Selasa, 27 Agustus 2019

ARTIKEL


                      CHEMISTRY KEPEMIMPINAN DALAM PGRI
                  Oleh : Dimasmul Prajekan*


Munculnya gagasan sistem paket calon dalam pemilihan Pengurus Besar PGRI sebelum kongres berlangsung, melahirkan pro dan kontra. Gagasan itu dianggap bukan tradisi yang mengakar dalam PGRI.  Dalam AD ARTpun tak kita temui tentang sistem paket calon itu. Tak sedikit yang mendukung demikian pula banyak yang menolak. Biasalah, di alam demokrasi, sesuatu yang baru memerlukan waktu yang cukup untuk dicerna dan diterima. Kendati ditolakpun tak jadi masalah. Namanya saja sebuah gagasan.
            Sebagai sebuah gagasan saya kira baik –baik saja. Sebagai sebuah pemikiran yang mengarah kepada terbangunnya budaya positif, hal itu wajar – wajar saja. Hanya yang menjadi masalah, lahirnya sebuah gagasan tidak melahirkan keributan – keributan baru. Semangat berorganisasi yang sudah tumbuh, tak mungkin harus direcoki oleh keinginan yang dianggap terlalu prematur. Memang harus ada masa untuk berpikir, sehingga ketika sebuah gagasan diterima, benar – benar menjadi keputusan organisasi.
            Semangat dari gagasan itu sebenarnya sangat sederhana. Ide ini mewakili sebuah kegalauan dan kekhawatiran terhadap kinerja organisasi yang seringkali tidak maksimal dikarenakan perbedaan cara pandang terhadap berbagai masalah. Jika setiap person yang ada dalam kepengurusan seringkali terlibat dalam perbedaan yang menajam, dapat dipastikan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, kepengurusan akan oleng. Pada saatnya kepengurussan akan karam sebelum waktunya.
            Dari pengalaman seperti itulah, sangat mungkin jika seorang ketua umum, harus didukung oleh pengurus lain yang berpikiran saling mendukung, saling melengkapi. Dalam perjalanannya sangat mungkin seorang Ketua Umum kekurangan strategi untuk mengetam hasil sebuah perjuangan. Disanalah perlunya masukan secara komplementer dari para pengurus lain. Perdebatan hanya akan terjadi para wilayah teknis semata. Bukan masalah – masalah mendasar.
            Dalam organisasi apapun tak akan terelakkan perbedaaan dalam pengurus melihat cara pandang terhadap masalah. Namun jika perbedaan terkemas dalam rangka melahirkan tujuan –tujuan besar, tentu perbedaan hanyalah heterogenitas pemikiran, yang endingnya adalah keberagaman menuju keseragaman. Setiap pengurus sejatimya harus saling menguatkan, bukan melemahkan. Tak dapat dibayangkan jika sang Ketua Umum bersikap A, tapi yang lain memilih opsi berbeda
            Maka syarat yang tak pernah tertuang dalam persyaratan pencalonan dalam sebuah organisasi adalah chemistry ( kecocokan ). Dalam contoh sederhana adalah seorang suami istri yang sama – sama cerdas. Akan tetapi dalam kesehariannya, antara suami istri itu tak pernah menjumpai titik temu terhadap persoalan yang muncul. Selalu saja berbeda pendapat dalam menyikapi masalah. Akhirnya keduanya merasakan kebosanan yang memuncak. Itulah pentingnya chemistry.
            Chemistry tak pernah muncul dalam AD ART. Sebab hal itu tak dapat diukur sebagai sebuah persyaratan yang kasat mata. Ia ada tapi tak terlihat. Ia tak dapat diraba tapi bisa dirasa. Kecocokan tak mungkin diperagakan, tapi kenyamanan akan dapat dirasakan. Ia sangat dibutuhkan bukan sekadar diinginkan. Oleh sebab itu sangat masuk akal jika seorang calon Presiden akan memilih calon wakil presiden yang memiliki chemistry dalam kepemimpinan. Demikian pula di saat memilih para menteri untuk duduk di kabinet kerja. Sang Presiden harus memilih sosok yang bisa diajak bekerja sama dan memiliki kecocokan.
            Dalam kepemimpianan kolektif kolegial PGRI, ide – ide yang mengalir bersih dan ditangkap oleh hati yang bersih akan menjadi program yang bersih. Kepemimpinan kolektif kolegial mengajarkan tentang efektifitas kepemimpinan bersama. Kepemimpinan yang melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam mengeluarkan keputusan atau kebijakan melalui mekanisme yang ditempuh melalui musyarawah mufakat atau pemungutan suara dengan mengedepankan semangat kebersamaan.
            Ketika sistem paket ditolak, dinamika prakongres berkembang luar biasa. Munculnya sejumlah nama dalam bursa kandidat, menunjukkan demokrasi di PGRI menuju pendewasaannya. Di saat dukungan mengalir kepada seorang Ketua Umum,  sang Calonpun bergegas menginventarisasi para kader yang layak mendampinginya dalam pemilihan. Hal inipun terjadi pada calon lainnya. Ketika sekelompok  orang memberikan mandat pencalonan, iapun buru –buru untuk menggeret kader –kader lainnya. Kendati pemilihan pengurus berbasis personal, dalam realitanya sang Ketua Umum telah membisikkan kepada para pendukung tentang para pendamping di kepengurusan.
            Saya pikir inilah tradisi baru di PGRI, dan wajar –wajar saja. Tak perlu dianggap merusak kemapanan. Dinamika model pemilihan seperti itu merupakan jalan tengah dari sistem paket dengan sistem personal murni. Hal ini sebagai bagian membangun chemistry yang sehat dalam kepengurusan. Guncangan –guncangan perbedaan dalam menterjemahkan persoalan yang muncul tak seharusnya menjadi gempa yang terpolarisasi dalam kutub berbeda.Sehingga terkesan sebagai kepengurusan yang sakit. Tidak. Pengurus terpilih harus fresh, tidak terkontaminasi oleh suasana kompetisi kalah menang. Pengurus terpilih menjadi tempat berlabuh dalam segenap permasalahan anggota. Semuanya harus kompak, seirama, satu suara dalam menyikapi keadaan. Dermikian pula kepada para kader yang belum terpilih tak perlu membangun oposisi yang berseberangan dengan pengurus terpilih. Tetaplah memposisikan sebagai kader PGRI. Disanalah jiwa militansi kita diuji. Jika setiap kader menerima sebuah kenyataan sebagai sebuah konsekuensi, kita akan lulus sebagai kader militan yang terpuji. Jika tidak, Sang Kader akan mengalami degradasi mental dan depresi.
            PGRI sebagai pengamal model kepemimpinan kolektif kolegial, telah menampakkan keberhasilannya  dan akan menjadi teladan kepemimpinan bagi organisasi lain. Alhamdulillah, pascakongrers PGRI yang lalu riak –riak ketidakpuasan tidak memasuki wilayah mainstream. Bahkan ucapan selamat kepada pengurus terpilih, datang dari berbagai penjuru. Banyak pihak yang sumringah dan menaruh harapan kepada pengurus terpilih untuk lebih banyak berkontribusi terhadap denyut pembangunan pendidikan di Indonesia. Di internal organisasi kehadiran pengurus terpilih akan menjadi obat inovasi demi segarnya bangunan PGRI.
            Intensitas persoalan yang menggunung baik di luar maupun di dalam, memerlukan kesamaaan langkah setiap person yang ada di kepengurusan. Saya yakin dengan hadirnya figur  - figur muda dan multi talenta, yang datang dari berbagai disiplin ilmu akan semakin menopang keberadaan Pengurus Besar PGRI menjadi kekuatan yang handal dan bisa diandalkan. Pengurus Besar akan menjadi ruang pamer bagi PGRI dan menjadi sesuatu yang dibanggakan. Sebab ketika para petinggi negeri ingin tahu banyak tentang kePGRIan, ia cukup mengenal tentang figur – figur Pengurus Besar. Dari sederert nama yang terpilih yang merepresentsikan suara Indonesia dari Sabang sanmpai Merauke ( walau belum sempurna ), memberikan sinyal kuat bahwa PGRI akan menjadi kekuatan moral yang tak perlu diragukan.

·         Penulis adalah Sekretaris PGRI Bondowoso
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...