Oleh : Dimasmul Prajekan*
Gonjang
ganjing Revolusi Industri Keempat saat ini memaksa setiap individu untuk terus belajar
dan mengatualisasikan diri di depan gerbang zaman yang terus berkembang. Perubahan
demikian cepat dan tak terelakkan. Secara tiba – tiba banjir digitalisasi dan
android menjadi keharusan yang tidak bisa ditolak. Bagaimana mungkin untuk
menjaga watak efisiensi, seorang guru harus berkomunikasi secara jadul, berjalan
kaki dalam puluhan kilometer hanya sekadar untuk menyampaikan pesan singkat seseorang.
Butuh waktu dan energi yang cukup besar, bukan? Justru kontraproduktif dan
lamban. Dalam hal ini, android telah mengubah semuanya. Andoid menjadi penyampai
pesan yang bijak dan cepat dalam waktu yang serba terbatas.
Kecepatan pengiriman pesan,
data, dan informasi telah membongkar pemahaman lama dari hidup konvensional dan
tradional bergerak secara digitalis, cepat dan akurat. Interes terhadap
kehadiran perangkat teknologi, menjadi keniscayaan dari hidup kita. Dalam hidup
modern, siapa berani mengatakan hidup tanpa handphone?
Semua akan merasa takut untuk bermufakat dengan kelambanan, ketertinggalan, dan
keterpencilan. Handphone telah membongkar formula klise tentang
ketidakmungkinan menjadi sesuatu yang masuk akal.
Tiba
– tiba kita berada pada suasana disrupsi perubahan, era Revolusi Industri
Keempat. Prof.Richardus Eko Indrajit menyebutnya, the future is now. Sebuah terminal pemberhentian sementara, untuk
selanjutnya kita akan memasuki sebuah fase yang lebih rumit dan kian canggih. Apakah
masa itu disebut Revolusi Industri Kelima atau apapun istilahnya, itu lain
soal. Yang jelas, setiap individu harus menyiapkan diri untuk mampu beradaptasi
di dalamnya. Sejak dari budaya, gaya komunikasi, layanan, tatanan birokasi pemerintahan,
hingga melakukan proses pembelajaran, semua akan baru. Internet of think ( IoT ), telah mengantarkan manusia pada keadaan
untuk berprilaku mengakrabinya. Seperti khayalan – khayalan anak manusia
beberapa dekade silam, ketika bermimpi bisa berkomunikasi jarak jauh. Pada akhirnya
khayalan itu menjadi sebuah kenyataan dan kebutuhan.
Memasuki
era Revolusi Industri Keempat, dalam serba ketidaksiapan, semua profesi dan
pekerjaaan menjadi terancam. Tidak ada jaminan sebuah kursi empuk seorang
direktur, jabatan manis seorang guru, akan terus kita pertahankan. Buktinya,
semua jabatan strategis bisa saja didelete
dari pandangan kita, dalam kurun waktu yang begitu cepat. Betapa jabatan struktural
setingkat Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) yang ada di setiap
kecamatan, tiba – tiba menjadi sebuah sejarah dan tinggal cerita. Keberadaannya
dianggap sebagai institusi yang mubadzir. Itu baru babak pembuka dalam sebuah
perubahan.
Kasak
kusuk penghapusan jabatan eselon menjadi perbincangan hangat beberapa waktu
lalu bisa menjadi kenyataan jika formasi itu tak dibutuhkan lagi. Tenaga padat
karya yang berbasis tenaga manusia ( fisik ), secara evolutif mulai diambil alih
oleh kehadiran tenaga mesin, kecerdasan buatan, dan digital. Mesin yang
ditemukan oleh manusia, pada akhirnya, menjadi pemangsa manusia, karena
kehadirannya menyulut kian bertambah panjangnya gerbong pengangguran. Keadaaan
paling mengancam, ketika anak manusia tidak memiliki kesiapan dengan skill ( keterampilan ) yang memadai.
Pada sebagian
masyarakat, tenaga kerja yang lebih mengandalkan otot dari pada otak, kian
mengalami peminggiran masif, kalah bersaing dengan tenaga kerja yang mulai
mempersiapkan diri dengan ragam keterampilan. Dari sudut salary dan kesejahteraan akan ditingal jauh oleh para pekerja yang
berbasis keterampilan. Munculnya sekolah – sekolah dengan spesialisasi dan
vokasi, sesuai dengan minat bakat, dan para lulusannya sudah diorder jauh – jauh
hari oleh beberapa perusahaan yang membutuhkannya. Hampir setiap perusahaan
akan menanyakan tentang pengalaman dan keahlian yang dimiliki setiap pencari
kerja. Perusahaan sedikit abai terhadap kekarnya fisik sang pencari kerja.
Kemampuan
para guru, sebagai bagian tenaga kerja pada akhirnya juga akan menjadi profesi
terdampak untuk berubah. Ada perubahan eksponensial
pada wilayah ini. Tidak bisa lagi harkat dan martabat guru diukur kemampuan oratoris dan kedashyatan verbalistik. Sudah banyak korban, betapa
para guru yang mabuk kepayang pada kondisi ini, merasa puas dengan kemampuan
yang stagnan, enggan belajar mengupgrate
diri, antipati dengan digitalisasi dan komputerisasi, secara perlahan mereka
mengalami pengeroposan nilai alami. Betapa banyak diklat dan worshop yang
diadakan berbagai lembaga, mewajibkan setiap para peserta membawa laptop dan
mahir komputer. Nah, pada titik ini mulai terasa, makna dari kehadiran teknologi.
Dari sepotong laptop atau android, kita bisa mengembara kemana – mana.
Dengan laptop dan android kita dapat melakukan berbagai kegiatan sekaligus dalam
waktu bersamaan. Pada saat kita mengikuti workhop, sekali – sekali kita bisa
mengechek penjualan barang online kita melalui start up seperti Shoppe,
Bukalapak, atau Blibli. Sekali – sekali kita juga bisa menerima pesan dan
berkomunikasi dengan banyak orang secara japri ataupun di WAG kita.
Kebijakan – kebijakan
baru yang dikeluarkan pemerintah terkait Bantuan Operasional Sekolah ( BOS )
yang menggunakan aplikasi Siplah ( Sistem Informasi Sekolah ) menunjukkan perubahan
itu. Pengiriman data Dapodik ataupun data yang dibutuhkan Badan Kepegawaian
Daerah ( BKD ) secara paperless, menjadi
bukti kuat tentang perubahan besar sedang terjadi. Pada era ini antara fisik,
biologis dan digital menjadi tiga serangkai yang tak bisa diabaikan salah
satunya.
Dalam
masa pandemi covid19 yang begitu panjang dan belum bisa diprediksi secara valid
kapan akan usai, merupakan ujian Allah terhadap seluruh penduduk bumi. Begitu
banyak wilayah kehidupan yang terdampak belum bisa menemukan formula yang
akurat untuk dijadikan solusi. Para pakar masih berdebat antara prioritas
ekonomi atau kesehatan. Saya memiliki keyakinan, selain sebagai ujian, Allah
sedang mengelontorkan hikmah baru, dibalik amburadulnya kebiasaan lama,
sekaligus mengalirkan ilmu – ilmu baru. Paling kurang, para pakar punya
pekerjaan rumah untuk menemukan vaksin yang paling akurat.
Dan, tiba – tiba kita
harus tunduk pada protokol kesehatan dengan tetap menjaga jarak, terbiasa cuci
tangan memakai sabun, dan memakai masker. Sebuah kebiasaan baru yang patut
dipatuhi. Inilah inti dari adaptasi kebiasaan baru itu sebenarnya. Pada saat
itu pula berlangsung proses komunikasi gaya baru. Betapa diskusi daring, webinar,
whorkshop online, pada beberapa bulan lampau tak pernah kita mengenalnya, pada
era pandemi semua orang dipaksa untuk menjadi makhluk pembelajar. Sebuah
Webinar bertajuk Driving Skill for
Teacher beberapa waktu lalu yang diikuti oleh 15.016 orang guru tersebar di
seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa ada semangat belajar baru terhadap
kehadiran teknologi. Gagap dan gamang terhadap kebiasaan baru dalam berkomunikasi
menjadi hal yang wajar, bukan menjadi penghalang untuk terus mempelajari
banjirnya aplikasi baru, sejenis Zoom, Webeg, dan Microsoft Team. Para presenter
dan narasumber juga tertantang untuk memasuki wilayah yang benar – benar baru.
Narasumber yang begitu asing dengan dunia broadcasting, secara mendadak harus
membekali diri dengan aplikasi Open Broadcaster Software ( OBS Studio ). Itulah
bekal dasar berkomunikasi.
Kehadiran komunikasi
gaya baru pada saatnya akan menjadi kebiasaan baru yang tak terbantahkan.
Internet untuk segala dan kehadiran digital akan menjadi sahabat baru kita.
Dalam dunia kita, yang semakin terkoneksi ini, internet menjadi bagian tak
dapat dipisahkan dari kehidupan fisik seseorang. Saat ini popularitas seseorang
bisa dilacak lewat jejak digital facebook, akun twitter, instagram, blog, dan
profil linkedln. Dengan mengetik nama seorang pesohor di mesin pencarian Google
kita akan begitu mudah mencari ragam dan rekam jejak seseorang. Bandingkan
dengan seseorang yang sangat antipati dengan internet, dan tabu dengan segala jenis
akun dan aplikasi, kita kesulitan menemukan jejak digitalnya. Dari sinilah
komunikasi gaya baru menemukan pembenarnya. Maka bersyukurlah kita, ketika
begitu cepat merespon era perubahan ini, menjadi entitas yang mampu
mengkomunikasikan setiap jengkal informasi diri kita, secara digital, termasuk
di era pandemi.
*Penulis adalah Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso

Tidak ada komentar:
Posting Komentar