POLITIK PGRI DAN PGRI POLITIK
Oleh: Dimasmul Prajekan
Tuntas
sudah perhelatan agung Rakorpimnas II PGRI di Yogyakarta. Para peserta
telah kembali ke kampung masing - masing. Sampai dikampung para peserta
tak kan disambut seperti orang pulang dari Mekah yang mendapat pelukan
dan tangis keharuan.Tak ada konvoy dan bunyi rebana yang menyambut
kedatangannya.
Tapi para peserta Rakorpimnas akan disambut dengan
serenteng pertanyaan tentang hasil - hasil perjuangan di medan tempur
Rakorpimnas. Para guru begitu lebay berharap Rapat koordinasi kali ini
menjadi jawaban yang memuaskan atas permasalahan guru selama ini.
Padahal Rakorpimnas bukanlah eksekutor pemegang palu, yang dapat
memutuskan masalah secara instan.
Ya maklum saja para anggota di
daerah yang seringkali menjadi 'victim' yang mengerikan atas berbagai
kebijakan yang selalu meresahkan,ingin keluar dan bisa bernafas lega.
Terlalu
utopia jika Rakorpimnas dianggap mampu menjawab segalanya. Paling
banter Rakor hanya menjadi Ibu yang melahirkan sebuah rekomendasi untuk
diteruskan kepada eksekutif.
Kehadiran Presiden RI, Ir.Joko Widodo di
tengah Rakorpimnas paling tidak mampu menjadi pelipur lara dan obat
penenang terhadap ribuan peserta yang memadati Aula Indraprasta Sahid
Jaya. Paling tidak seragam PGRI yang dikenakan RI 1, menjadi penebar
ketenangan para peserta.
Dengan diksi yang yang tertata rapi,
Ketua Umum PB PGRI mencoba mengkomunikasikan harapan para anggota dengan
santun dan komunikatif. Pak Jokowi pun, memilih narasi - narasi yang
banyak mengandung nuansa motivasi. Sang Presiden ternyata bisa juga loh
menjadi trainer dan motivator bagi peserta Rakorpimnas. Ada yang
memaknai sambutan Presiden terlalu normatif, ada yang menilai terlalu
datar, dan kurang gempar.
Belum lagi Dirjen GTK yang berhalangan
hadir dan diwakilkan kepada seorang Direkturnya, menjadikan acara
terasa hambar. Sebab rasa haus para peserta untuk berdiskusi dengan Pak
Kumis sudah tak tertahankan. Tapi ujung -ujungnya Sang Dirjen gagal
hadir gagal paham permasalahan guru. Hingga disini para peserta harus
mengurut dada atas setuasi yang mengecewakan ini.
Pada sisi lain,
Sang Srikandi, Dr.Unifah Rasyidi yang digempur segudang pertanyaan
peserta, harus sabar menjawabnya. Kendati sejatinya Bu Unifah hanyalah
pemegang bola, yang akan ditendang ke gawang lawan. Apa yang sudah
dilakukan struktur dibawa payung PB PGRI sudah on the track. Dialog,
loby, curahan hati, rekomendasi, mempertautkan harapan, membangun
kesamaan persepsi dengan segenap petinggi negeri menjadi justifikasi
bahwa PGRI terus bergerak. Peran dan gerakan seperti inilah yang patut
dipertahankan. Inilah corak gerakan PGRI.Inilah politik PGRI.Gaya
berkhidmat dan berkarya yang sudah banyak berkontribusi dalam tegak
robohnya pendidikan negeri ini, tak perlu sungkan untuk memberikan
pandangan -pandangannya dalam mempercepat kemajuan pendidikan di
Indonesia.PGRI ibarat air yang harus masuk ke pori - pori pendidikan
sehingga melahirkan suasana yang lebih segar. PGRI harus menjadi angin
yang mampu mengisi ruang -ruang hampa dan pengap. PGRI harus menjadi
solusi dari segerobak persoalan panjang yang tak hendak
selesai.Disinilaj diperlukan kebeningan mata hati para punggawa negeri
untuk menerima masukan yang berarti dari PGRI.
Pada saat yang
bersamaan, ketika ruang mengabdi menjadi terlalu sempit, medan jihad
pendidikan terlalu pengap, diperlukan medan berkontribusi yang lebih
luas. Kader - kader unggul dan handal PGRI yang selama ini piawai
melakukan terobosan perlu didorong untuk untuk berkhidmat pada tataran
yang lebih luas. Tentu bukan phobia ,jika ada ruang kosong lalu PGRI
mengisinya. Jika ada celah untuk menjadi Kabid, Kadin,Camat, Bupati,
Gubernur kenapa tidak. Bahkan yang memiliki libido politik untuk masuk
di Senayan kenapa tidak. Saya hanya teringat satu kata Sang Ketua Umum
di Rakorpimnas kemarin, Rebut !
Bersiap - siaplah memasuki episode
baru, era disruption, guru menunjukkan kemampuan memimpinnya yang serba
bisa. Andakah itu.? Semoga.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...
-
MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Dimasmul Prajekan "Kami mau berubah, Pak Menteri", kata Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rasyidi,M.Pd, di ...
-
PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN oleh.Dimasmul Prajekan Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso Masih ingatkah kita, ketika kaum guru l...
-
KUALITAS KEMATIAN Oleh.Dimasmul Prajekan Kematian? Sekian juta orang tentu tak menghendakinya. Kalau ada pilihan antara kematian dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar