Sabtu, 03 Maret 2018

MENAKAR KECERDASAN EMOSIONAL PADA KADER

MENAKAR KECERDASAN EMOSIONAL PADA KADER
Oleh : Dimasmul Prajekan*

Eksistensi PGRI dengan pengalaman yang seabrek terkait guru dan pendidikan akan menjadikan PGRI lebih matang dan arif menghadapi dinamika yang berkembang.Dengan pengalaman mengelola lembaga pendidikan sejak TK hingga Perguruan Tinggi, semakin mengokohkan bahwa PGRI bukan semata organisasi profesi, bahkan sudah melewati kreteria itu. Gedung - gedung sekolah yang bertebaran dibawah naungan pembinaan PGRI menjadi bukti bahwa "organisasi' ini masih eksis dan akan terus eksis sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan waktu. Dan kita yakin PGRI masih akan terus dibutuhkan.
Lebih dari itu, eksistensi PGRI terletak pada para  kader. Gedung - megah, sekolah - sekolah yang mencakar, gedung sekretariat yang menyebar,dalam hitungan detik akan berubah menjadi 'gudang dan bangunan tua' jika tanpa ada kader yang memakmurkannya , tanpa pengurus yang mengurusinya.
Saya punya pengalaman menarik ketika berkhidmat sebagai Pengurus Cabang yang sering diundang Pengurus Kabupaten.Beberapa lama Pengurus Kabupaten belum punya sekretariat. Sehingga tempat rapat atau pertemuan harus berpindah - pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Numpang di ruangan kantor satu ke ruangan kantor lainnya. Tapi, semua itu tak menyurutkan para kader dan pengurus untuk tetap berkhidmat pada PGRI. Seringkali pada Setusi yang penuh keterbatasan muncul militansi kader. Seringkali  pahlawan dan sukarelawan lahir dari suasana yang  penuh penindasan dan himpitan persoalan. Kuatnya rasa memiliki, solidnya gairah berorganisasi yang mendorong para kader untuk keluar dari ketidaknyamanan.
Tapi, disaat terbebas dari penindasan, terlepas dari kesulitan, tengah berada pada zona aman dan nyaman, kadang kita lupa akan perjuangan masa silam. Kita lupa bahwa hari ini adalah keberhasilan dari proses panjang masa silam. Kenyamanan hari ini berawal dari ketidaknyamanan hari kemarin.Seringkali pada zona tidak nyaman banyak melahirkan pahlawan, tapi pada zona aman malah memproduksi pengkhianatan dan ragam pemberontakan. Pada suasana yang penuh keterbatasan begitu mudah merangkai kata sepakat, tapi pada era yang penuh kemudahan  begitu sulit merawat kebersamaan. Setiap kader mencoba menginterpretasikan visi misi organisasi sesuai pikirannya. Di saat interpretasinya merasa tak terwadahi, begitu mudah 'patah' untuk bersama sama dalam satu barisan.
Kita menyadari bahwa organisasi' adalah sebuah sistem yang saling menghidupi antara organ yang satu dengan organ lainnya. Tak perlu ada yang merasa lebih briliant sementara yang lain sudah karatan. Tak perlu ada yang merasa punya pemikiran setinggi langit, sementara yang lain dianggap pemikirannya setinggi langit - langit.
Keberagamanlah yang akan menjadikan para kader lebih arif dan dewasa. Perbedaan orientasi, pilihan strategi perjuangan, style kepemimpinan adalah hal biasa. Disaat para pengurus tak linear dengan pikiran pribadi kita,bukan berarti  sebagai sebuah kelemahan. Padahal para Pengurus bergerak berdasar konggres, konferensi kerja, pertemuan pertemuan penting lainnya.
Disinilah yang perlu dipertajam. Ide - ide segar, pemikiran pemikiran yang mengedepan, sejatinya harus mengalir bebas lewat forum forum resmi organisasi. Upaya menggunakan panggung jalanan harus menjadi pilihan pamungkas ketika semua pintu komunikasi sudah terasa buntu. Diskusi diskusi kreatif lewat sosmed harus saling mengisi bukan malah saling memprovokasi, dan saling menghabisi. Disinilah kita bisa menakar kecerdasan emosional para kader.
Militansi, dan kesabaran berkomunikasi dengan diksi yang sesuai dengan setuasi menjadi tantangan tersendiri bagi para kader. Kehebatan seorang kader jangan sampai ambruk disebabkan salah memilih diksi dan gaya berkomunikasi.

Kaki Raung,29/6/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...