Kamis, 12 Maret 2020

Mewaspadai Blank Spot Pengabdian




Peristiwa Susur sungai SMPN 1 Turi, sudah sedikit cooling down. Tapi dampak ikutannya akan meresonansi kemana - mana. Ribuan guru merasa tersinggung dengan tragedi pembotakan itu. Wajar jika komentar - komentar melampaui batas yang sebenarnya. Sebab kasus pembotakan guru dan pelatih itu telah mencubit sisi emosional guru. Pantas saja bila para guru di Indonesia merasa terusik. Sebab hal itu dianggap memasuki wilayah yang amat sakral, yang paling dijaga selama ini, yakni martabat guru. Guru merasa dipermalukan di depan camera para peliput berita. Ditelanjangi kemuliaannya dihadapan publik Indonesia.
Sebagian orang mengganggap permasalahan itu sudah selesai.Tinggal para tersangka akan menjalani proses hukum yang sesungguhnya. Ya mungkin kita tidak menyadari bahwa tragedi tenggelamnya 10 peserta susur sungai akan melahirkan efek psikhologis berkepanjangan bagi para guru di Indonesia. Para guru dan pelatih yang mendampingi para peserta dianggap teledor melakukan sebuah kegiatan ekstra kurikuler. Boleh saja, sebuah analisis mengemuka dan diarahkan kepada para guru pelatih.
Kejadian susur sungai jika dianggap sebuah kelalaian para pembina, boleh jadi. Yang jelas, pelaksanaan kegiatan itu terselenggara, setelah mengkaji  berbagai hal terkait keselamatan anak. Termasuk  masalah keadaan cuaca. Sangat tidak masuk akal dalam cuaca buruk Sang Guru akan memaksakan kegiatan susur sungai untuk tetap berlangsung.
Kejadian serupa pernah terjadi di daerah Tlogosari Bondowoso. Seorang siswa MTs At Taqwa yang bermain tubing ( ban dalam kendaraan ) yang dipandu seorang ahli. Secara tidak terduga, air datang tiba –tiba. Anakpun hilang terbawa arus air sungai. Maka komenter pro kontrapun bermunculan.
Mungkin banyak orang yang protes  dengan nada nyinyir memojokkqn para guru dan pembina Pramuka agar diganjar hukuman yang berat. Komentar begitu masif dan viral di media sosial sebagai sikap spontan melihat sepuluh anak melayang dalam sekejap. Wajar saja.
Lama saya merenung tentang dampak lanjutan jika, kesalahan itu terus dan berulang - ulang dituduhkan kepada para pembina Pramuka yang lalai itu.  Pada saatnya dunia pendidikan akan mengalami blank spot pengabdian. Sebuah titik kosong sunyi oleh aktifitas.
Blank spot sebenarnya adalah keadaan tidak ada sinyal dalam komunikasi. Keadaan kosong, kita tak lagi bisa berkomunikasi dengan siapapun, mencurahkan ide kepada siapapun. Hal itu bisa berlangsung dalam sekejap saja, ataupun dalam rentang waktu yang cukup lama.
Kata blank spot  saya analogikan kepada keadaan dalam dunia pengabdian. Kita sangat memahami jika melatih Pramuka, membina adik - adik mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak adalah dunia pengabdian, bukan dunia bisnis yang profit oriented. Seorang pembina jauh dari siasat untuk mengincar kursi empuk di dalam kekuasaan. Atau kepentingan murahan demi mendongkrak popularitas pribadi. Tidak. Semua dilakoninya dengan tulus ikhlas demi satu tujuan agar terbentuk generasi yang berkarakter, memiliki jiwa pandu, dan berwatak keindonesiaan.
Jika suasana kebatinan para pembina mengalami degradasi, pada saatnya dunia pengabdian akan mengalami suasana blank spot. Sebuah keadaan tiba –tiba sunyi oleh kegiatan dan aktifitas pembinaan. Tiba –tiba  keadaan senyap oleh semarak dan gebyar kegiatan ekstra kurikuler. Semuanya tidur lelap.  Akh. Ada perasaan was - was yang terus bergelayut. Ada perasaan bersalah dalam melaksanakan tahapan pembinaan. Kekhawatiran –kekhawatiran yang membelenggu para guru dan pembina untuk melakukan kegiatan ekstra kurikuler.
 Susur Sungai di SMPN I Turi, akan menyisakan  gejala traumatik yang demikian panjang. Akhirnya keadaan akan sunyi oleh kegiatan pembinaan. Bisa jadi kegiatan kepramukaan akan terhempas dari ektrakurikuler. Atau kegiatan- kegiatan serupa yang dianggap berbahaya akan didelete dari kegiatan edukatif kita. Sebab dalam realitasnya, hukum takkan kenal ampun. Sedangkan musibah, akan menimpa siapa saja yang ada dihadapannya. Disinilah tidak adilnya hokum kehidupan.
Tidak hanya kepramukaan, kegiatan - kegiatan lain seni, olah raga yang dianggap berbahaya akan didelete dan tidak akan dilakukan oleh guru. Seorang guru bisa saja akan menjalankan tugas utamanya sebagai seorang guru untuk mendidik di dalam kelas. Jika ini sebagai terjemahan Merdeka Belajar, guru tak perlu lagi bersusah payah melakukan ekstra kurikuler, tugas guru akan berlipat –lipat lebih ringan tugasnya. Apakah format pendidikan seperti  itu yang kita inginkan? Sampai disini kita mungkin akan menyadari betapa komitment sorang guru atau pelatih, patut diacungi jempol like, ketika mereka berkorban untuk pendidikan yang lebih baik. Seorang guru tak mengenal waktu. Pengabdiannya jauh dari teori 37,5 jam beban kerja dalam seminggu. Paara guru bisa menjadi Bang Toyyib yang jarang pulang karena kegiatan bersama para peserta didik tercintanya.
Gejala blankspot jangan dianggap sekadar wacana atau ancaman disiang bolong. Keadaan ini bagaimanapun juga perlu diwaspadai. Jangan sampai para pembina merasakan kekhawatiran berlebihan, atau sebagai salah satu bentuk sikap memberontak terhadap keadaan yang terjadi. Kita memahami betapa pentingnya kegiatan Pramuka sebagai pembajaan mental dan karakter anak.
Kita tidak berharap, blankspot pengabdian benar -benar terjadi. Sebab akan merugikan dunia pendidikan kita. Semua elemen akan dirugikan. Orang tua siswa, siswa itu sendiri akan mengalami kerugian. Sebab wajah pendidikan Indonesia akan disesaki oleh pembelajaran yang datar - datar saja tanpa  pendidikan yang menantang dan sekaligus mengasyikkan.

*Penulis adalah Sekretaris PGRI Kab.Bondowoso

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...