Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna
Dimasmul Prajekan"
Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam suhu propaganda poltik Indonesia. Jika monarki menjadi.potret ketidakberdayaan rakyat, karena kekuasaan palu godam di satu tangan, maka demokrasi mengajarkan keterbukaan dan keberanian bersuara dan berpendapat. Pilihan yang menjadi privasi dan mempribadi, akan menjadi wajah kolektif dan masif. Kesamaan nasib, ideologi, visi dan misi menjadi alasan untuk berkumpul dalam ruang yang sama dan menggunakan kaos kebanggaan yg sama. Dalam teori Psikologi Massa, orang dalam kesendirian merasakan ketakutan untuk bersuara, dalam sebuah kerumunan, seseorang berubah menjadi sosok nekad dan pemberani.
Demokrasi adalah ekspresi egalitarian, dan menjunjung kemerdekaan bersuara. Oleh sebab itu suara emas kita, begitu mahal dan tak ternilai. Kendati demikian, suara - suara indah itu tak layak diperjualbelikan di pasar demokrasi. Apalagi hanya ditukar dengan sembako basi.
Bursa pertarungan akan diisi oleh bacalon yang menjanjikan kehidupan yang lebih bermantabat. Propaganda cantik hingga kampanye penuh intrik akan mengisi lembaran agenda tahapan pemilihan. Janji gombal dan narasi binal atau konsep brilian dan gagasan mengedepan akan menjadi pintu masuk paslon untuk memikat mangsa pemilih.
Pilkada serentak 2024, adalah momentum strategis untuk mempertontonkan kepada dunia, tentang kedewasaan berdemokrasi. Kedewasaan itu diukur bukan karena lamanya menerapkan demokrasi, tapi kesadaran untuk menjadi bagian dari komponen kepemilihan yang sehat, mencerahkan, dan bermartabat. Semakin sadar untuk memproduksi pilkada yang berkualitas, sejak saat itu kita memasuki panggung kematangan dan pendewasaan.
Pilkada itu memang genit, penuh magnet untuk memikat calon pengikut. Ia menjadi salah satu tiang penyanggah kehidupan bernegara di Indonesia. Kalau tidak menggunakan demokrasi, model bernegara macam apa lagi yang kita anggap memiliki stamina unggul dalam berbangsa dan bernegara? Ketika kita bersepakat dengan Pancasila yang mengajarkan permusyawaratan, sejak saat itu kita gembok elusi dan pikiran halu untuk mengganti diluar sistem demokrasi.
Godaan - godaan untuk menggunakan pikiran yang tidak Pancasilais telah terbukti menghancurkan sendi sendi bernegara. Kita ingat bagaimana PKi melakukan politik bumi hangus dalam tragedi G30S/PKI., tidak menyelesaikan masalah. Pikiran liar mengganti Pancasila dengan komunisme, marxisme, atheisme, telah mengangkangi realitas budaya dan politik dalam prilaku hidup gotong royong.
Sebagai bangsa yang mengalami proses pendewasaan berdemokrasi, saya menyisakan keyakinan, dan harapan terlalu melangit Pilkada 2024 adalah Pilkada yng diisi dengan lagu penuh cinta, mimpi besar menjadi Indonesia yg bermartabat. Gagasan - gagasan suci tentang Indonesia yg berprestasi akan diikat oleh para pemilih yang haus akan kebaikan. Banyak orang mengatakan, Indonesia sedang tak baik - baik saja. Jika asumsi ini benar, maka Pilkada mendatang adalah berkontestasi dalam ide, berkompetisi dalam kemampuan kontributif, solutif, bukan kolutif, koruftif, dan destruktif.
Motivasi Cinta, 25/092024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar