Oleh
: Dimasmul Prajekan*
Penerimaan
Peserta Didik Baru ( PPDB ) sudah berada di tengah - tengah kita. Setiap
sekolah bersiap – siap untuk memasuki tahun pelajaran 2020/2021. Dalam suasana
pandemi covid 19 kali ini, dengan protokol kesehatan yang cukup ketat, tak
menciutkan nyali para kepala sekolah dan guru untuk menjaring calon peserta
didik sebanyak – banyaknya. Perang iklan melalui baner dan media sosial
berlangsung semarak hingga di mulut – mulut gang. Adu strategi untuk meraih
calon peserta didik baru begitu masif dilakukan. Sekolah tak ubahnya sebuah
produk yang menawarkan kebaikan –kebaikan dan khasiat manjur penentu masa depan
anak –anak bangsa. Semua ingin mengklaim yang terbaik.
Pada
saat yang bersamaan beberapa sekolah sudah tidak lagi menawarkan bangku kosong
alias buka pendaftaran. Pendaftaran sudah ditutup jauh - jauh hari
sebelumnya. Sebab kuota penerimaan
peserta didik baru sudah terpenuhi. Bahkan sekolah yang dikelola masyarakat (
swasta ), tergolong sekolah yang difavoritkan
jauh - jauh hari sudah laris manis diorder para pengguna jasa
pendidikan. Sekolah - sekolah seperti Daarus Sholah dan SD Al Furqon
Jember, MI At Taqwa, SDIT Kuntum Insan
Cemerlang Bondowoso, Al Uswah, SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, SMP Arrohmah
Malang, SMK PGRI 7 Malang, selalu kebanjiran peminat dan menjadi pilihan
teratas para orang tua dan calon peserta didik. Orang tua berani merogoh kocek
yang cukup tebal untuk membiayai putra –putri tercintanya.
Demikian
pula sekolah - sekolah plat merah atau sekolah negeri yang punya nama besar
dapat dipastikan akan kebanjiran peminat. Nilai jual sebagai pesohor yang sudah
terpotret kuat oleh masyarakat selama ini takkan mampu membalikkan keinginan
untuk memasukkan putra putri tercintanya ke sekolah lain. Alasannya pasti,
mereka menginginkan sekolah yang berkualitas dan memiliki nilai - nilai unggul
yang dibanggakan oleh orang tua. Wira –wiri sebagai juara dan duta lomba dari
kabupaten masing – masing ke pentas provinsi atau nasional menjadi kredit poin
bagi sekolah. Pada akhirnya kita menyadari bahwa sekolah bukan lagi semata
transformasi kognitif semata, lebih urgen lagi, para peserta didik memiliki
sikap dan keterampilan yang memadai. Itulah makna yang tersirat dari berduyun
–duyunnya masyarakat menuju sekolah favorit.
Sekolah
- sekolah dengan performance datar
dan apa adanya, menyerah kepada takdir
yang terjadi, mengikuti ritme rutinitas yang berjalan stagnan, akan
menjadikan sekolah yang cukup survive
(bertahan ) saja. Bahkan untuk mendapatkan calon peserta didik begitu
kesulitan. Dalam suasana penuh kecamuk persaingan, sebagian sekolah malah begitu
berani melakukan gerakan akrobatik dan spikulatif dengan menggratiskan atribut
sekolah dan fasilitas lain untuk sekadar membujuk calon peserta didik baru. Tentu semua
itu tentu sah - sah saja.
Pada
sisi lain, masyarakat modern khususnya yang hidup di kota - kota dengan tingkat
kesibukan tinggi, mengalami frekuensi kehidupan superjarum (suka pergi jarang
di rumah ), menjadi ASN atau karyawan perusahaan sehingga mereka seharian harus
di luar rumah. Setuasi inilah yang mendorong mereka menitipkan putra putri
mereka pada sekolah yang kondusif selama pembelajaran berlangsung, sekaligus menjanjikan
masa depan lebih nyaman. Jika pembentukan karakter, transformasi keilmuan,
pembiasaan hidup positif berlangsung sesuai harapan masyarakat, hal ini menjadi
magnet penggerak para orang tua untuk menyekolahkan putra putrinya ke sekolah favorit.
Fenomena
ini tentu perlu disikapi secara positif oleh para pengelola lembaga pendidikan.
Dalam era of disruption, pemikiran -
pemikiran lama harus segera dievaluasi. Strategi usang sudah harus
dikandangkan. Sikap terlalu apa adanya, menunggu bola turun dari langit adalah
paradigma lama yang sejatinya sudah masuk kotak spam. Kerja - kerja instan tak
lagi bisa dijadikan sandaran. Sebab dari survey sementara, mengapa masyarakat
berpindah ke lain hati dan lebih percaya kepada sekolah yang difavoritkan ?
Salah satu jawabannya karena sekolah - sekolah itu memberikan ruang berinovasi,
lebih amanah, disiplin, dan ada suasana baru yang dibutuhkan masyarakat. Dan
jangan lupa, masyarakat juga akan bangga jika sekolah menjadi lumbung prestasi.
Bersamaan dengan eksodusnya
masyarakat pengguna jasa pendidikan ke sekolah favorit, menggilai sekolah
favorit, sebagian sekolah justru mulai kelimpungan mendapatkan calon peserta
didik. Lambat laun beberapa sekolah mengalami nasib naas harus rela tak
mendapatkan calon peserta didik dalam jumlah yang signifikan. Bahkan beberapa
sekolah yang ada sudah memasuki zona merah untuk diregruping dengan sekolah
lainnya. Kebijakan pemerintah ini ditempuh karena sekolah dianggap tak mampu menjalankan
tugas operasionalnya manakala jumlah peserta didik sudah berada dibawa dijit
yang ideal. Pada tahun 2022 mendatang, sekolah –sekolah yang berada dibawah jumlah
60, akan terancam tidak mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ).
Disinilah tantangan terberat bagi seorang Kepala Sekolah.
Secara
sadar atau tidak, masyarakat pengguna jasa pendidikan, sudah memiliki
sekeranjang referensi tentang sekolah - sekolah yang menjadi bidikannya. Mulai
dari branding Sekolah Ramah Anak, Sekolah Adiwiyata, Sekolah Berkarakter,
Sekolah Insan Cendikia, Sekolah para Juara, Sekolah Sehat, dan berbagai jargon
baru sudah menjadi bursa murah pilihan orang tua. Jargon - jargon menarik itu
akan memiliki nilai jual yang cukup memikat para calon peserta didik. Sebab
branding yang dibuat bukan frase abal - abal atau sebagai pemanis buatan di
atas kain rentang. Branding sekolah dibuat melalui kajian panjang analisis SWOT
( streng, weakness, opportunity, treatment), dengan dipadu
data dan fakta di lapangan tentang eksistensi sebuah sekolah. Mustahil dalam
alam keterbukaan seperti sekarang ini, sebuah sekolah melakukan kebohongan
publik dengan begitu lebay mewartakan
tentang prestasi yang tak pernah
didapatkan.
Mencermati
fenomena pemahaman masyarakat yang kian bebas dan lepas, kita masih beruntung
ada proteksi pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud tentang zonasi sekolah. Zonasi yang lebih berpihak pada calon peserta
didik yang terdekat, yang selama ini mengalami diskriminasi tak dapat diterima
karena beberapa syarat yang tak terpenuhi. Dengan zonasi, apapun alasannya
calon peserta didik harus diterima di zona terdekat, kendati sekolah tersebut
terbilang sekolah favorit. Dalam hal ini sebagai sebuah lembaga primadona mau
tidak mau harus menurunkan grade
dengan penyederhanan syarat pendaftaran. Jika selama ini masyarakat kurang
mampu masih ketar - ketir untuk mendaftarkan putra putrinya di sekolah favorit,
dengan persentase afirmasi dalam sistem
zonasi muncul semangat baru untuk berkompetisi dengan calon - calon peserta didik
lain.
Ketika
regulasi Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ) sedikit direvisi karena banyak
kritik yang dialamatkan ke Kemdikbud mengingat terlalu kecilnya prosentasi
jalur prestasi, dengan terbitnya Permendikbud 44 tahun 2019 akhirnya jalur
prestasi diberi kuota tambahan sebanyak 30 % dari sebelumnya 15 %. Anak - anak
dengan segudang prestasi dan kaya penghargaan pada tahun sebelumnya agak
kesulitan memasuki sekolah favorit karena terganjal zonasi, kini bisa sedikit
bernafas lega sebab sederet kejuaraan akan menjadi bahan pertimbangan untuk diterima
atau ditolak.
Terlepas
kita setuju atau tidak dengan sistem zonasi, yang jelas kehadiran sekolah
favorit tidak bisa dinafikan begitu saja dari realitas kehidupan sebagai sebuah
sekolah yang hidup. Hidup dengan prestasi, hidup dengan nilai –nilai unggul
menjadi sebuah kebanggaan bagi segenap orang tua dan masyarakat. Apalagi dengan beragam fasilitas yang
memadai, serta aneka kegiatan ektra kurikuler yang memberikan ruang berekspresi
para peserta didik, akan sulit dibuang dari ingatan masyarakat. Mau ada iklan
atau tidak, masyarakat akan menjadi juri yang baik terhadap sekolah favoritnya.
Sampai
disini tentu menjadi bahan renungan bagi segenap elemen di sebuah sekolah untuk
melakukan revolusi pemikiran agar sekolahnya mampu dilirik dan dibidik para
penggila prestasi. Sebab ketika seorang Kepala sekolah begitu nirprestasi, tak mampu melahirkan nilai - nilai unggul,
dalam hitungan waktu, sekolah yang dipimpinnya akan terjungkal dari peta
persaingan yang sangat ketat. Era baru dengan lahirnya modernisasi di bidang
pendidikan, seorang Kepala Sekolah perlu mewakafkan sebagian waktunya untuk menjadi
KS pembelajar yang manut pada perkembangan teknologi dan banjir bandang
informasi yang tak bisa ditutup - tutupi. Jika tidak, sekolah yang dipimpinnya akan
menjadi binatang purba yang sedang bergerak menuju kepunahannya. Siapkah kita ?
* Penulis adalah Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar