Jumat, 04 September 2020

Menanti Kematangan Sang Kader

 


Oleh : Dimasmul Prajekan*


PGRI adalah sebuah kerumunan manusia, kerumunan madzhab pemikiran, kerumunan beragam latar belakang, kerumunan etnik dan entitas sosial. Kita memaknainya, ia sebagai kekuatan kolektif, kekuatan yang dibangun karena kebersamaan. Ia ada dengan segala keunikan dan kekhasannya. Sebagai sebuah sistem, ia tersusun dari serangkaian organ yang saling menopang dan saling menguatkan. Tak ada salah satunya,sistem akan macet, cara kerja tak akan berfungsi.


Sebagai sebuah culture movement, gerakan PGRI, teriakan PGRI, berangkat dari spirit perjuangan, spirit kepahlawanan. Spirit memperjuangkan kemaslahatan untuk kebaikan bersama. Karena ghiroh untuk kemaslahatan, tentu setiap organ dalam sistem itu harus saling mendorong agar sistem itu hidup dan bekerja. Semua menuju satu titik, keberhasilan perjuangan.


Oleh karenanya, PGRI akan selalu memproduksi semangat kepahlawanan baru. Dengan segala kerendahan hati kita akan mengatakan, PGRI bukan pabrik untuk mencetak pahlawan. Akan tetapi kerja -kerja kepahlawanan kolektif, terus dikerjakan. Taruhlah, ketika isu - isu mengemuka tentang nasib guru, ia menjadi pelor di moncong senjata. Ia berada pada gradasi paling depan membela hak – hak kemanusiaan anggota.


Kerja - kerja kepahlawanan kolektif itu bukan cerita fiksi yang terlalu melangit. Pada kenyataannya, ia telah mendarah daging dalam organisasi. Karena sudah menjadi bagian tak terpisahkan, menjadi pilihan hidup, ia harus ada dalam kegiatan sepanjang PGRI masih bernafas.


Di balik kerja -kerja kepahlawanan yang tak mungkin dipungkiri adalah, karena 'bertebarannya' para kader. Kader adalah api pemantik untuk melejitkan potensi organisasi. Ia menjadi pemacu dan pemicu segenap aktifitas kehidupan organisasi. Ide - idenya akan turut mewarnai corak organisasi.  Geloranya akan  menggelitik kesadaran berbuat tentang pentingnya soliditas dan solidaritas. Diamnya akan dituding banyak orang telah mati suri.  Semua tergantung Sang Kader. Kader akan menjadi segala titik tumpu semua anggota. Di saat anggota dirundung nestapa, di kala persoalan bak benang kusut tak berujung, semua ditimpakan kepada Sang Kader. Maka dalam soal ketidaknyamanan, dalam suasana ambyar Sang Kader harus membuka gerbang hati seluas -luasnya untuk segala tuntutan para anggota.


Kader akan menjadi perahu penyelamat, ketika organisasi terombang ambing di lautan lepas tanpa kendali, hilang orientasi. Bersedia bertempur dengan gelombang protes yang destruktif, bertarung dengan puting beliung pemikiran yang akan menenggelamkan peran sertanya.


Karena kader pulalah organisasi mengalami nasib mujur panjang umur dalam sebuah pentas pengabdian. Dalam realitas, di luar sana kita saksikan banyak organisasi papan nama, tanpa papan kegiatan. Tak bisa dibayangkan jika aset yang demikian melimpah yang ada pada kita, tiba - tiba dicaplok oleh kekuatan lain karena tidak ada lagi yang berminat menjadi kader. Ibarat sholat berjamaah, Sang Imam tiba - tiba ditinggal para makmum dan jamaah. Ngeri bukan? Disinilah urgensi kehadiran para kader.


Menjadi kader artinya berani mengabdi, berani mewakafkan sebagian waktu, tenaga, pikiran untuk kepentingan organisasi. Kader sekaligus menjadi bamper bagi serbuan pemikiran sempalan yang menantang congkak pada organisasi. Kita tahu bahwa PGRI itu begitu seksi dan menjadi rebutan banyak orang. Apalagi kalau sudah musim  pilkada, PGRI bak gadis cantik yang akan dibidik dan dilirik.

Menjadi kader adalah melalui proses penggemblengan yang cukup panjang dan berliku setelah sekian lama ikut bergelut dengan pasang surut organisasi. Ia ikut digempur dengan beragam persoalan. Bahkan pada saat – saat tertentu, hasil tak didapat, ia malah dihujat. Dari sanalah jiwa - jiwa besi dan mental baja, akan tertempa. Dan pada saatnya, ia akan menjelma menjadi seorang kader.


 Para kader biasanya ditempa melalui proses pembajaan oleh para senior leawat ragam kegiatan dan hitam putih permasalahan. Baru setelah melewati hiruk pikuk di internal, ia mulai tumbuh rasa memiliki ( sence of belonging), rasa pembelaannya terhadap jatidiri organisasi. Ia tak akan lagi terpancing oleh iming - iming cindera mata tetangga sebelah. Sebab ia telah menikmati manisnya romantika perjuangan berorganisasi.


Dalam proses metamorfosis menjadi kader, ada kemungkinan, beberapa orang kader berguru pada orang yang sama, mengidolakan sosok yang sama, menerima ilmu yang sama,  ditanam di lahan yang sama, dipupuk dengan takaran yang sama, tapi akhirnya outputnya tak akan seirama. Ada yang militan, ada yang meletan, ada yang moletan. Dalam hal ini kita menyadari, setiap kader punya nafsu, cita - cita, retorika, style calon pemimpin, gaya komunikasi yang berbeda. Maka wajar jika lahir tampilan yang berbeda. Tapi perbedaan jangan sampai mengarah pada terbangunnya ideologi baru. Itulah yang perlu diwaspadai.


Mari tengok sejarah. HOS Cokroaminoto Pendiri Sarekat Islam, pernah berguru kepadanya, Soekarno, Samaun, dan Kartosuwiryo. Dari ketiganya, pada akhirnya melahirkan  pemikiran baru, interpretasi baru tentang ideologi Indonesia. Soekarno yang terkenal sebagai orator ulung yang merupakan cerminan Cokroaminoto baru, mendirikan PNI, Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam, dan Samaun mendirikan PKI. Sebuah kecelakaan sejarah terjadi, karena interpretasi berlebihan terhadap ideologi yang akan dikembangkan di Indonesia. Kita bersyukur, Pancasila sebagai filter dan jalan tengah terhadap segala kepentingan, dapat menyelamatkan bangsa dari uji coba ideologis.


Pada sisi lain, kita menyaksikan pengalaman muram, PGRI sempat terbelah dalam PGRI central dan PGRI Non Vaksentral. Secara perlahan orang -orang yang berhalusinasi tentang ideologi kiri menghembuskannya ke dalam tubuh PGRI.


Itulah pengalaman kelam sebagai kaca benggala yang tak boleh lagi terjadi. Ambisi -ambisi dan nafsu yang bersandar pada ideologi, akan merusak kebersamaan yang telah dibangun indah selama ini. Oleh sebab itu, ciri PGRI sebagai non partisan, saya pikir sudah tepat dan sangat relevan sepanjang zaman. Kendati kita tak boleh menjadi tuna netra dalam politik. Maka ke depan, kita akan banyak mendiskusikan program unggulan, bermusyawarah tentang sikap kontributif dan konsep partisipatif organisasi.


Jika dalam perjuangan panjang mencapai Indonesia merdeka, banyak pahlawan yang menorehkan perjuangan dengan tinta emas. Tapi tak sedikit para oportunis, penjilat, bahkan lebih suka membela penjajah. Mereka lebih suka menjadi mata - mata para penjajah, dari pada menjadi mata hati bagi rakyat jelata. Demikian pula di organisasi. Polarisasi sikap positif dan negatif pasti ada.


Saya hanya ingin mengatakan, kader  itu memiliki makna strategis. Ia akan menjadi darah segar organisasi. Tapi dalam perjalanannya, kader itu punya kadar. Punya kapasitas, kapabilitas, kualitas yang berbeda. Tentu kita akan dengan senang hati menerima setiap perbedaan, tanpa membeda - bedakan antara satu dengan lainnya. 


Jika jiwa kader telah merasuk ke dalam batinnya, ia tak akan mudah terbawa oleh suasana provokatif untuk saling menghujat antara kader yang satu dengan kader lainnya. Jiwa kader tak terlalu hanyut dalam suasana berkabung yang mendalam ketika kegagalan karena menjadi bagian pembangun 'demokrasi' lewat kongres, konprov, ataupun konkab, bahkan koncab. Demikian pula kita  tak akan melakukan uphoria berlebihan manakala sebuah keberuntungan ada di depan mata. Disinilah pentingnya kematangan Sang Kader


Kita akan menanti kematangan Sang Kader. Sebab kematangan itu akan dating pada setiap orang pada waktu dan momentum yang berbeda. Ada kader -kader yang mengalami akselerasi, ada yang demikian mengalami pelambatan. Jika ia benar - benar matang, ia akan menjadi buah yang siap disantap untuk kebaikan organisasi. Dimanapun posisinya. Jika tidak, kita akan terus mengalami keterlambatan dalam proses berkontribusi. Atau bisa jadi ia mengalami penuaan dini sebelum banyak berbuat untuk kebaikan organisasi.


Penulis adalah Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...