MENAKAR KECERDASAN EMOSIONAL PADA KADER
Oleh : Dimasmul Prajekan*
Eksistensi
PGRI dengan pengalaman yang seabrek terkait guru dan pendidikan akan
menjadikan PGRI lebih matang dan arif menghadapi dinamika yang
berkembang.Dengan pengalaman mengelola lembaga pendidikan sejak TK
hingga Perguruan Tinggi, semakin mengokohkan bahwa PGRI bukan semata
organisasi profesi, bahkan sudah melewati kreteria itu. Gedung - gedung
sekolah yang bertebaran dibawah naungan pembinaan PGRI menjadi bukti
bahwa "organisasi' ini masih eksis dan akan terus eksis sesuai dengan
kebutuhan dan tuntutan waktu. Dan kita yakin PGRI masih akan terus
dibutuhkan.
Lebih dari itu, eksistensi PGRI terletak pada para
kader. Gedung - megah, sekolah - sekolah yang mencakar, gedung
sekretariat yang menyebar,dalam hitungan detik akan berubah menjadi
'gudang dan bangunan tua' jika tanpa ada kader yang memakmurkannya ,
tanpa pengurus yang mengurusinya.
Saya punya pengalaman menarik
ketika berkhidmat sebagai Pengurus Cabang yang sering diundang Pengurus
Kabupaten.Beberapa lama Pengurus Kabupaten belum punya sekretariat.
Sehingga tempat rapat atau pertemuan harus berpindah - pindah dari
tempat satu ke tempat lainnya. Numpang di ruangan kantor satu ke ruangan
kantor lainnya. Tapi, semua itu tak menyurutkan para kader dan pengurus
untuk tetap berkhidmat pada PGRI. Seringkali pada Setusi yang penuh
keterbatasan muncul militansi kader. Seringkali pahlawan dan
sukarelawan lahir dari suasana yang penuh penindasan dan himpitan
persoalan. Kuatnya rasa memiliki, solidnya gairah berorganisasi yang
mendorong para kader untuk keluar dari ketidaknyamanan.
Tapi, disaat
terbebas dari penindasan, terlepas dari kesulitan, tengah berada pada
zona aman dan nyaman, kadang kita lupa akan perjuangan masa silam. Kita
lupa bahwa hari ini adalah keberhasilan dari proses panjang masa silam.
Kenyamanan hari ini berawal dari ketidaknyamanan hari kemarin.Seringkali
pada zona tidak nyaman banyak melahirkan pahlawan, tapi pada zona aman
malah memproduksi pengkhianatan dan ragam pemberontakan. Pada suasana
yang penuh keterbatasan begitu mudah merangkai kata sepakat, tapi pada
era yang penuh kemudahan begitu sulit merawat kebersamaan. Setiap kader
mencoba menginterpretasikan visi misi organisasi sesuai pikirannya. Di
saat interpretasinya merasa tak terwadahi, begitu mudah 'patah' untuk
bersama sama dalam satu barisan.
Kita menyadari bahwa organisasi'
adalah sebuah sistem yang saling menghidupi antara organ yang satu
dengan organ lainnya. Tak perlu ada yang merasa lebih briliant sementara
yang lain sudah karatan. Tak perlu ada yang merasa punya pemikiran
setinggi langit, sementara yang lain dianggap pemikirannya setinggi
langit - langit.
Keberagamanlah yang akan menjadikan para kader
lebih arif dan dewasa. Perbedaan orientasi, pilihan strategi perjuangan,
style kepemimpinan adalah hal biasa. Disaat para pengurus tak linear
dengan pikiran pribadi kita,bukan berarti sebagai sebuah kelemahan.
Padahal para Pengurus bergerak berdasar konggres, konferensi kerja,
pertemuan pertemuan penting lainnya.
Disinilah yang perlu dipertajam.
Ide - ide segar, pemikiran pemikiran yang mengedepan, sejatinya harus
mengalir bebas lewat forum forum resmi organisasi. Upaya menggunakan
panggung jalanan harus menjadi pilihan pamungkas ketika semua pintu
komunikasi sudah terasa buntu. Diskusi diskusi kreatif lewat sosmed
harus saling mengisi bukan malah saling memprovokasi, dan saling
menghabisi. Disinilah kita bisa menakar kecerdasan emosional para kader.
Militansi, dan kesabaran berkomunikasi dengan diksi yang sesuai
dengan setuasi menjadi tantangan tersendiri bagi para kader. Kehebatan
seorang kader jangan sampai ambruk disebabkan salah memilih diksi dan
gaya berkomunikasi.
Kaki Raung,29/6/2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...
-
MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Dimasmul Prajekan "Kami mau berubah, Pak Menteri", kata Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rasyidi,M.Pd, di ...
-
PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN oleh.Dimasmul Prajekan Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso Masih ingatkah kita, ketika kaum guru l...
-
KUALITAS KEMATIAN Oleh.Dimasmul Prajekan Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar