Jumat, 02 Maret 2018

PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN



PGRI DAN PERJUANGAN ANGGARAN
oleh.Dimasmul Prajekan
Sekretaris Kabupaten PGRI Bondowoso

Masih ingatkah kita, ketika kaum guru lebih identik dengan sebutan Umar Bakri? Sepeda butut, standing dan terbang. Nasibnya seperti bernafas dalam lumpur. Gaji guru tak cukup hidup sebulan. Di dunia pendidikan yg lebih luas, betapa banyak bangunan fisik sekolah hampir ambruk, kumuh. Fasilitas begitu minimalis. Ruang perpus tak ada, lapangan olah raga tak punya. Ya maklum saat itu APBN mengalokasikan anggaran untuk pendidikan tak lebih 8 %. Apa yag bisa diperbuat dengan anggaran sebesar itu. Pantas kalau kualitas pendidikan kita nomor bontot.
Tepat tgl 1 Mei 2007, PB PGRI menggugat pemerintah melalui MK. Pemerintah dianggap melakukan pelanggaran konstitusionl. UUD 1945, pasal 31 telah mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengalokasikan sekurang kurangnya 20 % dari APBN APBD untuk pendidikan. Dan MK saat itu ternyata memenangkan gugatan PB PGRI. Luara biasa, dalam waktu tak lama,perubahan besar besaran terjadi. Pemerintah, tidak bisa tidak harus mengamini kemenangan PGRI. Anggaran 20 % akhirnya menjadi kenyataan. Kita lihat di lapangan, ribuan gedung perpustakaan dibangun, ruang kelas baru didirikan, bantuan alat kesenian, olah raga, perangkat teknologi informasi dihadirkan. Pelatihan guru guru begitu marak, Gedung LPMP, P4TK, hotel hotel ramai dengan aktifitas peningkatan profesionalitas guru. Bea siswa untuk kualifikasi akademik setara S1, beasiswa S2, begitu menggeliat. Lebih lebih pengucuran dana Tunjangan Profesi Guru, menjadi headline di media. Program program baru lahir, UKG, Diklat.Guru Pembelajar,........ Kurikulumpun harus disegarkan. Tentu semua itu karena besanya anggaran pendidikan kita. Pernahkah kita membayangkan jika kita pada anggaran pendidikan seputar 8 %. Adakah diantara kita yang berani mengkampanyekan profesionalisme guru, bea siswa,dan..........
Heeemmmmm. Ketika Menkeu Sri Mulyani akan menunda pembayaran TPP, banyak teman yang menelpon saya. "Bagaimana PGRI kok tidak bergerak?" Saya tersenyum sendiri, tapi saya merasa senang karena PGRI masih menjadi rumah tumpuan untuk nasib dan perjuangan kaum guru. Nah, kalau kita menyadari makna perjuangan, kita perlu kekompakan, soliditas. Karena tidak ada sejarah kemenangan tegak diatas keterceraiberaian. Kita perlu bersatu. Tapi untuk bersatu begitu sulit,rumit, bak benang kusut. Ya akhirnya PGRI harus berjuang sendirian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pilkada Berkah Demokrasi Bermakna Dimasmul Prajekan" Setiap datang hajat lima tahunan, selalu saja bersua dengan warna warta dan ragam ...