Peristiwa Susur sungai
SMPN 1 Turi, sudah sedikit cooling down.
Tapi dampak ikutannya akan meresonansi kemana - mana. Ribuan guru merasa
tersinggung dengan tragedi pembotakan itu. Wajar jika komentar - komentar
melampaui batas yang sebenarnya. Sebab kasus pembotakan guru dan pelatih itu
telah mencubit sisi emosional guru. Pantas saja bila para guru di Indonesia
merasa terusik. Sebab hal itu dianggap memasuki wilayah yang amat sakral, yang
paling dijaga selama ini, yakni martabat guru. Guru merasa dipermalukan di
depan camera para peliput berita. Ditelanjangi kemuliaannya dihadapan publik
Indonesia.
Sebagian orang mengganggap
permasalahan itu sudah selesai.Tinggal para tersangka akan menjalani proses
hukum yang sesungguhnya. Ya mungkin kita tidak menyadari bahwa tragedi
tenggelamnya 10 peserta susur sungai akan melahirkan efek psikhologis
berkepanjangan bagi para guru di Indonesia. Para guru dan pelatih yang
mendampingi para peserta dianggap teledor melakukan sebuah kegiatan ekstra
kurikuler. Boleh saja, sebuah analisis mengemuka dan diarahkan kepada para guru
pelatih.
Kejadian susur sungai
jika dianggap sebuah kelalaian para pembina, boleh jadi. Yang jelas,
pelaksanaan kegiatan itu terselenggara, setelah mengkaji berbagai hal terkait keselamatan anak.
Termasuk masalah keadaan cuaca. Sangat
tidak masuk akal dalam cuaca buruk Sang Guru akan memaksakan kegiatan susur
sungai untuk tetap berlangsung.
Kejadian serupa pernah
terjadi di daerah Tlogosari Bondowoso. Seorang siswa MTs At Taqwa yang bermain
tubing ( ban dalam kendaraan ) yang dipandu seorang ahli. Secara tidak terduga,
air datang tiba –tiba. Anakpun hilang terbawa arus air sungai. Maka komenter
pro kontrapun bermunculan.
Mungkin banyak orang
yang protes dengan nada nyinyir
memojokkqn para guru dan pembina Pramuka agar diganjar hukuman yang berat.
Komentar begitu masif dan viral di media sosial sebagai sikap spontan melihat
sepuluh anak melayang dalam sekejap. Wajar saja.
Lama saya merenung
tentang dampak lanjutan jika, kesalahan itu terus dan berulang - ulang
dituduhkan kepada para pembina Pramuka yang lalai itu. Pada saatnya dunia pendidikan akan mengalami blank spot pengabdian. Sebuah titik
kosong sunyi oleh aktifitas.
Blank
spot
sebenarnya adalah keadaan tidak ada sinyal dalam komunikasi. Keadaan kosong,
kita tak lagi bisa berkomunikasi dengan siapapun, mencurahkan ide kepada
siapapun. Hal itu bisa berlangsung dalam sekejap saja, ataupun dalam rentang
waktu yang cukup lama.
Kata blank spot saya analogikan kepada keadaan dalam dunia
pengabdian. Kita sangat memahami jika melatih Pramuka, membina adik - adik
mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak adalah dunia pengabdian, bukan dunia
bisnis yang profit oriented. Seorang pembina jauh dari siasat untuk mengincar
kursi empuk di dalam kekuasaan. Atau kepentingan murahan demi mendongkrak
popularitas pribadi. Tidak. Semua dilakoninya dengan tulus ikhlas demi satu
tujuan agar terbentuk generasi yang berkarakter, memiliki jiwa pandu, dan
berwatak keindonesiaan.
Jika suasana kebatinan
para pembina mengalami degradasi, pada saatnya dunia pengabdian akan mengalami
suasana blank spot. Sebuah keadaan
tiba –tiba sunyi oleh kegiatan dan aktifitas pembinaan. Tiba –tiba keadaan senyap oleh semarak dan gebyar
kegiatan ekstra kurikuler. Semuanya tidur lelap. Akh. Ada perasaan was - was yang terus bergelayut.
Ada perasaan bersalah dalam melaksanakan tahapan pembinaan. Kekhawatiran
–kekhawatiran yang membelenggu para guru dan pembina untuk melakukan kegiatan ekstra
kurikuler.
Susur Sungai di SMPN I Turi, akan
menyisakan gejala traumatik yang
demikian panjang. Akhirnya keadaan akan sunyi oleh kegiatan pembinaan. Bisa
jadi kegiatan kepramukaan akan terhempas dari ektrakurikuler. Atau kegiatan-
kegiatan serupa yang dianggap berbahaya akan didelete dari kegiatan edukatif kita. Sebab dalam realitasnya, hukum
takkan kenal ampun. Sedangkan musibah, akan menimpa siapa saja yang ada
dihadapannya. Disinilah tidak adilnya hokum kehidupan.
Tidak hanya
kepramukaan, kegiatan - kegiatan lain seni, olah raga yang dianggap berbahaya akan
didelete dan tidak akan dilakukan
oleh guru. Seorang guru bisa saja akan menjalankan tugas utamanya sebagai
seorang guru untuk mendidik di dalam kelas. Jika ini sebagai terjemahan Merdeka
Belajar, guru tak perlu lagi bersusah payah melakukan ekstra kurikuler, tugas
guru akan berlipat –lipat lebih ringan tugasnya. Apakah format pendidikan
seperti itu yang kita inginkan? Sampai
disini kita mungkin akan menyadari betapa komitment sorang guru atau pelatih,
patut diacungi jempol like, ketika
mereka berkorban untuk pendidikan yang lebih baik. Seorang guru tak mengenal
waktu. Pengabdiannya jauh dari teori 37,5 jam beban kerja dalam seminggu. Paara
guru bisa menjadi Bang Toyyib yang jarang pulang karena kegiatan bersama para
peserta didik tercintanya.
Gejala blankspot jangan dianggap sekadar wacana
atau ancaman disiang bolong. Keadaan ini bagaimanapun juga perlu diwaspadai.
Jangan sampai para pembina merasakan kekhawatiran berlebihan, atau sebagai salah
satu bentuk sikap memberontak terhadap keadaan yang terjadi. Kita memahami betapa
pentingnya kegiatan Pramuka sebagai pembajaan mental dan karakter anak.
Kita tidak berharap,
blankspot pengabdian benar -benar terjadi. Sebab akan merugikan dunia pendidikan
kita. Semua elemen akan dirugikan. Orang tua siswa, siswa itu sendiri akan
mengalami kerugian. Sebab wajah pendidikan Indonesia akan disesaki oleh
pembelajaran yang datar - datar saja tanpa
pendidikan yang menantang dan sekaligus mengasyikkan.
*Penulis adalah Sekretaris PGRI Kab.Bondowoso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar