Senin, 29 Juni 2020

Pada Saat Masyarakat Melirik Sekolah Favorit



Oleh : Dimasmul Prajekan*

Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ) sudah berada di tengah - tengah kita. Setiap sekolah bersiap – siap untuk memasuki tahun pelajaran 2020/2021. Dalam suasana pandemi covid 19 kali ini, dengan protokol kesehatan yang cukup ketat, tak menciutkan nyali para kepala sekolah dan guru untuk menjaring calon peserta didik sebanyak – banyaknya. Perang iklan melalui baner dan media sosial berlangsung semarak hingga di mulut – mulut gang. Adu strategi untuk meraih calon peserta didik baru begitu masif dilakukan. Sekolah tak ubahnya sebuah produk yang menawarkan kebaikan –kebaikan dan khasiat manjur penentu masa depan anak –anak bangsa. Semua ingin mengklaim yang terbaik.
Pada saat yang bersamaan beberapa sekolah sudah tidak lagi menawarkan bangku kosong alias buka pendaftaran. Pendaftaran sudah ditutup jauh - jauh hari sebelumnya.  Sebab kuota penerimaan peserta didik baru sudah terpenuhi. Bahkan sekolah yang dikelola masyarakat ( swasta ), tergolong sekolah yang difavoritkan  jauh - jauh hari sudah laris manis diorder para pengguna jasa pendidikan. Sekolah - sekolah seperti Daarus Sholah dan SD Al Furqon Jember,  MI At Taqwa, SDIT Kuntum Insan Cemerlang Bondowoso, Al Uswah, SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, SMP Arrohmah Malang, SMK PGRI 7 Malang, selalu kebanjiran peminat dan menjadi pilihan teratas para orang tua dan calon peserta didik. Orang tua berani merogoh kocek yang cukup tebal untuk membiayai putra –putri tercintanya.
Demikian pula sekolah - sekolah plat merah atau sekolah negeri yang punya nama besar dapat dipastikan akan kebanjiran peminat. Nilai jual sebagai pesohor yang sudah terpotret kuat oleh masyarakat selama ini takkan mampu membalikkan keinginan untuk memasukkan putra putri tercintanya ke sekolah lain. Alasannya pasti, mereka menginginkan sekolah yang berkualitas dan memiliki nilai - nilai unggul yang dibanggakan oleh orang tua. Wira –wiri sebagai juara dan duta lomba dari kabupaten masing – masing ke pentas provinsi atau nasional menjadi kredit poin bagi sekolah. Pada akhirnya kita menyadari bahwa sekolah bukan lagi semata transformasi kognitif semata, lebih urgen lagi, para peserta didik memiliki sikap dan keterampilan yang memadai. Itulah makna yang tersirat dari berduyun –duyunnya masyarakat menuju sekolah favorit.
Sekolah - sekolah dengan performance datar dan apa adanya, menyerah kepada takdir  yang terjadi, mengikuti ritme rutinitas yang berjalan stagnan, akan menjadikan sekolah yang cukup survive (bertahan ) saja. Bahkan untuk mendapatkan calon peserta didik begitu kesulitan. Dalam suasana penuh kecamuk persaingan, sebagian sekolah malah begitu berani melakukan gerakan akrobatik dan spikulatif dengan menggratiskan atribut sekolah dan fasilitas lain untuk sekadar  membujuk calon peserta didik baru. Tentu semua itu tentu sah - sah saja.
Pada sisi lain, masyarakat modern khususnya yang hidup di kota - kota dengan tingkat kesibukan tinggi, mengalami frekuensi kehidupan superjarum (suka pergi jarang di rumah ), menjadi ASN atau karyawan perusahaan sehingga mereka seharian harus di luar rumah. Setuasi inilah yang mendorong mereka menitipkan putra putri mereka pada sekolah yang kondusif selama pembelajaran berlangsung, sekaligus menjanjikan masa depan lebih nyaman. Jika pembentukan karakter, transformasi keilmuan, pembiasaan hidup positif berlangsung sesuai harapan masyarakat, hal ini menjadi magnet penggerak para orang tua untuk menyekolahkan putra putrinya ke sekolah favorit.
Fenomena ini tentu perlu disikapi secara positif oleh para pengelola lembaga pendidikan. Dalam era of disruption, pemikiran - pemikiran lama harus segera dievaluasi. Strategi usang sudah harus dikandangkan. Sikap terlalu apa adanya, menunggu bola turun dari langit adalah paradigma lama yang sejatinya sudah masuk kotak spam. Kerja - kerja instan tak lagi bisa dijadikan sandaran. Sebab dari survey sementara, mengapa masyarakat berpindah ke lain hati dan lebih percaya kepada sekolah yang difavoritkan ? Salah satu jawabannya karena sekolah - sekolah itu memberikan ruang berinovasi, lebih amanah, disiplin, dan ada suasana baru yang dibutuhkan masyarakat. Dan jangan lupa, masyarakat juga akan bangga jika sekolah menjadi lumbung prestasi.
             Bersamaan dengan eksodusnya masyarakat pengguna jasa pendidikan ke sekolah favorit, menggilai sekolah favorit, sebagian sekolah justru mulai kelimpungan mendapatkan calon peserta didik. Lambat laun beberapa sekolah mengalami nasib naas harus rela tak mendapatkan calon peserta didik dalam jumlah yang signifikan. Bahkan beberapa sekolah yang ada sudah memasuki zona merah untuk diregruping dengan sekolah lainnya. Kebijakan pemerintah ini ditempuh karena sekolah dianggap tak mampu menjalankan tugas operasionalnya manakala jumlah peserta didik sudah berada dibawa dijit yang ideal. Pada tahun 2022 mendatang,  sekolah –sekolah yang berada dibawah jumlah 60, akan terancam tidak mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ). Disinilah tantangan terberat bagi seorang Kepala Sekolah.
Secara sadar atau tidak, masyarakat pengguna jasa pendidikan, sudah memiliki sekeranjang referensi tentang sekolah - sekolah yang menjadi bidikannya. Mulai dari branding Sekolah Ramah Anak, Sekolah Adiwiyata, Sekolah Berkarakter, Sekolah Insan Cendikia, Sekolah para Juara, Sekolah Sehat, dan berbagai jargon baru sudah menjadi bursa murah pilihan orang tua. Jargon - jargon menarik itu akan memiliki nilai jual yang cukup memikat para calon peserta didik. Sebab branding yang dibuat bukan frase abal - abal atau sebagai pemanis buatan di atas kain rentang. Branding sekolah dibuat melalui kajian panjang analisis SWOT ( streng, weakness, opportunity, treatment), dengan dipadu data dan fakta di lapangan tentang eksistensi sebuah sekolah. Mustahil dalam alam keterbukaan seperti sekarang ini, sebuah sekolah melakukan kebohongan publik dengan begitu lebay mewartakan tentang  prestasi yang tak pernah didapatkan.
Mencermati fenomena pemahaman masyarakat yang kian bebas dan lepas, kita masih beruntung ada proteksi pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud tentang zonasi sekolah.  Zonasi yang lebih berpihak pada calon peserta didik yang terdekat, yang selama ini mengalami diskriminasi tak dapat diterima karena beberapa syarat yang tak terpenuhi. Dengan zonasi, apapun alasannya calon peserta didik harus diterima di zona terdekat, kendati sekolah tersebut terbilang sekolah favorit. Dalam hal ini sebagai sebuah lembaga primadona mau tidak mau harus menurunkan grade dengan penyederhanan syarat pendaftaran. Jika selama ini masyarakat kurang mampu masih ketar - ketir untuk mendaftarkan putra putrinya di sekolah favorit, dengan persentase afirmasi dalam sistem zonasi muncul semangat baru untuk berkompetisi dengan calon - calon peserta didik lain.
Ketika regulasi Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ) sedikit direvisi karena banyak kritik yang dialamatkan ke Kemdikbud mengingat terlalu kecilnya prosentasi jalur prestasi, dengan terbitnya Permendikbud 44 tahun 2019 akhirnya jalur prestasi diberi kuota tambahan sebanyak 30 % dari sebelumnya 15 %. Anak - anak dengan segudang prestasi dan kaya penghargaan pada tahun sebelumnya agak kesulitan memasuki sekolah favorit karena terganjal zonasi, kini bisa sedikit bernafas lega sebab sederet kejuaraan akan menjadi bahan pertimbangan untuk diterima atau ditolak.
Terlepas kita setuju atau tidak dengan sistem zonasi, yang jelas kehadiran sekolah favorit tidak bisa dinafikan begitu saja dari realitas kehidupan sebagai sebuah sekolah yang hidup. Hidup dengan prestasi, hidup dengan nilai –nilai unggul menjadi sebuah kebanggaan bagi segenap orang tua dan masyarakat.  Apalagi dengan beragam fasilitas yang memadai, serta aneka kegiatan ektra kurikuler yang memberikan ruang berekspresi para peserta didik, akan sulit dibuang dari ingatan masyarakat. Mau ada iklan atau tidak, masyarakat akan menjadi juri yang baik terhadap sekolah favoritnya.
Sampai disini tentu menjadi bahan renungan bagi segenap elemen di sebuah sekolah untuk melakukan revolusi pemikiran agar sekolahnya mampu dilirik dan dibidik para penggila prestasi. Sebab ketika seorang Kepala sekolah begitu nirprestasi,  tak mampu melahirkan nilai - nilai unggul, dalam hitungan waktu, sekolah yang dipimpinnya akan terjungkal dari peta persaingan yang sangat ketat. Era baru dengan lahirnya modernisasi di bidang pendidikan, seorang Kepala Sekolah perlu mewakafkan sebagian waktunya untuk menjadi KS pembelajar yang manut pada perkembangan teknologi dan banjir bandang informasi yang tak bisa ditutup - tutupi. Jika tidak, sekolah yang dipimpinnya akan menjadi binatang purba yang sedang bergerak menuju kepunahannya. Siapkah kita ?

* Penulis adalah Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...