah
dari sistem paket dengan sistem personal murni. Hal ini sebagai bagian
membangun chemistry yang sehat dalam kepengurusan. Guncangan –guncangan
perbedaan dalam menterjemahkan persoalan yang muncul tak seharusnya menjadi
gempa yang terpolarisasi dalam kutub berbeda.Sehingga terkesan sebagai kepengurusan
yang sakit. Tidak. Pengurus terpilih harus fresh, tidak terkontaminasi oleh suasana
kompetisi kalah menang. Pengurus terpilih menjadi tempat berlabuh dalam segenap
permasalahan anggota. Semuanya harus kompak, seirama, satu suara dalam
menyikapi keadaan. Dermikian pula kepada para kader yang belum terpilih tak perlu
membangun oposisi yang berseberangan dengan pengurus terpilih. Tetaplah
memposisikan sebagai kader PGRI. Disanalah jiwa militansi kita diuji. Jika
setiap kader menerima sebuah kenyataan sebagai sebuah konsekuensi, kita akan
lulus sebagai kader militan yang terpuji. Jika tidak, Sang Kader akan mengalami
degradasi mental dan depresi.
PGRI
sebagai pengamal model kepemimpinan kolektif kolegial, telah menampakkan
keberhasilannya dan akan menjadi teladan
kepemimpinan bagi organisasi lain. Alhamdulillah, pascakongrers PGRI yang lalu
riak –riak ketidakpuasan tidak memasuki wilayah mainstream. Bahkan ucapan
selamat kepada pengurus terpilih, datang dari berbagai penjuru. Banyak pihak
yang sumringah dan menaruh harapan kepada pengurus terpilih untuk lebih banyak
berkontribusi terhadap denyut pembangunan pendidikan di Indonesia. Di internal
organisasi kehadiran pengurus terpilih akan menjadi obat inovasi demi segarnya
bangunan PGRI.
Intensitas
persoalan yang menggunung baik di luar maupun di dalam, memerlukan kesamaaan
langkah setiap person yang ada di kepengurusan. Saya yakin dengan hadirnya figur - figur muda dan multi talenta, yang datang
dari berbagai disiplin ilmu akan semakin menopang keberadaan Pengurus Besar
PGRI menjadi kekuatan yang handal dan bisa diandalkan. Pengurus Besar akan
menjadi ruang pamer bagi PGRI dan menjadi sesuatu yang dibanggakan. Sebab
ketika para petinggi negeri ingin tahu banyak tentang kePGRIan, ia cukup
mengenal tentang figur – figur Pengurus Besar. Dari sederert nama yang terpilih
yang merepresentsikan suara Indonesia dari Sabang sanmpai Merauke ( walau belum
sempurna ), memberikan sinyal kuat bahwa PGRI akan menjadi kekuatan moral yang
tak perlu diragukan.
·
Penulis adalah Sekretaris PGRI Bondowoso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar