Sabtu, 03 Maret 2018

KEBERPIHAKAN PRESIDEN PADA GURU

KEBERPIHAKAN PRESIDEN  PADA GURU
Oleh: Dimasmul Prajekan*

Bertempat di Stadion Patriot Candrabaga Bekasi, puluhan ribu anggota dan kader PGRI menyemut di dalam dan diluar stadion. Maklum saja, mereka yang hadir dari seantero propinsi, untuk turut serta merayakan hari kelahiran organisasi profesi guru itu. Stadion Candrabaga yang sudah berkelas itu menjadi bukti kemeriahan acara bersamaan dengan Hari Guru Nasional.

Kali ini PGRI boleh bersyukur, sebab pelaksanaan HUT ke72, relatif lebih tenang. Sebab pada saat ini ,benar benar menikmati ulang tahunnya dengan renyah dan penuh kegembiraan. Tak terdengar lagi suara suara konspirasif yang akan menggunting kebesaran PGRI. Apa yang terjadi di Sentul tahun lalu dengan bendera nano nano, tak lagi kita temukan di Bekasi.Dari bendera, banner, ucapan selamat , benar benar milik PGRI. Lebih lebih dominasi batik Kusuma bangsa yang dikenakan semua peserta membuktikan bahwa mereka merasa memiliki PGRI. Bahkan orang nomor 1 di Jawa Barat, Gubernur Ahmad Heryawan, dan RI 1 , Presiden Joko Widodo begitu bangga memakai batik Kusuma bangsa.
Dihadapan ribuan guru secara tulus beliau mengakui" Saya bisa menjadi Presiden, karena jasa guru saya".

Sebagai sambutan pembuka, Sang Srikandi pergerakan, Dr.Unifah Rasyidi, tetap memperjuangkan Maslah Tunjangan Profesi Guru, Kekurangan Guru, Penyederhanaan pencairan TPP, Penyederhanaan kenaikan pangkat, dan kondisi Kekurangan guru.

Sementara Presiden Jokowi, pada kata sambutannya merespon dengan hangat harapan dan permintaan Sang Ketua Umum PB PGRI.
Bahkan dengan sedikit mengancam," awas hal ini akan saya pantau terus. Saya minta Mendikbud, Gubernur, Bupati, Walikota,untuk turut memperlancar Maslah ini. Pencairan TPP harus tepat waktu dan tepat jumlah. Sebab sudah ada anggarannya".Tutur mantan walikota Solo itu.

Apresiasi Sang Presiden,disebabkan hingga saat ini peran guru tak mungkin tergantikan oleh yang lain. Munculnya artificial intelegence, dengan hadirnya robot robot pintar, tak mungkin menafikan kehadiran seorang guru. Sebab, kehadiran dengan guru kan mampu melakukan Penguatan Pendidikan Karakter. Gurulah yang mampu membangun pendidikan karakter. Sementara kecerdasan artifisial, tak mungkin membentuk pendidikan karakter.
Presiden mengakhiri sambutannya dengan yel perjuangan PGRI. Hidup Guru.
Hidup PGRI
Solidaritas. Yes!!!

Setelah Presiden dengan hangat menyapa dan menyalami para guru,  para peserta satu persatu dengan tertib mulai meninggalkan bumi stadion Patriot. Mereka akan kembali lagi esok pada HUT ke 73 dengan semangat baru dan inovasi yang tiada henti. Semoga!

( Di dalam Kereta Gumarang  dari Stasiun Senin menuju Pasar Turi Surabaya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...