KEBERPIHAKAN PRESIDEN PADA GURU
Oleh: Dimasmul Prajekan*
Bertempat
di Stadion Patriot Candrabaga Bekasi, puluhan ribu anggota dan kader
PGRI menyemut di dalam dan diluar stadion. Maklum saja, mereka yang
hadir dari seantero propinsi, untuk turut serta merayakan hari kelahiran
organisasi profesi guru itu. Stadion Candrabaga yang sudah berkelas itu
menjadi bukti kemeriahan acara bersamaan dengan Hari Guru Nasional.
Kali
ini PGRI boleh bersyukur, sebab pelaksanaan HUT ke72, relatif lebih
tenang. Sebab pada saat ini ,benar benar menikmati ulang tahunnya dengan
renyah dan penuh kegembiraan. Tak terdengar lagi suara suara
konspirasif yang akan menggunting kebesaran PGRI. Apa yang terjadi di
Sentul tahun lalu dengan bendera nano nano, tak lagi kita temukan di
Bekasi.Dari bendera, banner, ucapan selamat , benar benar milik PGRI.
Lebih lebih dominasi batik Kusuma bangsa yang dikenakan semua peserta
membuktikan bahwa mereka merasa memiliki PGRI. Bahkan orang nomor 1 di
Jawa Barat, Gubernur Ahmad Heryawan, dan RI 1 , Presiden Joko Widodo
begitu bangga memakai batik Kusuma bangsa.
Dihadapan ribuan guru secara tulus beliau mengakui" Saya bisa menjadi Presiden, karena jasa guru saya".
Sebagai
sambutan pembuka, Sang Srikandi pergerakan, Dr.Unifah Rasyidi, tetap
memperjuangkan Maslah Tunjangan Profesi Guru, Kekurangan Guru,
Penyederhanaan pencairan TPP, Penyederhanaan kenaikan pangkat, dan
kondisi Kekurangan guru.
Sementara Presiden Jokowi, pada kata sambutannya merespon dengan hangat harapan dan permintaan Sang Ketua Umum PB PGRI.
Bahkan
dengan sedikit mengancam," awas hal ini akan saya pantau terus. Saya
minta Mendikbud, Gubernur, Bupati, Walikota,untuk turut memperlancar
Maslah ini. Pencairan TPP harus tepat waktu dan tepat jumlah. Sebab
sudah ada anggarannya".Tutur mantan walikota Solo itu.
Apresiasi
Sang Presiden,disebabkan hingga saat ini peran guru tak mungkin
tergantikan oleh yang lain. Munculnya artificial intelegence, dengan
hadirnya robot robot pintar, tak mungkin menafikan kehadiran seorang
guru. Sebab, kehadiran dengan guru kan mampu melakukan Penguatan
Pendidikan Karakter. Gurulah yang mampu membangun pendidikan karakter.
Sementara kecerdasan artifisial, tak mungkin membentuk pendidikan
karakter.
Presiden mengakhiri sambutannya dengan yel perjuangan PGRI. Hidup Guru.
Hidup PGRI
Solidaritas. Yes!!!
Setelah
Presiden dengan hangat menyapa dan menyalami para guru, para peserta
satu persatu dengan tertib mulai meninggalkan bumi stadion Patriot.
Mereka akan kembali lagi esok pada HUT ke 73 dengan semangat baru dan
inovasi yang tiada henti. Semoga!
( Di dalam Kereta Gumarang dari Stasiun Senin menuju Pasar Turi Surabaya)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...
-
MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Dimasmul Prajekan "Kami mau berubah, Pak Menteri", kata Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rasyidi,M.Pd, di ...
-
PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN oleh.Dimasmul Prajekan Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso Masih ingatkah kita, ketika kaum guru l...
-
KUALITAS KEMATIAN Oleh.Dimasmul Prajekan Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar